Konten dari Pengguna

Rendahnya Literasi Keuangan Keluarga Menjadi Akar Masalah Keuangan Keluarga

Aslamuddin Lasawedy

Aslamuddin Lasawedy

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : Aslamuddin Lasawedy
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Aslamuddin Lasawedy

Oleh :

Aslamuddin Lasawedy CFP®

Perencana Keuangan Independen

Andai saja kehidupan keluarga kita ibaratkan seperti sebuah perahu yang mengarungi samudra luas bernama masa depan. Angin yang bertiup adalah harapan. Ombak yang bergulung adalah kebutuhan. Badai yang mengancam adalah krisis keuangan. Pelabuhan yang dituju adalah kesejahteraan keluarga. Sementara, kompas di tengah lautan itu, tidak lain adalah literasi keuangan yang mengarahkan kapal ke pelabuhan tujuan, yang menjadi peta yang menuntun. Menjadi jangkar yang menstabilkan.

Literasi keuangan dalam konteks keluarga bukan semata-mata tentang menghitung angka atau cara rutin menabung. Ia adalah seni mengelola kehidupan dengan penuh kesadaran. Ia adalah kesadaran yang membuka mata keluarga bahwa uang bukanlah tujuan akhir. Uang hanyalah alat. Ia pelayan bukan penguasa. Uang hanyalah energi yang mengalir. Sementara tugas kepala keluarga mengarahkan aliran itu ke ladang-ladang kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan keluarga yang lestari.

Literasi keuangan berhubungan erat dengan kemampuan seseorang memahami konsep dasar keuangan. Sebut saja ; anggaran, investasi, utang, asuransi, dan seterusnya. Itulah sebabnya rendahnya literasi keuangan dalam keluarga terkadang menjadi akar masalah keuangan keluarga seperti terjebak dalam lingkaran utang, kecemasan finansial, hingga konflik rumah tangga. Keluarga yang buta literasi keuangan, seperti tukang kebun yang tak memahami musim tanam, yang seringkali menabur benih pengeluaran di ladang yang tandus. Lalu berharap panen dari tanah yang tak pernah dipupuk.

Lebih dalam lagi, literasi keuangan mengajarkan keluarga untuk berdialog dengan waktu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan keinginan hari ini dengan impian di hari esok.

Nah, hadirnya perencanaan keuangan keluarga merupakan cermin dari kesadaran akan kefanaan dan keterbatasan. Ia mengajarkan kita untuk berdamai dengan kenyataan bahwa sumber daya keuangan kita terbatas. Sementara keinginan kita nyaris tanpa batas. Oleh karena itu, literasi keuangan bukan sekadar alat bertahan hidup, tapi juga jalan menuju kebijaksanaan, seperti membangun disiplin, memupuk kesabaran, dan menumbuhkan ketahanan.

Dalam dunia yang digempur oleh arus konsumsi, literasi keuangan adalah lentera yang menuntun keluarga keluar dari labirin hasrat instan. Ia membisikkan pesan bahwa merancang masa depan bukanlah sekadar menumpuk kekayaan, melainkan merawat harmoni antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan. Dalam metafora lain, literasi keuangan adalah benih pohon yang ditanam hari ini, agar esok keluarga bisa berteduh di bawah rindangnya. Menikmati buahnya tanpa rasa cemas akan kemarau yang datang tiba-tiba.

Pada akhirnya, literasi keuangan dalam keluarga adalah bentuk cinta yang visioner. Ia bukan cinta yang hanya memanjakan hari ini. Pun cinta yang berani mempersiapkan hari esok. Seperti nakhoda yang bijak, keluarga yang tercerahkan literasi keuangannya tahu kapan harus berlayar. Kapan harus berlindung. Kapan harus menambatkan kapal. Kapan harus memperbaiki layar yang sobek.(*)