Konten dari Pengguna

Ketika Skripsi Bukan Lagi Sekadar Tugas Akhir

Ashfa Mawaddati

Ashfa Mawaddati

Saya adalah Mahasiswi Aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Dikenal sebagai, pribadi yang kreatif, dan disiplin.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ashfa Mawaddati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi skripsi. Foto: Aewphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi skripsi. Foto: Aewphoto/Shutterstock

Di balik toga dan wisuda yang terlihat membanggakan, ada banyak mahasiswa yang sebenarnya sedang berjuang sendirian menghadapi tekanan akademik. Salah satu fase yang paling menguras energi adalah skripsi. Bukan hanya soal penelitian atau revisi, melainkan juga tentang rasa takut gagal, overthinking, dan ekspektasi yang terus menumpuk.

Banyak mahasiswa terlihat baik-baik saja di luar, padahal di dalam kepalanya penuh pertanyaan:

“Kalau aku telat lulus bagaimana?”

“Kalau dosen pembimbing kecewa?”

“Kalau ternyata aku tidak cukup pintar menyelesaikan ini?”

Ada yang setiap hari membuka laptop, tetapi malah menangis karena bingung harus memperbaiki bagian mana lagi. Ada yang berkali-kali merevisi sampai merasa semua yang dikerjakannya selalu salah. Ada juga yang terlihat aktif dan tersenyum di media sosial, padahal diam-diam sedang takut menghadapi sidang dan merasa dirinya tertinggal dari teman-temannya.

Di titik tertentu, skripsi bukan lagi sekadar tugas akhir. Ia berubah menjadi sumber tekanan mental yang pelan-pelan menguras motivasi dan rasa percaya diri mahasiswa. Hari-hari terasa berat, tidur tidak tenang, bahkan membuka chat dosen saja bisa membuat jantung berdebar karena takut mendapat revisi lagi.

Ketika Akademik Bukan Lagi Sekadar Nilai

Ilustrasi menulis skripsi. Foto: justplay1412/Shutterstock

Tekanan akademik sering dianggap hal biasa. Mahasiswa yang stres kerap mendengar kalimat seperti:

“Namanya juga kuliah.”

“Semua orang juga ngalamin.”

“Jangan lebay.”

Padahal, tekanan yang terus dipendam bisa berdampak serius. Sulit tidur, kehilangan semangat, mudah cemas, merasa gagal, hingga mempertanyakan kemampuan diri sendiri menjadi hal yang sering dialami mahasiswa tingkat akhir. Banyak yang akhirnya merasa lelah bukan karena tidak mau berjuang, melainkan karena terlalu lama memaksa dirinya untuk tetap kuat.

Apalagi di era media sosial, mahasiswa juga tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain. Saat melihat teman-temannya sudah sidang, wisuda, atau diterima kerja, muncul rasa tertinggal yang membuat tekanan semakin besar. Skripsi akhirnya terasa seperti perlombaan, bukan proses belajar.

Yang paling melelahkan kadang bukan revisinya, melainkan pikiran sendiri. Overthinking tentang masa depan, takut mengecewakan orang tua, takut dianggap gagal, hingga merasa dirinya tidak sepintar mahasiswa lain. Padahal, setiap orang punya proses dan kemampuan bertahan yang berbeda-beda.

Dukungan Kecil Bisa Sangat Berarti

Dukungan sederhana menjalankan skripsi. Foto: Dokumentasi pribadi

Hal yang sering dilupakan adalah mahasiswa tidak selalu membutuhkan solusi besar. Kadang mereka hanya butuh didengar. Dukungan sederhana seperti teman yang mau menemani revisi sampai malam, keluarga yang tidak terus menekan soal kelulusan, atau dosen yang memberi arahan dengan baik bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Sebab banyak mahasiswa sebenarnya tidak malas, mereka hanya terlalu lelah menghadapi tekanan yang terus datang tanpa jeda. Ada yang tetap mencoba bangun setiap hari meski mentalnya sudah lelah. Ada yang tetap mengerjakan revisi sambil melawan rasa takut dan cemas yang tidak pernah benar-benar hilang.

Akademik Penting, Mental Juga Penting

Ilustrasi akademik. Foto: exam student/Shutterstock

Budaya memaksa diri untuk selalu kuat sering membuat mahasiswa takut mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Padahal, menjaga kesehatan mental bukan berarti lemah. Istirahat sejenak, meminta bantuan, atau bercerita kepada orang terdekat bukan tanda menyerah. Justru itu cara agar seseorang tetap mampu bertahan menyelesaikan prosesnya.

Skripsi memang penting, tetapi kesehatan mental tetap lebih penting. Karena pada akhirnya, lulus tepat waktu tidak akan berarti banyak jika prosesnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

Mahasiswa sering dituntut untuk terus kuat menghadapi tekanan akademik. Namun di balik layar laptop dan tumpukan revisi, ada banyak orang yang sebenarnya sedang berjuang menjaga dirinya agar tidak runtuh. Mungkin yang mereka butuhkan bukan sekadar motivasi, melainkan juga dukungan dan pengertian bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Dan mungkin, di antara banyak mahasiswa yang sedang berjuang itu, ada seseorang yang hari ini terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan sedikit lebih lama lagi.