Biopori untuk Kehidupan: Aksi Nyata Peduli Lingkungan

Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padajadjaran
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Asep Yusuf dan Feri Usman Ginanjar- Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran
Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, melainkan semua orang termasuk pelajar di dalamnya. Pelajar sebagai generasi muda memegang peranan penting dalam keberlanjutan lingkungan. Menyadari pentingnya membangun kesadaran lingkungan, SMAN 1 Cileunyi mengambil langkah konkret melalui sebuah program edukatif bertajuk “Biopori untuk Kehidupan”. Program ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga gerakan kolektif yang melibatkan OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) untuk terjun langsung mengenal, memahami, dan menerapkan Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai solusi sederhana namun bermanfaat dalam konservasi air dan pengelolaan lingkungan, khususnya penanganan sampah organik.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari inisiatif sekolah untuk menjadi sekolah yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membiasakan praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Workshop ini dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu sesi pemaparan teori di dalam kelas dan sesi praktik di lapangan. Sesi teori diisi oleh narasumber dan tim guru pembina kesiswaan. Sedangkan sesi praktik dilaksanakan di area taman sekolah dan halaman terbuka dengan melibatkan seluruh peserta workshop secara aktif.
Pada sesi pertama, kegiatan dibuka oleh Kepala sekolah, kemudian para peserta mengikuti pemaparan teori di ruang kelas yang disampaikan oleh narasumber didampingi oleh tim guru pembina kesiswaan (Gambar 1). Materi yang disampaikan mencakup pengertian dan fungsi biopori, manfaat ekologis dan sosial, serta langkah-langkah teknis dalam pembuatannya. Diskusi berlangsung interaktif. Siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif bertanya mengenai efektivitas biopori dalam mencegah banjir, potensi penyerapan air, hingga pengelolaan sampah daun yang biasa menumpuk di sekitar sekolah. Kegiatan ini menjadi jembatan penting bagi siswa untuk mengaitkan teori dengan permasalahan nyata yang dialami sehari-hari.
Biopori bukanlah teknologi baru, tetapi masih belum banyak dipahami dan diterapkan secara luas, terutama di lingkungan sekolah. Biopori merupakan lubang resapan air berbentuk vertikal ke dalam tanah yang berfungsi untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan. Selain membantu mengurangi genangan, biopori juga berfungsi sebagai tempat pengomposan alami, karena lubang tersebut dapat diisi dengan sampah organik seperti daun dan sisa makanan yang akan membusuk dan memperkaya unsur hara tanah. Dengan demikian, biopori memiliki dua manfaat sekaligus: mengurangi limbah dan memperbaiki kualitas tanah.
Dalam pemaparan materi, siswa diajak untuk memahami bahwa salah satu penyebab utama banjir di kawasan perkotaan dan pemukiman padat adalah hilangnya ruang resapan air. Permukaan tanah yang tertutup oleh aspal, beton, dan bangunan membuat air hujan tidak dapat meresap dengan baik ke dalam tanah. Akibatnya, air meluap ke saluran drainase dan menimbulkan genangan. Dengan membuat lubang biopori secara sistematis, daya resap tanah bisa ditingkatkan secara signifikan. Antusiasme peserta workshop terlihat sejak awal sesi. Beberapa siswa mengaku baru pertama kali mendengar istilah “biopori” secara detail, meskipun sebelumnya sempat melihatnya di media sosial atau buku pelajaran. Kegiatan ini menjadi pencerahan bahwa hal sederhana seperti menggali lubang bisa membawa dampak besar bagi lingkungan. Setelah para siswa mendapatkan materi di dalam kelas, selanjutnya para siswa dikenalkan dengan alat dan bahan yang diperlukan serta diajak untuk mempersiapkan alat dan bahan tersebut (Gambar 2). Setelah alat dan bahan siap, selanjutnya siswa diberikan penjelasan dan contoh cara mebuat lubang menggunakan bor tanah (Gambar 3)
Setelah mendapatkan pemahaman teoritis, peserta workshop dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan diarahkan untuk membuat lubang biopori di berbagai titik di area sekolah. Lokasi pembuatan dipilih berdasarkan kriteria potensi genangan, keberadaan pohon, dan kemudahan akses. Dengan alat bor manual, para siswa mulai menggali lubang sedalam 50 cm dengan diameter 12 cm, memasang pipa dan memasukkan sampah organik (Gambar 4). Meski tampak sederhana, kegiatan ini membutuhkan kerja sama dan koordinasi. Para siswa bergantian menggali, membersihkan lubang, dan mengumpulkan sampah organik dari sekitar halaman sekolah untuk dimasukkan ke dalam lubang biopori.
Bukan hanya sekadar menggali tanah dan mengisinya dengan sampah organik, kegiatan ini juga menjadi momen kolaboratif antar siswa. OSIS dan MPK bekerja sama dalam merancang zona resapan yang efektif, sekaligus membuat dokumentasi untuk disosialisasikan kepada kelas masing-masing. Dengan begitu, gerakan biopori tidak berhenti di workshop saja, melainkan berlanjut dalam bentuk kampanye internal sekolah. Melalui “Biopori untuk Kehidupan”, SMAN 1 Cileunyi menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil dan dari lingkungan sekolah. Diharapkan, semangat ini dapat menular ke yang lain dan menjadi bagian dari gerakan kolektif untuk menghadirkan bumi yang lebih lestari di masa depan.
