Konten dari Pengguna

Sya’ban dan Pendidikan Kemanusiaan

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MUI Pusat, FB.
zoom-in-whitePerbesar
MUI Pusat, FB.

Islam adalah perangkat dan sekaligus sebuah system hidup bagi umat manusia, khususnya manusia yang sudah tunduk kepada-Nya. Ketundukkan manusia ditunjukkan dalam praktik kehidupan beragama. Mulai dari syahadat, salat, zakat, puasa dan menemui baitullah bagi yang mampu.

Setelah tunduk, manusia terikat dengan system agama. Keterikatan agama dalam diri manusia bukan untuk mempersulit ruang gerak manusia, justru untuk mempermudah dan memberi kebahagian sejati.

Buktinya, dalam setiap perintah dan larangan dalam agama selalu ada makna dan hikmah besar untuk keberlangsungan hidup manusia, termasuk hadirnya bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam hitungan tahun komariah.

Di bulan itu paket ayat tentang puasa Ramadan diturunkan oleh Allah pada hari Senin di tahun kedua hijriyah. Pertanyaannya, kenapa ayat tentang puasa turun di bulan Sya’ban? Kenapa tidak tidak turun di bulan Ramadan saja? Agar perintah yang masih hangat itu bisa langsung dilaksanakan.

Agama Islam, sungguh agama yang memanusiakan manusia. Ia tidak hadir untuk memaksa manusia sekaligus, namun hadir ke dalam kehidupan manusia secara bertahap. Ibaratnya, Sya’ban ini adalah tangga kedua. Sedangkan tangga pertamanya bulan Rajab dan finisnya di bulan Ramadan.

Allah Maha Mengetahui kemampuan manusia. Allah Maha Adil dan Bijaksana dalam memberi perintah dan larangan untuk manusia. Agama Islam benar-benar agama rasional, sangat terukur dan presisi untuk kemanfaatan umatnya.

Apa jadinya, jika kewajiban puasa hadir di bulan Ramadan dan bulan itu juga langsung dilaksanakan? Sudah pasti akan banyak masalah dan menuai pembangkangan dari manusia. Hadir bertahap saja kewajiban puasa, masih banyak yang tidak menjalankan puasa. Apalagi kewajiban puasa hadir secara tiba-tiba, risikonya sangat rentan mendapatkan perlawanan.

Selain ayat paket puasa turunnya di bulan Sya’ban, juga Sya’ban itu sendiri adalah bulan persiapan dan latihan. Dalam konteks sejarah masa lalu orang-orang Arab, jauh sebelum kedatangan Islam, bulan Sya’ban dipakai oleh masyarakat Arab untuk mencari air.

Pada waktu itu, masyarakat Arab berpencar-pencar dan berkelompok-kelompok pergi ke sana kemari untuk mencari air. Kenapa mencari air? Karena bulan Ramadan adalah musim kemarau, cuaca menyengat panas dan terik matahari membakar kulit.

Jika ditelusuri lebih dalam kemanusiaan yang tersirat dalam persiapan puasa Ramadan menjadi double alias ganda, bahkan tiga. Posisi letaknya gandanya pada “bulan Sya’ban adalah waktu turunnya paket ayat tentang puasa. Sementara Sya’ban itu sendiri adalah bulan persiapan dan sekaligus bulan latihan puasa menurut jejak contoh Nabi Muhammad SAW.”

Kemanusiaan agama dalam kasus di atas, tidak hanya manusiawi, namun agama kemanusiaan yang hadir memanusiakan tiga kali lipat. Ini artinya agama Islam itu betul-betul triple bijakasana dalam setiap kali memerintah suatu perintah.

Dalam kasus puasa, sebelum puasa Ramadan ada puasa pertengahan bulan; tanggal 13,14 dan 15. Lalu ada puasa Asyura dan puasa selang sehari yang disebut dengan puasa Nabi Daud AS. Ini semata-mata untuk latihan sebelum diwajibkan full perintah puasa satu bulan penuh.

Karakter inilah seharusnya merembes ke dalam diri setiap manusia yang sudah mengaku beriman. Orang beriman adalah orang yang sikapnya betul-betul bisa memanusiakan manusia. Jangankan manusia, hewan dan tetumbuhan pun diberikan sentuhan oleh agama yang benar-benar prik kehawanan dan prik tetumbuhan.

Buktinya, saat Idul Adha ketika memotong hewan kurban agama memerintahkan kepada yang memotong hewan kurban untuk mempertajam pisau atau goloknya. Hal Ini agar ketika memotong, hewan kurban tidak kesakitan.

Begitu pun pada tetumbuhan, agama melarang mematahkan ranting dan pohon sembarangan, kecuali memang sangat diperlukan. Inilah agama Islam yang indah dan sangat memanusiakan manusia dan segala isi yang terkandung di alam semesta turut diperhatikan seutuhnya. Semoga bermanfaat.