Konten dari Pengguna

Spektrum Pendidikan Ulang Tahun

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Merdeka.com
zoom-in-whitePerbesar
Merdeka.com

Setiap orang memiliki ingatan masa lalu yang terkait dengan dirinya. Ingatan itu bukan terletak pada aspek sejarah pertumbuhan, perkembangan dan keberhasilan seseorang, namun masa di mana setiap orang bertemu dengan momen waktu dilahirkannya.

Momen itu, hampir semua orang mengingatnya. Karena hari itu adalah hari spesial untuk dirinya yang membawa ingatan belasan, bahkan puluhan tahun ke belakang. Hari lahir yang tercatat dalam KTP, KK dan identitas lainnya, bukan sekadar menumpang data pribadi. Namun, jauh dari itu sebagai pengingat momen sejarah kebertuhanan.

Menit dan jam yang sudah berlalu, dalam dimensi waktu tentu sudah hilang seiring aktivitas yang menyertainya. Tapi, waktu yang sudah menjadi sejarah itu berubah eksistensinya menjadi data sejarah yang dibisa dibuka kembali oleh Sang Pemilik waktu.

Setiap orang yang bertemu dengan hari lahir, hakikatnya ia ketemu dengan tumpukan data yang sudah disimpan di masa lalu, lalu ditambah dengan data yang baru dibuat. Data yang baru dibuat itu adalah data yang masih hangat dan tidak membutuhkan validasi ahli.

Jika ulang tahun hanya diisi dengan menunggu ucapan selamat, makan-makan dan perayaan lainnya, sebenarnya itu sedang mengisi ritual tampilan lahir yang terjebak pada hedonisme dunia semu. Ulang tahun adalah hari di mana melakukan renungan, introspeksi, hajatan evaluasi dan menata ulang kembali waktu yang akan dijalani ke depan.

Ulang tahun tidak boleh lepas dari akar sejarah seseorang. Akar sejarah itu berupa kembali mempertanyakan kesetiaan ruh yang sudah berkomitmen mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Ketika hari lahir tiba, sejatinya ingatan terhadap komitmen itu harus semakin kuat, bukan semakin lemah.

Ulang tahun yang diisi dengan menyewa rumah makan, tempat hiburan, meniup lilin dan memberi makanan kepada orang lain tidak menjadi jaminan komitmen ketuhanannya semakin kuat, bisa jadi semakin lemah.

Apalagi dalam ritual ulang tahun sambil memperlihatkan kehebatan dan kekayaan ekonomi yang dimilikinya, ini justru akan semakin memperlemah kondisi ruh bertemu dengan komitmen yang sudah direkam apik puluhan tahun silam.

Agar rekaman tetap bening dan jernih ketika disetel, maka perlu melakukan tobat hari lahir sebagai bentuk menyiram data masa lalu dengan penyesalan yang tidak akan mengulang kembali sejarah yang tidak prospektif itu.

Memori masa lalu dalam setiap kali perjumpaan dengan hari lahir, harus diraba kembali dengan istigfar dan salat tobat, agar kembali jernih ketika ditampilkan oleh yang Maha Kuasa. Dari sini diajarkan oleh jeda waktu satu tahun ke depan, bahwa waktu yang akan dijajaki itu harus berbasis rekaman memori yang indah untuk ditampilkan.

Jika hanya mengulang dengan mode dan aktivitas yang sama tanpa pembaharuan, maka manusia itu telah merugi. Agar tidak merugi, setiap aktivitas yang bertaut dengan waktu harus diisi oleh pesan-pesan ilahiah.

Pesan ilahiah itu, dalam setiap aktivitas kehidupan sehari-hari perlu dicap dengan kalimat yang membukakan pintu keberkahan dan mengandung nilai ibadah, yaitu dengan nama Allah yang terucap dalam kata “Bismillah hirrahman nirrahiim.”

Artinya, kalimat itu selalu didengungkan dalam setiap agenda sehari-hari, agar bernilai dan memberi berkah. Di sisi lain, kalimat itu mengajarkan bahwa kehidupan itu mesti diisi dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Karena tidak mungkin seseorang yang akan berbuat sesuatu yang menodai agama, lisan dan mulutnya membasahi dengan kalimat pemberi berkah, bismillah.

Kalau aktivitasnya bercampur baur antara jelas dan yang tidak jelas. Antara yang halal dan tidak haram. Maka, sebaiknya cepat-cepat mengingat kembali komitmen ketuhanan yang sudah disimpan dalam hati, agar ulang tahun tidak sekadar perayaan, namun menjadi momen untuk memperkuat fitrah ketuhanan. Semoga bermanfaat.