Konten dari Pengguna

Benarkah Laki-Laki Serumit Itu ?

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : Aslamuddin Lasawedy
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Aslamuddin Lasawedy

DALAM banyak cerita, laki-laki sering digambarkan sebagai makhluk sederhana. Mereka cukup diberi tempat untuk berteduh, tujuan untuk dikejar, dan ruang untuk menampung pikirannya yang tak pernah selesai. Namun, bila kita mengupas sedikit lapisan permukaan kepribadiannya, sebagaimana arkeolog menggali reruntuhan untuk menemukan jejak masa lalu, kita akan mendapati bahwa laki-laki tak pernah sesederhana yang ia tampilkan. Mereka adalah labirin yang tampak seperti lorong lurus, sangat kompleks, yang bersembunyi di balik topeng ketenangannya.

Secara psikologis, laki-laki dibesarkan dalam lanskap sosial yang mengajarkan mereka bagaimana menyamarkan emosinya. Penelitian dalam ilmu psikologi menunjukkan bahwa sejak kecil, anak laki-laki lebih banyak diminta “kuat,” “tabah,” atau “jangan menangis.” Bukan karena mereka kurang sensitif, namun karena masyarakat membentuk saringan emosi mereka begitu ketat. Maka jadilah laki-laki seperti gunung yang tampak kokoh, padahal di dalamnya terdapat gemuruh magma yang sesekali mencari celah untuk meluap dan meletup. Kita melihat permukaan yang tenang, tapi kita tak pernah tahu batuan apa yang saling berbenturan di kedalaman sana.

Laki-laki memiliki ruang batin yang jarang mereka buka kepada siapa pun. Dalam banyak kultur, kerentanan dianggap sebagai cacat. Maka laki-laki membangun dinding-dinding internal seperti insinyur yang teliti, merancang benteng agar badai kehidupan tak mudah menerjangnya.

Namun ironisnya, benteng itu pula yang sering membuat mereka kesepian. Dalam literatur neurosciences, laki-laki cenderung memproses stres dengan “withdrawal.” Sebut saja ; menarik diri, merenung, menumpuk beban dalam pikiran, mengendapkannya seperti sedimen. Mereka bukan tak mau berbagi, melainkan mereka tak punya bahasa yang cukup untuk menerjemahkan kekacauan hatinya.

Di sisi lain, laki-laki sering merasa harus menjadi kompas penunjuk arah, pemikul tanggung jawab, penyangga moral, dan seterusnya. Ekspektasi ini membuat banyak laki-laki hidup dalam ketegangan antara siapa mereka sebenarnya dan seperti apa semestinya mereka tampil.

Layaknya pelaut yang terus melihat peta bintang, laki-laki sering memaksakan diri membaca lintasan kosmos, seolah semua keputusan harus tepat dan semua langkah harus mantap. Padahal, bintang sekalipun kadang redup, kompas pun bisa goyah oleh medan magnet kehidupan.

Secara ilmiah, laki-laki dibentuk oleh lanskap hormonal yang memiliki ritme sendiri, sebut saja : testosteron, dopamin, dan seterusnya, yang menyusun pola perilaku mereka yang sering disalahpahami, sebut saja ; respons terhadap tekanan hidup, ambisi yang sering hanya menjadi perisai terhadap ketakutan, atau berdiam diri yang bukan berarti ketidakpedulian. Semua itu adalah mekanisme fisiologis untuk memproses beban hidup mereka. Dengan kata lain, kerumitan laki-laki bukanlah mitos. Ia biologis, sosial, psikologis, sekaligus spiritual.

Jika perempuan adalah puisi —dengan metafora yang mengalir, menyentuh, dan memberi ruang untuk ditafsir—maka laki-laki adalah prosa padat yang sering disalahartikan sebagai sesuatu yang sederhana, padahal justru lantaran ia begitu padat, maka ia sulit untuk dibaca.

Laki-laki adalah buku yang sampulnya keras, bukan karena isinya dangkal, tetapi karena halaman-halamannya terlalu rapuh untuk dibiarkan terbuka sembarangan. Maka, serumit apakah laki-laki itu ? Mungkin jawabannya serumit manusia itu sendiri.

Kerumitan mereka bukanlah cacat, melainkan bagian dari lanskap eksistensial yang harus mereka navigasi. Laki-laki bukan diciptakan untuk mudah dimengerti. Mereka diciptakan untuk tumbuh melalui luka, kegagalan, ambisi, kesepian, dan seterusnya.

Dan....

Mungkin saja, yang lebih tepat bukanlah bertanya benarkah laki-laki serumit itu ? Melainkan bertanya, perempuan mana yang mau berjalan masuk ke dalam labirin laki-laki itu dengan cahaya kesabaran ?

Sebab, pada akhirnya, kerumitan laki-laki bukan untuk dipecahkan seperti teka-teki. Melainkan untuk dipahami seperti hutan. Dijelajahi pelan-pelan, diraba akar-akarnya, dinikmati kesendiriannnya.(*)