Konten dari Pengguna

Nanobubble: Definisi, Klasifikasi dan Potensi Penerapnnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Asep Yusuf – Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran

Teknologi nanobubble merupakan salah satu inovasi dalam bidang sains dan rekayasa fluida yang berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Nanobubble didefinisikan sebagai gelembung gas berukuran sangat kecil, umumnya berada pada skala nanometer (kurang dari 1 mikrometer), yang memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda dibandingkan gelembung konvensional. Keunikan utama nanobubble terletak pada stabilitasnya yang tinggi di dalam cairan, sehingga mampu bertahan dalam waktu yang relatif lama tanpa segera naik ke permukaan dan pecah sebagaimana pada gelembung berukuran besar.

Klasifikasi ukuran gelembung secara ilmiah telah distandarisasi dalam ISO 20480-1:2017, yang membagi gelembung menjadi tiga kategori utama, yaitu makrobubble (>100 µm), mikrobubble (1–100 µm), dan ultrafine bubble atau nanobubble (<1 µm). Gambar 1 menunjukkan spektrum ukuran gelembung sekaligus hubungan antara ukuran dan stabilitasnya di dalam fluida.

Gambar 1. Klasifikasi ukuran gelembung: (a) Ukuran spektrum nanobubble berdasarkan stabilitas;(b) Klasifikasi diameter gelembung (Sumber: ISO 20480-1:2017)

Secara fisik, ukuran gelembung berpengaruh langsung terhadap dinamika perilakunya. Makrobubble memiliki gaya apung yang besar sehingga cepat naik ke permukaan dan mengalami pecah. Sebaliknya, mikrobubble cenderung mengalami penyusutan akibat difusi gas ke dalam cairan. Nanobubble menunjukkan perilaku yang berbeda, yaitu memiliki stabilitas tinggi akibat ukuran yang sangat kecil, tekanan internal yang tinggi, serta fenomena muatan permukaan (zeta potential) yang mencegah koalesensi. Karakteristik ini menyebabkan nanobubble dapat tetap terdispersi dalam cairan dalam jangka waktu lama, sehingga meningkatkan efisiensi transfer massa antara gas dan cairan.

Pemahaman mengenai karakteristik Nanobubble diperkuat melalui ilustrasi aplikasi nanobubble yang disajikan pada Gambar 2, dimana digambarkan hubungan antara ukuran gelembung, distribusi dalam cairan, serta aplikasi praktisnya.

Gambar 2. Karakteristik dan Aplikasi Nanobubble (Sumber: Jhon Talon)

Dalam konteks aplikasi, ukuran nanobubble yang sangat kecil memungkinkan terbentuknya jumlah gelembung yang jauh lebih banyak dalam satuan volume tertentu, sehingga menghasilkan luas permukaan spesifik yang tinggi. Hal ini berdampak pada peningkatan efisiensi transfer oksigen atau gas lainnya ke dalam cairan. Oleh karena itu, teknologi nanobubble banyak dimanfaatkan dalam berbagai sektor, seperti pengolahan air untuk meningkatkan kualitas dan kadar oksigen terlarut, remediasi lingkungan, serta sistem pertanian hidroponik untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Selain itu, teknologi ini juga diaplikasikan dalam industri minuman, sistem pendingin (cooling tower), dan proses sterilisasi. Dengan demikian nanobubble memiliki potensi luas sebagai solusi berbasis sains untuk berbagai kebutuhan industri modern.

Hubungan antara sifat fisik dan kimia nanobubble seperti: ukuran, stabilitas, potensi permukaan hidrofobik, serta kemampuan transfer massa, dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari pengolahan air hingga aplikasi biomedis sperti yang disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Aplikasi Teknologi Nanobubble Berdasarkan Karakteristiknya (Sumber: Han et al)

Berdasarkan Gambar 3, aplikasi nanobubble sangat erat kaitannya dengan karakteristik dasarnya. Ukuran yang sangat kecil dan luas permukaan yang besar meningkatkan efisiensi transfer massa, sehingga efektif dalam pengolahan limbah gas dan cair. Stabilitas tinggi memungkinkan nanobubble bertahan lama di dalam air, mendukung proses desinfeksi air dengan konsentrasi ozon rendah untuk membunuh mikroorganisme seperti Escherichia coli. Selain itu, kemampuan menghasilkan radikal bebas berkontribusi dalam remediasi tanah dan air tanah. Sifat hidrofobik permukaan nanobubble juga meningkatkan kemampuan adsorpsi, sehingga efektif dalam proses pembersihan (cleaning) dengan mengangkat polutan dari permukaan. Dalam bidang teknik, karakteristik ini dimanfaatkan untuk mengurangi hambatan/ gaya gesek pada kapal (ship drag reduction). Sementara itu, dalam bidang biomedis, nanobubble berfungsi sebagai agen pencitraan serta media penghantaran bahan terapeutik. Dengan demikian, keterkaitan antara karakteristik fisik dan kimia nanobubble menjadi kunci utama dalam menentukan luasnya spektrum aplikasinya di berbagai sektor.