Konten dari Pengguna

Akuntansi di Era Digital: Ketika Angka Tak Lagi Sekadar Angka

Ashilah Anindya Aryanti

Ashilah Anindya Aryanti

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ashilah Anindya Aryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dari pencatatan manual hingga kecerdasan buatan, teknologi mengubah cara akuntan bekerja tanpa menghilangkan nilai penting manusia dalam membaca data, menjaga etika, dan mengambil keputusan : Generated AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dari pencatatan manual hingga kecerdasan buatan, teknologi mengubah cara akuntan bekerja tanpa menghilangkan nilai penting manusia dalam membaca data, menjaga etika, dan mengambil keputusan : Generated AI

Setiap keputusan bisnis pada akhirnya membutuhkan satu hal yang sering dianggap sederhana: angka. Berapa pendapatan perusahaan? Berapa biaya yang harus dikeluarkan? Apakah bisnis menghasilkan keuntungan? Seberapa besar risiko yang sedang dihadapi?

Di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut terdapat akuntansi.

Namun, akuntansi bukanlah sekadar kegiatan mencatat transaksi, menjumlahkan angka, kemudian menghasilkan laporan keuangan. Sejarah panjang akuntansi justru menunjukkan bahwa bidang ini selalu berkembang mengikuti perubahan cara manusia melakukan kegiatan ekonomi.

Hari ini, perubahan tersebut kembali terjadi. Bedanya, jika dahulu perubahan akuntansi membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun, perkembangan teknologi digital membuat transformasi berlangsung jauh lebih cepat.

Dari Buku Besar ke Layar Digital

Akuntansi memiliki sejarah yang panjang. Praktik pencatatan transaksi telah dikenal sejak masa lampau, sementara sistem pembukuan berpasangan berkembang dalam lingkungan perdagangan Eropa dan kemudian terdokumentasi secara luas melalui karya Luca Pacioli pada 1494. Pacioli bukan pencipta pembukuan berpasangan, tetapi karyanya berperan besar dalam menyebarluaskan dan mendokumentasikan metode tersebut.

Menariknya, prinsip dasar pembukuan berpasangan tetap bertahan hingga sekarang.

Perubahan terbesar justru terjadi pada cara informasi tersebut dikumpulkan, diproses, dianalisis, dan digunakan.

Jika dahulu seorang akuntan harus berhadapan dengan buku, kertas kerja, kalkulator, dan dokumen fisik, saat ini sebagian proses tersebut telah berpindah ke sistem digital. Perangkat lunak akuntansi, komputasi awan, otomatisasi, analitik data, hingga kecerdasan buatan mulai mengubah rutinitas pekerjaan akuntansi.

Dengan kata lain, yang berubah bukan kebutuhan terhadap akuntansi, melainkan cara akuntansi bekerja.

Ketika Teknologi Mengambil Alih Pekerjaan Rutin

Perkembangan teknologi sering menimbulkan pertanyaan: apakah akuntan akan kehilangan pekerjaannya?

Pertanyaan tersebut wajar, tetapi menurut saya terlalu sederhana.

Teknologi memang mampu mengambil alih berbagai pekerjaan yang sifatnya berulang dan berbasis aturan. Input transaksi, rekonsiliasi data, pengelompokan dokumen, hingga proses pelaporan tertentu dapat dilakukan dengan bantuan sistem otomatis.

Sejumlah penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa otomatisasi dan teknologi seperti artificial intelligence, blockchain, analitik, dan decision-support system telah mengubah praktik akuntansi serta mendorong kebutuhan terhadap kemampuan digital baru.

Tetapi justru di sinilah profesi akuntan memperoleh kesempatan untuk naik kelas.

Akuntan tidak seharusnya terus-menerus ditempatkan sebagai “penjaga angka”. Perannya dapat berkembang menjadi analis, penasihat bisnis, pengelola risiko, pengawas tata kelola, dan mitra strategis manajemen.

Mesin dapat membantu menemukan pola dalam data. Namun, manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, menilai risiko, mempertimbangkan etika, dan mengambil keputusan.

Tantangan Sesungguhnya Bukan Teknologi

Menurut saya, persoalan terbesar dalam transformasi digital akuntansi bukan terletak pada kecanggihan perangkat lunak.

Masalah yang lebih serius adalah kesiapan manusianya.

Seorang akuntan yang hanya menguasai teknik pencatatan akan menghadapi tantangan ketika sebagian pekerjaan rutinnya dapat dilakukan secara otomatis. Sebaliknya, akuntan yang memahami teknologi sekaligus memiliki kemampuan analitis, komunikasi, bisnis, dan etika justru memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang.

Karena itu, pendidikan akuntansi juga perlu berubah.

Mahasiswa akuntansi tidak cukup hanya memahami debit, kredit, jurnal, buku besar, dan laporan keuangan. Mereka perlu memahami bagaimana data bekerja, bagaimana sistem digital menghasilkan informasi, bagaimana kecerdasan buatan digunakan secara bertanggung jawab, serta bagaimana informasi keuangan diterjemahkan menjadi keputusan bisnis.

Kajian mengenai masa depan keterampilan profesi akuntansi juga menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki calon akuntan dengan kebutuhan pasar kerja yang semakin membutuhkan kemampuan digital dan teknologi.

Artinya, tantangan terbesar bukan “AI menggantikan akuntan”, melainkan akuntan yang tidak mau berkembang akan tertinggal oleh akuntan yang mampu memanfaatkan AI.

Jangan Sampai Efisiensi Mengalahkan Etika

Ada satu aspek yang tidak boleh hilang dalam digitalisasi akuntansi: etika.

Semakin banyak proses yang dilakukan secara otomatis, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan manusia.

Data keuangan merupakan informasi penting. Kesalahan sistem, manipulasi data, bias algoritma, atau lemahnya keamanan dapat menghasilkan konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan kesalahan pencatatan manual.

Karena itu, transformasi digital harus berjalan beriringan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, keamanan data, dan profesionalisme.

Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas informasi, bukan alasan untuk mengurangi tanggung jawab manusia.

Akuntan masa depan bukan hanya dituntut mampu membaca laporan keuangan, tetapi juga harus mampu bertanya: dari mana data ini berasal, apakah datanya dapat dipercaya, bagaimana data diproses, dan apa konsekuensinya jika keputusan dibuat berdasarkan data tersebut?

Akuntansi Harus Lebih Dekat dengan Dunia Bisnis

Transformasi digital juga membuka peluang untuk mengubah cara perusahaan memandang akuntansi.

Laporan keuangan seharusnya tidak hanya menjadi dokumen yang dibuka ketika akhir bulan, akhir tahun, atau ketika auditor datang.

Dengan teknologi digital, informasi keuangan dapat digunakan lebih cepat untuk membaca kondisi perusahaan. Manajemen dapat memanfaatkan data untuk melihat tren biaya, memperkirakan arus kas, mengidentifikasi risiko, dan mengevaluasi strategi.

Akuntansi dengan demikian bergerak dari fungsi yang bersifat retrospektif menuju fungsi yang semakin analitis dan prediktif. Literatur terbaru mengenai digital accounting bahkan melihat kombinasi big data, Internet of Things, AI, blockchain, dan teknologi lainnya sebagai faktor yang mendorong perubahan menuju otomatisasi dan pengambilan keputusan berbasis data secara lebih cepat.

Inilah peluang terbesar akuntansi di era Industri 4.0.

Akuntan tidak lagi hanya menjelaskan apa yang sudah terjadi, tetapi juga membantu menjawab mengapa hal tersebut terjadi dan apa yang mungkin terjadi berikutnya.

Menjaga Nilai Akuntansi di Tengah Perubahan

Pada akhirnya, teknologi boleh berubah, tetapi tujuan utama akuntansi tetap sama: menyediakan informasi yang dapat dipercaya untuk membantu manusia mengambil keputusan ekonomi.

Dari buku catatan hingga sistem berbasis cloud, dari kalkulator hingga artificial intelligence, perjalanan akuntansi menunjukkan satu pola yang konsisten: akuntansi bertahan karena mampu beradaptasi.

Karena itu, era digital seharusnya tidak dipandang sebagai akhir dari profesi akuntansi. Justru sebaliknya, ini adalah momentum untuk mendefinisikan kembali profesi tersebut.

Akuntan masa depan bukan manusia yang bersaing dengan mesin dalam melakukan pekerjaan yang sama. Akuntan masa depan adalah manusia yang menggunakan mesin untuk melakukan pekerjaan yang lebih bernilai.

Jika dahulu akuntansi membantu manusia memahami angka, maka di era digital akuntansi harus mampu membantu manusia memahami makna di balik angka.

Dan mungkin, di situlah masa depan akuntansi sebenarnya dimulai.