Inklusi Keuangan : Cerita tentang Akses, Harapan, dan Masa Depan

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh :
Aslamuddin Lasawedy CFP®
Perencana Keuangan Independen
Di sebuah warung kopi kecil di pinggiran kota. Tiga orang sedang berbagi cerita. Satu dari mereka, namanya Ujang. Penjual gorengan yang sekarang bisa menerima pembayaran lewat QRIS. Dulu, uang recehnya dari pelanggan sering tercecer. Atau habis begitu saja untuk kebutuhan mendadak. Tapi sekarang, Ujang mulai terbiasa menyimpan sebagian pendapatannya di e-wallet. Belakangan, ia juga aktif mengikuti arisan digital.
Di sebelahnya, Yayan, tukang parkir yang diam-diam sedang melunasi cicilan motornya melalui pinjaman koperasi berbasis aplikasi.
Satu-satunya yang tidak terlalu paham percakapan itu adalah Pak Leman, 62 tahun. Ia tetap percaya bahwa uang paling aman disimpan di dalam kaleng biskuit, dan ditanam di bawah tempat tidur.
Inilah tiga orang, dengan tiga sudut pandang dan pengalaman keuangan yang berbeda. Wajah nyata dari inklusi keuangan hari ini.
Inklusif secara keuangan berarti setiap orang, tanpa memandang latar belakangnya, punya akses yang mudah dan aman terhadap layanan keuangan formal. Entah itu rekening tabungan, kredit, asuransi, dompet digital, dan seterusnya.
Jika semua itu hanya teori saja. Cuma hidup di slide presentasi saja dan tak menyentuh pasar, warung, dan rumah-rumah rakyat kebanyakan. Maka ia tak lebih dari sebuah jargon kosong.
Meski saat ini kita hidup di era digital. Akses tak selalu berarti partisipasi. Memiliki aplikasi tak menjamin pemahaman. Punya rekening tak selalu berarti bisa menabung. Maka, inklusi keuangan yang sejati harus hadir sebagai akses yang multi manfaat, yang bisa digunakan, dipahami, dan dipercaya.
Secara praktis, inklusi keuangan bisa mengurangi kerentanan ekonomi keluarga miskin. Bisa memberikan peluang usaha mikro untuk bertumbuh. Bisa membuka akses ke jaring pengaman sosial. Bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis komunitas.
Jika ekonomi adalah jantung masyarakat modern, maka keuangan adalah aliran darahnya. Tetapi jika sebagian tubuh tidak mendapatkan suplai darah, maka ia akan mati rasa. Itulah yang terjadi saat sistem keuangan hanya melayani mereka yang “cukup layak” menurut bank. Seperti punya slip gaji, alamat tetap, dan akses digital.
Inklusi keuangan sejatinya adalah bentuk pengakuan atas martabat setiap orang untuk mengelola masa depannya. Ia menolak sistem yang hanya memeluk mereka yang sudah siap. Ia justru menawarkan atau mengulurkan tangannya kepada mereka yang sering disisihkan dan termarjinalkan.
John Rawls mengatakan bahwa sistem sosial yang adil bukanlah yang netral. Melainkan yang secara aktif memperkuat posisi kelompok yang paling lemah. Maka, inklusi keuangan bukan bonus. Ia adalah tanggung jawab moral dalam membangun masyarakat yang beradab.
Nah, mari kita kembali ke Ujang, penjual gorengan. Ia tak tahu apa itu “financial inclusion”. Tapi ia tahu betul rasanya bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membeli freezer kecil agar dagangannya tahan lebih lama. Ia tahu bagaimana rasanya menerima pembayaran lewat scan QR. Lalu menyisihkan sebagian uangnya ke dompet digital, yang ia persiapkan untuk dana pendidikan anaknya.
Atau Yayan, si tukang parkir, yang dulu hanya tahu uang harian. Kini ia belajar mencicil dan merancang penghasilannya agar tak selalu habis hari itu juga. Ia mulai paham arti “menabung untuk masa depan keluarga.”
Dan Pak Leman? Meski belum percaya teknologi. Hari ini ia mulai membuka diri, karena cucunya bisa membantunya menjelaskan bahwa menyimpan uang di bank syariah bukan berarti kehilangan kendali. Tapi justru menjaga keamanan uangnya.
Inklusi keuangan bukan soal siapa yang “modern” dan siapa yang “tertinggal.” Ini soal bagaimana teknologi dan sistem membuka ruang agar semua orang bisa ikut "go digital."
Inklusi keuangan sejatinya adalah tentang manusia dan harapannya. Tentang seorang ibu yang ingin anaknya sekolah lebih tinggi. Tentang nelayan yang ingin punya jaring lebih besar. Tentang pedagang kaki lima yang tak ingin terlilit utang harian. Ini tentang siapa pun yang bermimpi tapi terhalang sistem.
Maka, manfaat inklusi keuangan itu, bukan hanya ekonomi. Ia adalah pembuka jalan bagi partisipasi, harga diri, dan keberanian bermimpi.
Dan...
Mungkin saja, suatu hari nanti, di warung kopi itu, tak ada lagi yang merasa asing membicarakan tentang dompet digital, cicilan, atau tabungan. Karena semua orang sudah diajak duduk berdiskusi dan berpartisipasi di meja yang sama.(*)
