Menemukan Tuhan Saat Berada di Rumah

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PANGGIL namanya Fadel. Sore itu, lelaki tua itu duduk seperti biasa di beranda rumahnya. Cahaya matahari masuk melalui celah jendela rumahnya, membentuk garis tipis seperti jalan pulang yang tak kasatmata.
Meski rumahnya terbilang mewah. Tak ada yang berubah disana. Dan justru di situlah letak kekuatan hidupnya. Ia tak menunggu dunia datang kepadanya, lantaran ia telah menemukan sesuatu yang tak pernah pergi. Sesuatu yang tak membutuhkan keramaian untuk hadir. Sesuatu yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun bisa dirasakan.
Dalam kesehariannya, Fadel bukanlah orang kantoran. Ia tidak bersosialisasi. Tidak juga hadir dalam hiruk pikuk gemerlapnya kehidupan kota Jakarta. Namun anehnya, ia tak pernah merasa kesepian. Bahkan uangnya sangat berlimpah.
“Sepi itu bukan soal tidak adanya seorang pun di sekitar kita,” katanya suatu ketika. Suaranya berat penuh wibawa. “Sepi itu terjadi tatkala Tuhan tidak hadir dalam kesadaranmu.”
Kalimat itu terdengar sedehana. Namun bagi Fadel, itulah realitas hidup sehari-hari yang ia jalani.
Meski Fadel nyaris tak pernah keluar rumah, ia tak pernah merasa kesepian. Baginya kesendirian tidak mesti berarti kesepian. Meski bagi orang awam hidup seperti itu disebut kesepian. Namun bagi pelaku spiritual seperti Fadel, keadaan tersebut disebut Khudur atau keadaan hati yang sadar dan senantiasa merasakan kehadiran Tuhan.
Nah, dalam lanskap kehidupan modern saat ini, kesendirian memang sering disalahpahami. Kesendirian sering dipandang sebagai kondisi patologis. Penelitian dari psikolog sosial seperti John T. Cacioppo menunjukkan bahwa kesepian kronis dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Mulai dari depresi hingga peningkatan risiko kematian dini.
Namun, ada perbedaan mendasar antara loneliness (kesepian) dan solitude (kesendirian yang dipilih). Studi dalam psikologi kontemplatif menunjukkan bahwa kesendirian yang disengaja justru dapat meningkatkan kesejahteraan, kejernihan kognitif, dan kedalaman spiritual. Di titik inilah, Fadel berdiri, di batas tipis antara yang dianggap “terasing” oleh masyarakat umum dan yang disebut khalwat dalam tradisi spiritual.
Dalam tradisi Islam, praktik menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan bukanlah hal yang baru. Para sufi sejak berabad-abad lalu telah mempraktikkan khalwat sebagai bentuk pengasingan diri dari keramaian dunia, yang bertujuan membersihkan hati dari distraksi duniawi.
Al-Ghazali dalam karyanya Ihya Ulum al-Din, menulis bagaimana pentingnya menarik diri dari keramaian untuk menemukan “cahaya ilahi” di dalam hati. Ia menegaskan bahwa hati manusia ibarat cermin dan dunia adalah debu yang mengaburkannya.
Meski Fadel, tak pernah menyebut dirinya seorang sufi, namun tampaknya ia menjalani prinsip hidup yang sama dengan para sufi. Ia tidak menolak dunia. Ia hanya tidak ingin tenggelam dan larut di dalamnya.
Menariknya, praktik kesunyian atau kesepian ini juga mendapatkan legitimasi dari sains modern. Penelitian dalam bidang neuroscience menunjukkan bahwa praktik meditasi dan kontemplasi dapat mengaktifkan default mode network (DMN) atau bagian otak yang terkait dengan refleksi diri dan kesadaran eksistensial.
Studi dari peneliti seperti Judson Brewer menemukan bahwa meditasi mendalam dapat mengurangi aktivitas ego dan meningkatkan perasaan keterhubungan yang luas. Sesuatu yang dalam bahasa spiritual sering disebut sebagai “kehadiran Tuhan.”
“Dalam diam,” kata Fadel, “aku tidak merasa kosong, aku justru merasa penuh. Kosong tapi berisi. Seolah-olah ada yang selalu bersamaku, bahkan sebelum aku menyadarinya.”
Namun, tidak semua bentuk penarikan diri dari hal-hal duniawi adalah sehat. Psikolog klinis mengingatkan bahwa isolasi sosial yang ekstrem tanpa makna dapat berujung pada gangguan mental. Perbedaannya terletak pada satu hal, yaitu kesadaran, dimana kesendirian yang kosong akan melahirkan kecemasan. Sebaliknya, kesendirian yang bermakna akan melahirkan kedamaian.
Di titik inilah kisah Fadel menjadi menarik, bahkan paradoksal. Ia hidup tanpa interaksi sosial yang signifikan, namun menunjukkan stabilitas emosional yang jarang ditemukan dalam masyarakat modern saat ini yang hiper-terhubung.
Fenomena hidup seperti yang dijalani Fadel ini, mengingatkan kita pada konsep yang dalam psikologi modern disebut sebagai internalized attachment figure atau kehadiran figur yang dirasakan secara psikologis meskipun tidak hadir secara fisik. Dalam konteks religius, figur itu adalah Tuhan. Sehingga bagi Fadel, Tuhan bukanlah konsep teologis yang abstrak. Tuhan adalah kehadiran yang intim.
Catatan Akhir
Dengan sikapnya yang nyaris tak pernah keluar rumah itu, Fadel sepertinya sedang mengkritik dunia luar. Dunia yang terlalu sibuk untuk diam. Dunia yang terlalu ramai untuk mendengar. Dunia yang terlalu sesak untuk merasakan.
“Orang-orang punya teman untuk berbicara,” katanya berseloroh. “Aku juga punya teman bicara. Hanya saja, temanku tidak terlihat.”
Dan...
Mungkin, di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin bising dewasa ini, kisah Fadel ini bukanlah sekadar kisah tentang seorang lelaki tua yang mengasingkan dirinya dari gemerlapnya dunia.
Kisah ini justru memberi pelajaran penting bagi kita semua, yang mungkin terlalu jauh dari rumah. Dan meski sudah berada di rumah, tak pernah merasa benar-benar pulang. Pulang ke diri kita yang sejati. Weleh, weleh, weleh.(*)
