Konten dari Pengguna

Waspadai Skema Ponzi Gaya Baru Berbentuk Aplikasi Investasi Digital

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Aslamuddin Lasawedy CFP QWP

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Foto: Aslamuddin Lasawedy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto: Aslamuddin Lasawedy

Oleh :

Aslamuddin Lasawedy CFP®

Perencana Keuangan Independen

PAGI itu, layar ponsel Adam menyala dengan notifikasi yang berdatangan bertubi-tubi. Grup Telegram bertajuk “Freedom Financial Club” ramai dengan testimoni. Mulai dari foto transferan jutaan rupiah. Tangkapan layar saldo yang menggila. Himgga emoji kunci emas berderet seperti mantra baru.

Di tengah dunia yang lagi mengalami krisis keuangan, seperti sekarang ini, tentu saja bila muncul satu saja pesan menonjol tentang cara cepat menjadi kaya raya, akan terasa seperti cahaya surgawi di tengah kegelapan kehidupan. “Join hari ini, besok langsung cuan. Cuma modal 1 juta, bisa balik 10x lipat dalam seminggu. Jangan pikir panjang lagi.”

Adam termangu. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya tiga bulan lalu. Setiap ada lowongan kerja, selalu saja pintunya tertutup sebelum ia sempat mengetuknya. Di dalam pikirannya, suara almarhum ayahnya menggema: "Kerja keras itu pasti berbuah." Tapi kenyataan sekarang bicara sebaliknya. Di dunia digital ini, kerja keras bukan lagi satu-satunya mata uang. Justru keberanian ambil risiko dan ikut tren tampaknya lebih laku dijual.

Adam pun ikut mendaftar jadi member. Secepat mungkin ia mentransfer dananya. Dapat referral link. Lalu ikut menyebar “berita baik” ke teman-teman kuliah yang dulu pernah menertawakannya. Ia merasa seperti pahlawan baru di zaman ini. Bukan karena menyelamatkan banyak orang. Melainkan karena “menawarkan jalan pintas” keluar dari kesempitan hidup.

Beberapa hari pertama berjalan seperti mimpi. Uang masuk tak pernah berhenti. Poin naik. Komisi mengalir. Ia merasa pintar. Bahkan terlalu pintar untuk jadi pengangguran. Ia membeli gawai terbaru. Makan di kafe ternama. Mengunggah quote motivasi ke Instagram setiap hari. “Orang gagal adalah mereka yang takut mencoba. Aku tidak,” begitu pesannya.

Namun seperti halnya cuaca yang bisa saja berubah tiba-tiba. Sistem itu mulai goyah. Ada kabar bahwa withdrawal tertunda. Kemudian ada pengumuman server maintenance. Satu hari berikutnya, semua grup WA dan Telegram menjadi sunyi. Link referral mati. Website menghilang seperti fatamorgana digital. Adam mengirim pesan ke admin. Tak ada balasan. Ia refresh gawainya. Login dan reload. Semuanya nihil. Hanya satu pesan sistem yang tersisa: “Error. Connection Lost.”

Adam pun terdiam. Dunia nyata kembali menampar wajahnya. Ia melihat kembali notifikasi saldo banknya yang kini kosong. Layar ponsel yang tadinya jadi jendela harapan, kini menjadi cermin dari kebodohannya.

Inilah money game di era digital saat ini. Ia datang bukan dengan wajah mencurigakan. Ia memakai hoodie start-up. Mengutip kata-kata motivator ternama. Menggunakan kata-kata seperti “ekosistem,” “komunitas,” “potensi pendapatan pasif income.” Ia kemudian menjelma menjadi gaya hidup. Ia bukan hanya skema, pun narasi baru tentang sukses dan kaya raya. Namun sayangnya uang yang didapatkan dibangun di atas rasa takut miskin dan keinginan cepat kaya.

Money game bekerja karena ia tahu manusia sedang lelah. Lelah hidup dalam dunia yang menuntut banyak tapi memberi sedikit. Ia hadir seperti pelampung di tengah lautan. Padahal itu sebenarnya hanya balon udara yang akan meledak saat disentuh kenyataan.

Lebih berbahaya lagi, ia membuat luka yang tak terlihat. Luka kepercayaan, seperti yang dialami orang-orang seperti Adam, yang tertipu, dan berujung malu. Mereka diam. Tak melapor. Tak bercerita. Seolah mereka sendirilah yang salah. Padahal sistem yang dirancang memang menjebak.

Begitulah kehidupan di zaman now, di mana kesadaran adalah mata uang paling langka. Ilusi kaya mendadak bisa dibuat semudah edit foto. Kebohongan bisa disebar secepat swipe layar. Maka yang kita butuhkan bukan sekadar software anti-virus. Juga firasat digital atau kemampuan untuk mengenali niat dari bahasa promosi.

Karena di balik janji dalam genggaman teknologi itu, sering kali tersembunyi tangan-tangan tak terlihat yang menari di atas derita orang lain.

Dan Adam ? Ia kini belajar pelan-pelan. Bukan dari e-book investasi atau podcast motivasi. Ia belajar dari kenyataan. Ia tahu, tidak semua peluang emas adalah rezeki. Tak semua kilau gemerlap adalah emas.

Sehingga terkadang, bertahan di jalan yang lambat untuk mendapatkan rezeki adalah bentuk pemberontakan paling berani di zaman yang penuh ilusi seperti sekarang ini. Boleh jadi apa yang kita anggap menguntungkan, justru sangat merugikan kita. Iya gak ? (*)