Konten dari Pengguna

Tak Semua Cinta Bisa Dijelaskan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi foto : Aslamuddin Lasawedy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto : Aslamuddin Lasawedy

SORE itu di stasiun KA Manggarai, orang-orang lalu-lalang berjalan cepat. Pengumuman keberangkatan sahut-menyahut. Di tengah keramaian itu, perempuan muda berparas cantik itu, menghentikan langkahnya.

"Maaf... apakah kita pernah bertemu?"

Laki-laki yang ditanya menoleh. Ia berpikir sejenak, sebelum akhirnya tersenyum.

"Sepertinya pernah. Tapi saya tidak yakin."

Mereka tertawa kecil. Dua orang asing yang sama-sama merasa tidak asing.

"Aneh, ya?"

"Iya."

"Nama saya Aliyah."

"Sudirman."

Mereka berjabat tangan.

Tak lama kemudian KRL tiba. Keduanya naik ke gerbong yang sama. Berdiri berhadapan, dan mengobrol sepanjang perjalanan. Mereka berdua bercakap-cakap, seolah sedang melanjutkan percakapan yang pernah tertunda bertahun-tahun. Tak ada rayuan disana. Tak ada kata-kata yang ingin saling mengesankan. Yang ada hanya rasa nyaman yang datang tanpa diundang.

Pertemuan itu kemudian menjadi awal dari banyak percakapan. Mereka saling bertukar cerita tentang pekerjaan, keluarga, kegagalan, buku-buku yang disukai, hingga ketakutan yang tak pernah mereka unggah di media sosial.

Suatu malam, ketika mereka berjalan di trotoar yang diterangi lampu kota, Aliyah bertanya,

"Kenapa kamu betah ngobrol sama aku?"

Sudirman mengangkat bahunya.

"Karena nyaman."

"Kenapa nyaman?"

"Enggak tahu."

"Kamu ini jawabannya selalu 'enggak tahu'."

Sudirman tertawa.

"Kalau semua perasaan harus dijelaskan, mungkin kita akan lebih sibuk mencari kalimat yang tepat daripada menikmati obrolannnya."

Waktu terus berputar.

Hubungan mereka tumbuh tanpa tergesa-gesa. Hubungan yang tidak dipenuhi unggahan romantis. Hubungan yang tidak sibuk membuktikan apa pun kepada dunia.

Mereka berdua lebih sering menikmati kopi di cafe sederhana daripada makan malam di restoran mewah.

Suatu ketika, teman-teman Sudirman menggoda.

"Dia cantik. Apakah itu alasannya kamu suka dia?"

Sudirman menggelengkan kepalanya.

"Wajah cantik itu suatu hari akan berubah?"

"Berarti ada alasan lain."

"Pintar?"

"Kalau suatu hari dia lupa banyak hal?"

"Masih bukan itu alasannya."

"Terus apa?"

Sudirman tersenyum.

"Aku belum menemukan kalimat yang tepat."

Beberapa bulan kemudian, justru Aliyah yang mulai gelisah.

"Dengar, ya."

"Hm?"

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut suatu hari kamu sadar ada perempuan yang lebih baik dan lebih cantik dari aku."

Sudirman menghentikan langkahnya.

"Menurutmu, cinta itu seperti perlombaan?"

"Bukankah selalu ada yang lebih cantik, lebih pintar, lebih berhasil?"

Sudirman memandang langit senja yang perlahan berubah jingga.

"Benar."

"Nah?"

"Tapi aku tidak sedang mencari yang 'lebih'."

"Lalu?"

"Aku menemukan 'kamu'."

Aliyah menatap Sudirman tanpa berkedip.

"Itu bukan jawaban logis."

"Aku memang tidak sedang menjawab logika."

Roda waktu terus berjalan.

Mereka berdua menghadapi banyak tantangan, mulai dari perbedaan pendapat, kesibukan pekerjaan, hingga jarak tatkala Aliyah harus pindah kota selama beberapa bulan.

Ternyata, tidak semua hari harus dipenuhi tawa. Ada malam-malam ketika mereka berdua harus saling diam. Ada pesan WA yang terlambat dibalas. Ada rindu yang berubah menjadi salah paham.

Namun setiap kali emosi mereka berdua memuncak, selalu saja ada satu kalimat penyejuk yang merekatkan kembali hubungan mereka.

"Ayo kita bicara. Jangan ingin menang sendiri. Mari saling mengerti," sergah Aliyah, sambil melempar senyum manisnya.

Mereka berdua kemudian belajar bahwa hubungan itu ternyata tidak bertahan karena tidak pernah diuji. Ia bertahan karena mereka berdua memilih untuk tetap tinggal setiap kali ada alasan untuk pergi.

Suatu ketika, Sudirman mengajak Aliyah bertemu kembali di stasiun KA Manggarai, tempat mereka pertama kali bertemu.

"Kenapa di sini?" tanya Aliyah ingin tahu.

"Karena semuanya dimulai di sini."

Sudirman mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. Aliyah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Kamu serius?"

"Sangat."

Sudirman menarik napas panjang.

"Sejak pertama kali bertemu, banyak orang bertanya kenapa aku memilihmu."

"Lalu?"

"Aku tidak pernah punya jawaban yang memuaskan."

Aliyah tersenyum sambil menahan air mata bahagianya.

"Dan sekarang?"

Sudirman menggenggam tangan Aliyah.

"Sekarang aku sadar, tidak semua cinta punya alasan untuk bisa dijelaskan. Ternyata cinta itu hanya tumbuh, menguat, lalu mengajarkan kita pulang kepada seseorang."

"Jadi..."

"Maukah kamu menjadi rumah yang ingin selalu menjadi tempat aku pulang?"

Aliyah mengangguk sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun.

"Iya."

Di tengah hiruk-pikuk pengumuman kereta dan langkah ribuan orang yang lalu-lalang, dua manusia itu saling berpelukan. Tak ada musik yang tiba-tiba mengalun merdu disana. Tak ada tepuk tangan dari orang-orang di sekitar mereka. Yang ada hanya senyum yang tulus. Mata yang basah oleh haru. Dan keyakinan bahwa mereka berdua telah menemukan seseorang yang tidak perlu dijelaskan kepada dunia.

Dan barangkali benar, tidak semua cinta lahir karena daftar kelebihan yang bisa disusun rapi. Ada cinta yang tumbuh dari percakapan sederhana. Tumbuh dari kesediaan mendengar. Tumbuh dari keberanian bertahan. Dan tumbuh dari pilihan untuk saling menerima apa adanya.

Dan..

Di zaman sekarang ini, ketika hampir segala sesuatu diukur dengan angka, algoritma, dan alasan yang rasional. Cinta ternyata tetap menyimpan hak istimewa bahwa ia tidak selalu membutuhkan penjelasan untuk menjadi nyata. Karena tidak semua cinta lahir untuk dijelaskan. Cinta hadir untuk dijalani. Weleh, weleh, weleh. (*)