Konten dari Pengguna

Togean Naturale Berbisik Melalui Denting Irama Laut di Pulau Batu Daka

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : Togean Naturale
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Togean Naturale

MESKI tampak tenang, waktu berjalan di pulau Batu Daka, Togean, Sulawesi Tengah, laksana aliran arus laut yang selalu tahu arah. Di sanalah Denting Sihkami tinggal. Seorang perempuan muda yang dengan gigihnya bersama ibu-ibu suku Bajo membuat produk alami yang diperkenalkan ke manca negara dengan sebutan Togean Naturale.

Setiap pagi, Sihka begitu ia disapa, bersama ibu-ibu dari suku Bajo, membuat sabun alami dari minyak buah kelapa. Mereka bukan sekadar perempuan laut, mereka adalah penjaga rahasia laut, yang hanya diungkap pada mereka yang bersedia mendengarkan dengan jantungnya. Mereka memanggil Denting Sihkami dengan sebutan “Anak Ombak.” Bukan karena ia lahir dari laut. Denting suaranya yang bening, menenangkan gelombang amarah di hati siapa pun yang putus arah.

Di bawah teduhnya pohon kelapa. Di antara aroma garam yang tidak pernah pergi dari kulit. Mereka membuat sabun alami dari minyak buah kelapa, menggunakan bubuk jagung sebagai pelarut (solvent), dan gliserin dari sayur. Produk-produk itu bukan sekadar "produk." Mereka adalah nyanyian, pelukan, dan doa ibu-ibu suku Bajo, yang diaduk dalam wadah-wadah kelapa yang dikeringkan matahari.

“Mengapa membuat produk ini?” tanya seorang pemuda kota yang datang dengan kamera dan kacamata hitam. Berharap memotret eksotisme yang bisa dijual di medsos.

Ibu Sukma, yang matanya seperti langit malam penuh bintang, menjawab, “Karena tubuh manusia lupa bagaimana caranya mencintai dirinya sendiri. Kami hanya mengingatkannya melalui produk Togean Naturale.”

Denting Sihkami menambahkan, “Setiap tetes minyak dari kelapa ini mengandung bisikan laut. Setiap aroma sabun Togean Naturale adalah kisah yang diceritakan karang kepada bulan.”

Di antara jemari mereka, produk Togean Naturale lahir bukan dari pabrik. Ia lahir dari percakapan antara manusia dengan indahnya alam semesta. Dari sisa embun di daun pandan. Dari kulit pala yang disentuh lembut. Dari cengkih yang hanya dipetik setelah mengangguk pada angin.

Suatu malam, saat bintang jatuh, yang seolah-olah ingin mengecup laut Togean di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Denting Sihkami duduk di ujung dermaga. Di sisinya, sebuah botol kecil berisi minyak wangi berbasis rumput laut dan bunga kelapa. Ia tak menjualnya. Ia memberikannya pada siapa pun yang lupa siapa dirinya.

“Wangi ini akan membawamu pulang,” katanya kepada setiap jiwa yang tersesat.

Di pulau Batu Daka itu, Denting Sihkami dan ibu-ibu Bajo tidak sekadar membuat produk kecantikan. Mereka membuat jembatan dari kulit tubuh ke inti semesta alam. Dari pori-pori manusia ke denyut nadi bumi.

Dan..

Laut Togean di teluk Tomini memang menyimpan banyak misteri rahasia flora dan fauna. Inilah satu-sarunya teluk di dunia yang dilewati garis Khatulistiwa. Gelombang demi gelombang ombak disana, terus berbisik tanpa lelah. Mempertanyakan, mungkinkah suara ibu-ibu Bajo di Pulau Batu Daka itu, bisa mendunia melalui produk Togean Naturale. Entahlah? (")