Spirit Muharram dan Kemerdekaan Berbasis Salat Jum'at

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sudah beberapa hari yang lalu, kita sudah melalui tahun baru Hijriyah 1443. Di tahun baru Islam ini, masyarakat muslim tidak begitu terlihat euforia penyambutannya. Barangkali, karena tertutup masa pandemi, jadi tidak begitu tampak.
Meskipun di beberapa tempat dan daerah, terdapat peringatan tahun baru Islam secara sederhana. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana memaknai muharram, yang di dalamnya terdapat peristiwa hijrah manusia yang Agung dan Mulia, Nabi Muhammad Saw, beserta umatnya.
Pada saat yang sama, bangsa Indonesia, beberapa hari lagi ke depan akan dihadapkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai titik keabsahan sebuah bangsa yang berdaulat ke dalam dan ke laur. Sebagai warga negara yang baik, tentu tidak ada larangan memperingati dan sekaligus memaknai kemerdekaan bagi masyarakat Indonesia.
Berjuang melawan penjajah dengan senjata, barangkali sudah selesai. Sekarang berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan ragam aktivitas dan sekaligus memaknai kemerdekaan di era pandemi ini. Di sinilah pentingnya, bagaimana antara peristiwa bulan Muharram dan Kemerdekaan saling berdialog di satu sisi dan di sisi lain ada salat Jum’atan, yang menjadi ibadah agung dan mulia seminggu sekali.
Titik Temu Muharram dan Salat Jum’at
Bulan Muharram adalah bulan Islam yang bersumber pada teks kitab suci (lihat QS al- Taubah; 36). Di dalam bulan Muharram, Nabi Muhammad Saw berencana untuk melakukan hijrah dari Makkah ke Yastrib. Di makkah, Nabi Muhammad Saw beserta umatnya dalam berdakwah banyak mengalami gangguan.
Gangguan tersebut, berupa; cacian, makian, hinaan, ancaman pembunuhan, dan pengusiran. Aktivitas dakwah yang banyak mengalami hambatan tersebut, pada akhirnya Rasullah saw berencana untuk melakukan hijrah ke Yastrib.
Momentuk Hijrah, pada hakikatnya adalah momentum perubahan. Jika dulu Nabi Muhammad Saw hijrah (622 M) secara tempat, maka sekarang kita melakukan hijrah di samping tempat, juga hijrah maknawiyah. Tidak menutup kemungkinan, hijrah tempat bagi kita masih diperlukan, khususnya hijrah tempat tinggal dan juga hijrah pekerjaan, dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya.
Sementara Hijrah maknawiyah adalah berpindahnya perilaku dari yang tidak baik menjadi baik. Dari baik menjadi lebih baik. Dan seterusnya. Di hari Jum’at ini, marilah kita hijrah maknawiyah. Hijrah maknawiyah, apabila diseru untuk salat Jum’at bersegera bangkit.
Bangkit dan meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakukan pada waktu itu, sebagaimana Firman Allah Swt dalam QS. al-Jumu’ah ayat 9. Bangkit dan segera melaksanakan salat Jum’at adalah bentuk dari hijrah maknawiyah.
Namun, dalam pandangan Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar, cukuplah hamba Allah sudah mendapatkan seruan berupa ayat al-Qur’an QS. al-Jumu’ah tersebut, bukan berarti mendengar adzan dzuhur di waktu hari Jum’at langsung bangkit, tetapi persiapan bangkit sudah diketahui sebelumnya lewat seruan dari ayat Allah Swt.
Titik Temu Kemerdekaan dan Salat Jum’at
Kemerdekaan bagi bangsa dan masyarakat Indonesia adalah hadiah dari Allah Swt. Jika bukan karena Allah sangat sayang kepada bangsa Indonesia, kemerdekaan tidak akan terwujud melalui usaha manusia, meskipun lewat mengangkat senjata ala kadarnya dan bambu runcing sebagai bentuk usaha manusia.
Kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah 76 tahun tersebut, memang secara fisik sudah 76 tahun yang lalu. Tetapi, kemerdekaan dalam arti kontekstual dan maknawiyah masih terus berlangsung sampai hari ini. Merdeka hari ini, jika dihubungankan dengan kita sebagai hamba Allah, maka ketika dikumandangkan adzan atau ketika hari ini hari Jum’at, kita langsung menghampiri mesjid untuk mendekat kepada Allah. Kita tidak boleh terjajah dan terbelenggu oleh kehidupan yang sementara ini dan kita juga tidak boleh terbelenggu oleh pekerjaan yang tidak akan kekal ini.
Tetapi sing sing kanlah persiapan untuk beribadah salat Jum’at. Mulai Jum’at pagi sudah membersihkan badan, memakai pakaian bersih, memakai wangi-wangian disertai membeperbanyak dzikir dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan persiapan seperti itu, kita berharap semoga amal ibadah kita mendapat nilai dan tentunya diterima oleh Allah Swt.
Kesimpulan
Allah menurunkan dan menghadirkan peristiwa sejarah Muharram dan Kemerdekaan RI dan di sisi lain ada ibadah mingguan berupa Jum’atan, bukan tanpa dan maksud dan tujuan yang jelas. Lewat Muharram, yang di dalamnya ada peristiwa hijrah dan 17 Agustus 1945 yang di dalamnya ada kemerdekaan RI. Kedua peristiwa tersebut, mengajak kita semua untuk sama-sama mengubah diri dari yang tidak baik menjadi baik. Dari yang baik menjadi lebih baik dan yang tadinya melalaikan salat dengan berlambat-lambat datang ke mesjid untuk melaksanak Jum’atan, menjadi datang dengan penuh semangat serta persiapan Jum’at yang dimulai semenjak pagi hari.
Disarikan dari Khutbah Jum’at,13 Agustus 2021, Mesjid Al-Ikhlas Joglo, Jakarta Barat.
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang
