Ketika Anak Dijadikan Konten dan Sumber Uang, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ashilah Anindya Aryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah popularitas media sosial, anak berisiko kehilangan hak atas privasi dan perlindungan ketika kehidupan mereka dijadikan tontonan atau dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Media sosial kini bukan hanya menjadi tempat berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga ruang untuk mendapatkan perhatian, popularitas, bahkan penghasilan. Berbagai konten yang melibatkan anak sering kali menarik simpati penonton dan memperoleh banyak interaksi. Namun, di balik tayangan yang dianggap menarik, muncul pertanyaan penting: apakah setiap konten yang melibatkan anak benar-benar memperhatikan hak dan keselamatan mereka?
Perhatian terhadap persoalan ini kembali menguat setelah video seorang anak berkostum badut yang terlihat tertidur di kawasan Sport Jabar Arcamanik, Bandung, ramai diperbincangkan pada Oktober 2026. Dalam narasi yang beredar, anak tersebut diduga dipaksa mengamen hingga kelelahan. Pemerintah Kota Bandung menyatakan akan menindaklanjuti kejadian tersebut. Meski demikian, dugaan yang beredar tetap perlu diperiksa untuk memastikan kondisi dan latar belakang peristiwa tersebut.
Peristiwa itu membuka pembahasan yang lebih luas mengenai posisi anak dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Anak bukan sekadar objek yang dapat menarik perhatian publik. Mereka memiliki hak untuk tumbuh, belajar, beristirahat, memperoleh perlindungan, serta menjalani masa kanak-kanak tanpa tekanan yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Popularitas tidak boleh mengalahkan hak anak
Konten yang melibatkan anak tidak selalu bermasalah. Banyak orang tua membagikan momen kebersamaan keluarga, kegiatan belajar, atau pencapaian anak dengan tujuan berbagi kebahagiaan. Persoalan muncul ketika kepentingan mendapatkan penonton, popularitas, atau keuntungan mulai mengabaikan kenyamanan, privasi, dan keselamatan anak.
Dalam situasi tertentu, anak mungkin belum memahami konsekuensi dari foto atau video yang disebarkan secara luas. Konten yang terlihat biasa bagi orang dewasa dapat meninggalkan jejak digital yang bertahan lama dan berpotensi digunakan kembali di luar tujuan awal pembuatannya.
Risiko tersebut menjadi lebih serius apabila anak dipaksa melakukan aktivitas tertentu, dipermalukan demi hiburan, atau dilibatkan dalam kegiatan ekonomi yang mengganggu pendidikan dan kesehatannya. Dalam kondisi seperti ini, kepentingan anak seharusnya menjadi pertimbangan utama, bukan jumlah penonton maupun pendapatan yang dihasilkan. Karena itu, orang tua dan pembuat konten perlu mempertimbangkan apakah suatu tayangan benar-benar aman bagi anak. Pertanyaannya bukan hanya apakah konten tersebut menarik, melainkan juga apakah anak memperoleh perlindungan dan apakah privasinya tetap terjaga.
Tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada pengasuhan
Orang tua memiliki peran penting dalam memastikan anak tumbuh di lingkungan yang aman. Peran tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, pendampingan pendidikan, perlindungan dari bahaya, serta pengambilan keputusan yang mengutamakan kepentingan anak. Ketika anak dilibatkan dalam pembuatan konten atau kegiatan yang menghasilkan uang, orang tua perlu memastikan bahwa aktivitas tersebut tidak mengganggu hak-hak dasarnya. Anak tidak seharusnya dibebani tanggung jawab ekonomi keluarga dengan cara yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau perkembangan mereka.
Namun, penanganan persoalan ini juga perlu melihat kondisi keluarga secara menyeluruh. Kesulitan ekonomi, keterbatasan akses pekerjaan, dan minimnya dukungan sosial dapat menjadi bagian dari masalah yang perlu ditangani. Memahami latar belakang keluarga bukan berarti membenarkan tindakan yang merugikan anak, melainkan membantu menemukan solusi yang lebih efektif. Apabila ditemukan dugaan eksploitasi, langkah yang dibutuhkan bukan hanya kecaman di media sosial. Anak perlu memperoleh perlindungan, sementara keluarga harus mendapatkan penanganan sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan mereka.
Platform digital dan masyarakat juga memiliki peran
Tanggung jawab melindungi anak tidak hanya berada di tangan keluarga. Platform digital, pembuat konten, pengiklan, dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan daring yang aman. Platform perlu menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah digunakan, menindaklanjuti konten yang melanggar kebijakan perlindungan anak, serta membatasi penyebaran materi yang mengeksploitasi atau membahayakan anak. Pembuat konten juga harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari materi yang mereka unggah, terutama jika anak ditampilkan dalam situasi rentan. Sementara itu, masyarakat perlu lebih bijak ketika menemukan video yang melibatkan anak dalam kondisi memprihatinkan. Membagikan ulang tayangan tanpa mempertimbangkan privasi dapat memperluas penyebaran identitas anak dan membuat mereka semakin rentan terhadap komentar negatif. Kepedulian dapat diwujudkan dengan melaporkan dugaan pelanggaran melalui saluran resmi, mencari informasi dari sumber tepercaya, dan menghindari penyebaran identitas atau informasi pribadi anak. Dengan begitu, perhatian publik tidak justru menambah beban bagi anak yang sedang membutuhkan perlindungan.
Pemerintah perlu memperkuat perlindungan, bukan sekadar merespons kasus viral
Kasus yang ramai di media sosial sering kali mendorong tindakan cepat dari pemerintah. Respons tersebut penting, tetapi perlindungan anak tidak seharusnya bergantung pada seberapa besar perhatian yang diterima sebuah kasus. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan, menyediakan pendampingan sosial bagi keluarga yang membutuhkan, serta memastikan akses terhadap pendidikan dan layanan perlindungan anak. Koordinasi antara dinas sosial, lembaga perlindungan anak, aparat setempat, dan institusi pendidikan juga perlu berjalan secara berkelanjutan. Selain itu, penanganan harus mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak. Identitas anak perlu dijaga, kondisi mereka harus diperiksa secara hati-hati, dan setiap dugaan pelanggaran harus ditindaklanjuti berdasarkan fakta serta ketentuan hukum yang berlaku. Pendekatan yang hanya berfokus pada penertiban tanpa memahami penyebab masalah berisiko membuat persoalan serupa muncul kembali. Sebaliknya, perlindungan yang disertai pendampingan dan dukungan sosial dapat membantu mencegah anak kembali berada dalam situasi yang merugikan.
Anak bukan alat untuk memperoleh perhatian dan keuntungan
Perkembangan media sosial menghadirkan peluang untuk berbagi cerita dan memperoleh penghasilan. Namun, peluang tersebut harus disertai tanggung jawab, terutama ketika melibatkan anak yang belum sepenuhnya mampu memahami risiko di ruang digital. Ketika anak dijadikan konten atau dilibatkan dalam kegiatan untuk menghasilkan uang, ukuran keberhasilan tidak boleh hanya dilihat dari jumlah penonton, komentar, atau pendapatan. Keselamatan, privasi, pendidikan, kesehatan, dan perkembangan anak harus tetap menjadi prioritas. Pada akhirnya, perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua perlu memastikan pengasuhan yang aman, platform digital harus memperkuat perlindungan pengguna anak, masyarakat perlu menghindari penyebaran konten yang merugikan, dan pemerintah harus menyediakan penanganan yang nyata. Anak berhak mendapatkan masa kecil yang aman tanpa harus menjadi tontonan untuk memperoleh perhatian publik. Sebab, di balik setiap konten yang viral, ada individu yang memiliki hak untuk dihormati, dilindungi, dan tumbuh dengan layak.
