Kenapa Kita Merasa Dekat dengan Figur Publik di Media Sosial?

Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ashfiatul Mardhiyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika seorang artis mengumumkan pernikahannya, media sosial hampir selalu dipenuhi komentar yang serupa. Ada yang bercanda mengaku patah hati, ada yang merasa cemburu buta, bahkan ada yang benar-benar merasa sedih seolah kehilangan seseorang yang dekat dengannya. Padahal, mereka belum pernah bertemu secara langsung. Sang artis bahkan mungkin tidak mengetahui keberadaan mereka.
Fenomena serupa juga terlihat ketika seorang idol mengumumkan hiatus, seorang influencer menangis dalam sebuah video, atau seorang atlet mengalami kekalahan. Banyak penggemar ikut merasakan emosi yang sama. Mereka merasa bangga ketika idolanya berhasil, ikut marah ketika idolanya dihujat, bahkan rela menghabiskan waktu untuk mencari tahu kehidupan pribadinya, mulai dari makanan favorit, hobi, hingga aktivitas sehari-hari.
Sekilas, perilaku tersebut mungkin terdengar berlebihan. Namun, dari sudut pandang psikologi, fenomena ini sebenarnya memiliki penjelasan yang cukup menarik.
Fenomena Parasocial Relationship di Era Media Sosial
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai parasocial relationship, yaitu hubungan emosional satu arah ketika seseorang merasa dekat dengan figur publik meskipun hubungan itu tidak benar-benar terjadi secara timbal balik. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956 untuk menggambarkan kedekatan yang dirasakan penonton terhadap tokoh televisi. Seiring berkembangnya media sosial, fenomena ini justru menjadi semakin kuat karena interaksi antara figur publik dan pengikutnya terasa jauh lebih personal dibandingkan sebelumnya.
Jika dahulu masyarakat hanya melihat artis melalui televisi atau membaca wawancaranya di majalah, kini hampir seluruh kehidupan figur publik dapat diakses melalui media sosial. Instagram Story, TikTok, vlog, siaran langsung, hingga unggahan keseharian membuat mereka terasa seperti teman yang hadir setiap hari. Kita mengetahui apa yang mereka makan, ke mana mereka pergi, bagaimana mereka merayakan ulang tahun, bahkan bagaimana mereka bereaksi ketika sedang sedih atau bahagia.
Semakin sering seseorang muncul di hadapan kita, semakin besar kemungkinan kita merasa akrab dengannya. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai mere exposure effect, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih menyukai sesuatu hanya karena sering terpapar olehnya. Media sosial membuat paparan tersebut terjadi hampir setiap hari sehingga otak perlahan membangun rasa familiar terhadap figur yang sebenarnya tidak pernah kita kenal secara pribadi.
Selain itu, banyak figur publik kini membangun citra yang terasa sangat autentik. Mereka berbagi cerita tentang keluarga, hewan peliharaan, rutinitas harian, hingga pengalaman pribadi. Bentuk keterbukaan seperti ini menciptakan ilusi bahwa hubungan yang terjalin bersifat personal, padahal informasi tersebut dibagikan kepada jutaan pengikut secara bersamaan.
Namun, apakah parasocial relationship selalu berdampak buruk?
Jawabannya tidak.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan parasosial juga dapat memberikan manfaat. Figur publik dapat menjadi sumber inspirasi, motivasi, bahkan memberikan rasa ditemani bagi orang-orang yang sedang merasa kesepian. Tidak sedikit remaja yang mulai gemar membaca karena mengikuti seorang penulis, terdorong hidup lebih sehat karena mengidolakan atlet, atau termotivasi belajar setelah mengikuti kreator konten edukatif.
Masalah mulai muncul ketika hubungan tersebut berkembang menjadi keterikatan yang berlebihan. Seseorang mulai merasa 'memiliki' figur yang dikaguminya, menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti setiap aktivitasnya, atau merasa kehidupannya ikut dipengaruhi oleh keputusan pribadi figur tersebut. Reaksi emosional terhadap kabar pernikahan, hubungan asmara, atau kontroversi yang melibatkan idol menjadi sangat intens, seolah-olah yang sedang mengalami peristiwa tersebut adalah orang terdekatnya sendiri.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada penggemar K-Pop. Penggemar sepak bola dapat mengalaminya terhadap pemain favoritnya. Penonton setia podcast dapat merasakannya terhadap podcaster yang mereka dengarkan setiap minggu. Pengikut influencer merasa mengenal kehidupan kreator favoritnya. Bahkan, hubungan parasosial juga dapat muncul terhadap tokoh agama, motivator, atau figur publik lainnya. Dengan kata lain, yang membentuk hubungan ini bukanlah profesi seseorang, melainkan intensitas paparan dan keterlibatan emosional yang dibangun melalui media.
Pengaruh Media Sosial
Media sosial membuat batas antara ruang publik dan ruang pribadi menjadi semakin tipis. Kita merasa mengenal seseorang karena melihat potongan-potongan kehidupannya setiap hari. Padahal, apa yang kita lihat hanyalah bagian yang memang dipilih untuk dibagikan kepada publik. Kita tidak benar-benar mengenal mereka secara utuh, sebagaimana mereka juga tidak mengenal kita.
Mengagumi seseorang tentu bukan sesuatu yang salah. Memiliki figur yang menginspirasi bahkan dapat mendorong seseorang berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Yang perlu dijaga adalah batasnya. Ketika perhatian terhadap kehidupan figur publik mulai menguras emosi, mengganggu hubungan dengan orang-orang di sekitar, atau membuat kita merasa memiliki hak atas kehidupan pribadi mereka, mungkin saat itulah hubungan tersebut tidak lagi sehat.
Di era media sosial, kemampuan membangun koneksi memang menjadi lebih mudah. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua rasa akrab berarti sebuah kedekatan yang nyata. Mengikuti perjalanan seseorang boleh saja, selama kita tetap mengingat bahwa hubungan yang paling penting untuk dipelihara adalah hubungan dengan orang-orang yang benar-benar hadir dalam kehidupan kita, bukan hanya mereka yang setiap hari muncul di layar ponsel.
