Konten dari Pengguna

Pelukan Seorang Ibu Menghapus Segala Derita

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Foto : Aslamuddin Lasawedy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto : Aslamuddin Lasawedy

SORE itu, langit kelabu. Jalanan basah. Hujan turun perlahan, seperti seseorang yang menangis diam-diam. Di salah satu sudut Jakarta, di sebuah rumah sederhana yang mengelupas catnya, seorang pemuda baru saja pulang. Ia tak membawa apa-apa selain rasa sedih, kecewa, dan putus asa.

Sebut saja namanya Arman. Usianya dua puluh lima tahun. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ia gagal total. Pekerjaan paruh waktunya diputus kontraknya. Tabungannya habis. Mimpinya yang dulu besar kini tinggal serpihan. Nafasnya terasa sesak. Dunia rasanya begitu sempit. Semua yang pernah ia banggakan runtuh dalam sekejap.

Hari itu, ia pulang ke rumah ibunya. Tanpa kabar. Tanpa suara. Ia hanya mengetuk pintu perlahan. Seperti seseorang yang meminta izin untuk patah hati.

Pintu dibuka. Wajah itu masih sama. Tua, lelah, tapi hangat. Ibunya tidak bertanya apa-apa. Tidak menuntut cerita. Tidak menghakimi. Ia hanya membuka tangannya lebar-lebar. Dan Arman, tanpa bisa menahan diri, saat masuk ke dalam rumah, ia langsung memeluk ibunya.

Saat itulah, diluar dugaan Arman, terjadi sesuatu yang ajaib. Meski dunia dihadapannya seolah-olah telah hancur lebur berantakan. Namun, dalam pelukan ibunya, batin Arman menjadi utuh kembali. Semua yang hilang terasa pulih kembali. Kegagalan, rasa malu, kecewa, semuanya menguap begitu saja. Seolah dalam pelukan ibu yang penuh cinta itu, semua luka bisa mengering, tanpa harus dibicarakan.

"Ibu tahu," bisik perempuan itu pelan, dengan nada penuh kasih sayang. "Kadang kita tidak butuh kata-kata. Cuma butuh tempat buat jatuh dengan tenang."

Arman menangis. Bukan tangis keras. Tapi tangis yang pecah dalam diam. Seperti musim yang berganti, di balik tirai malam.

Ia ingat saat kecil, bagaimana ibunya memeluknya saat ia takut gelap. Saat ia demam. Saat ia kalah lomba lari. Pelukan itu selalu datang. Bukan sebagai solusi, tapi sebagai rumah. Rumah yang tidak bertanya kenapa. Rumah yang hanya berkata: "Tidak apa-apa, Nak. Ibu tetap sayang padamu. "

Waktu berlalu. Dunia berubah. Tapi pelukan ibu tidak pernah berubah. Tetap lembut seperti dulu. Tetap hangat, sehangat matahari pagi.

Arman tahu, di luar sana hidup akan terus menggulungnya seperti ombak. Namun, setiap kali ia merasa tenggelam, ia selalu bisa berenang kembali ke pelukan ibunya. Pelukan yang sederhana. Tidak viral. Tidak dramatis. Tidak indah di foto. Tapi itu semua menjadi alasan bagi dirinya kenapa masih tetap kuat berdiri hingga hari ini.

Ternyata, kebahagiaan paling dalam bukan tentang punya segalanya. Tapi tentang tahu ke mana harus pulang saat kehilangan segalanya.

Di pelukan ibu itulah, Arman mendapati sebuah tempat di mana dunia berhenti sejenak. Hanya untuk memberi ruang bagi hatinya yang ingin pulih kembali.

Bagi Arman, meski seluruh dunia sedang runtuh di luar sana. Namun, berada dalam pelukan ibu yang penuh cinta itu, adalah satu-satunya pelukan yang membuat hidupnya terasa layak untuk dijalani, dinikmati, dan disyukuri. Weleh, Weleh, weleh.(*)