Konten dari Pengguna

Antara Chat dan Perasaan: Teori Komunikasi Interpersonal dalam Relasi Gen Z

ashysa manda

ashysa manda

mahasiswii universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ashysa manda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi penampilan sosial media di era gen z.sumber: dihasilkan menggunakan AI OpenAI (DALL-E) melalui chatGPT
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi penampilan sosial media di era gen z.sumber: dihasilkan menggunakan AI OpenAI (DALL-E) melalui chatGPT

Di era digital seperti sekarang, cara manusia berkomunikasi mengalami perubahan yang signifikan. Generasi Z,yaitu kelompok usia yang lahir sekitar tahun 1995 hingga 2010,tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan media sosial. Mereka tidak asing dengan berbagai platform komunikasi seperti WhatsApp, Instagram, hingga TikTok, yang menjadi sarana utama dalam membangun hubungan sosial. Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana kualitas komunikasi yang mereka lakukan? Apakah hubungan yang terjalin melalui layar ponsel tetap memiliki kedalaman emosional seperti komunikasi langsung?

Teori komunikasi interpersonal menjadi pendekatan penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu teori yang relevan adalah Teori Penetrasi Sosial (Social Penetration Theory) yang dikemukakan oleh Altman dan Taylor. Teori ini menyatakan bahwa hubungan interpersonal berkembang melalui proses pengungkapan diri secara bertahap, dari informasi umum hingga hal-hal yang sangat pribadi. Namun, di kalangan Gen Z, pengungkapan diri kerap terjadi secara cepat dan instan melalui pesan singkat atau media sosial, tanpa ada proses kedekatan yang alami. Hal ini menimbulkan hubungan yang tampak dekat, tetapi rapuh secara emosional.

Fenomena lain yang muncul adalah meningkatnya praktik ghosting—tiba-tiba menghilang dari komunikasi tanpa penjelasan. Dalam konteks Teori Pengurangan Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory) oleh Berger dan Calabrese, ghosting justru memperbesar ketidakpastian dalam hubungan. Ketika seseorang tidak merespons pesan atau memutus komunikasi secara sepihak, pihak lainnya dibiarkan dalam kondisi bingung dan tidak tahu arah hubungan mereka. Hal ini menyebabkan hubungan yang tidak sehat dan minim rasa aman.

Selain itu, Gen Z juga memiliki cara unik dalam mengekspresikan kasih sayang atau perhatian, yang disebut dengan “love language digital.” Bentuknya bisa berupa membalas chat dengan cepat, memberi emotikon hati, atau menyukai unggahan seseorang secara konsisten. Walaupun sederhana, hal ini menjadi bentuk komunikasi emosional yang bermakna bagi mereka. Namun, di sisi lain, kebiasaan ini juga menimbulkan ketergantungan pada validasi instan, sehingga menurunnya respons digital bisa dengan mudah disalah artikan sebagai bentuk penolakan atau kurangnya kasih sayang.

Di tengah tantangan tersebut, ada pula peluang. Generasi Z dikenal lebih terbuka dalam membicarakan isu-isu emosional dan kesehatan mental. Mereka cenderung mencari hubungan yang autentik dan suportif. Jika dimanfaatkan dengan bijak, media digital sebenarnya dapat menjadi pintu awal menuju komunikasi interpersonal yang lebih dalam. Namun, tetap dibutuhkan kesadaran akan pentingnya kehadiran emosional yang tulus, bukan hanya sekadar rutinitas membalas pesan.

Sebagai kesimpulan, komunikasi interpersonal di kalangan Gen Z memang telah bergeser dari cara-cara konvensional ke ranah digital. Meskipun lebih cepat dan mudah, kedalaman emosional dalam relasi mereka sering kali menjadi tantangan tersendiri. Melalui pemahaman teori komunikasi interpersonal, kita dapat melihat bahwa interaksi yang sehat tetap memerlukan keterbukaan, kepercayaan, dan kehadiran emosional,baik secara langsung maupun melalui layar. Chat bisa menjadi jembatan, tapi perasaan hanya bisa terhubung jika ada niat untuk benar-benar mendengarkan dan memahami satu sama lain.