Konten dari Pengguna

Anxiety Gen Z di Tengah Seremonial Negara

Asmansyah

Asmansyah

Dosen Kebijakan Publik, Universitas Negeri Makassar

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik kemeriahan perayaan nasional, seorang remaja tampak tenggelam dalam kesunyian dan kecemasan
zoom-in-whitePerbesar
Di balik kemeriahan perayaan nasional, seorang remaja tampak tenggelam dalam kesunyian dan kecemasan

Fenomena Anxiety yang semakin banyak dialami Gen Z memunculkan pertanyaan tentang efektivitas berbagai program dan kegiatan seremonial yang kerap ditampilkan negara sebagai respons terhadap persoalan generasi muda. Ketika Anxiety menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Gen Z, pendekatan seremonial negara kerap dianggap belum mampu menjawab kebutuhan yang sebenarnya.

Di tengah maraknya agenda seremonial negara, banyak Gen Z masih menghadapi Anxiety yang kian mengkhawatirkan.

Meningkatnya kasus kecemasan di kalangan Gen Z menunjukkan adanya persoalan yang tidak bisa dijawab hanya dengan pendekatan seremonial. Setiap tahun, negara memiliki banyak momentum seremonial untuk merayakan dirinya sendiri. Hari-hari nasional diperingati, panggung seremonial dibangun, dan pidato optimisme disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.

Seremonial tentu bukan sesuatu yang salah. Ia penting untuk merawat identitas kolektif dan menjaga ingatan kebangsaan. Namun, di tengah perayaan itu, ada pertanyaan yang mulai mengendap dalam ruang sosial: mengapa optimisme resmi tidak selalu berbanding lurus dengan anxiety yang dirasakan Generasi Z hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kita melihat data kesehatan mental terbaru. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan Tjipto dkk. (2024) dalam International Journal of Mental Health Systems menghimpun berbagai penelitian di Asia Tenggara mengenai gangguan mental dan intervensinya. Kajian itu menunjukkan bahwa anxiety dan tekanan psikologis berkaitan erat dengan kondisi sosial-ekonomi, ketidakpastian hidup, serta lemahnya dukungan sosial yang tersedia bagi masyarakat.

Data tersebut penting dipahami secara hati-hati. Ia bukan survei tunggal yang menangkap satu peristiwa sesaat, melainkan sintesis berbagai penelitian yang memperlihatkan pola serupa di kawasan Asia Tenggara. Temuan ini memberi pesan bahwa kecemasan tidak dapat dijelaskan hanya melalui karakter personal atau kemampuan individu mengelola emosi. Ada lingkungan sosial yang turut membentuk pengalaman psikologis masyarakat.

Penelitian lain memperkuat gambaran itu. Ibrahim dkk. (2025) dalam International Journal of Social Psychiatry meneliti hambatan masyarakat ASEAN mencari bantuan psikologis. Hasilnya menunjukkan bahwa stigma, keterbatasan fasilitas, biaya layanan, serta rendahnya akses informasi masih menjadi penghalang utama. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya meningkatnya kecemasan, tetapi juga lambatnya dukungan yang tersedia ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Fenomena sosial ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak generasi muda tumbuh dalam ruang yang penuh simbol optimisme, tetapi juga diiringi ketidakpastian yang tidak sederhana. Harga kebutuhan hidup meningkat, persaingan kerja makin ketat, dan masa depan terasa sulit dipetakan. Di media sosial, keberhasilan tampak dirayakan tanpa jeda, sementara kecemasan sering disembunyikan agar tidak dianggap gagal menjalani hidup.

Dalam situasi seperti itu, seremonial negara menghadapi ujian makna. Perayaan kebangsaan memang dapat memperkuat solidaritas simbolik, tetapi solidaritas simbolik tidak selalu otomatis berubah menjadi rasa aman sosial. Ketika ruang publik dipenuhi narasi keberhasilan sementara pengalaman hidup masyarakat dipenuhi kekhawatiran, jarak emosional antara simbol dan realitas dapat perlahan membesar.

Teori imagined community dari Benedict Anderson (1983) membantu membaca persoalan ini. Anderson menjelaskan bahwa bangsa dibangun melalui imajinasi kolektif yang dipelihara lewat simbol, cerita, dan ritual bersama. Teori ini menunjukkan bahwa perayaan nasional memiliki fungsi sosial yang penting. Namun, imajinasi kolektif membutuhkan pengalaman nyata agar tetap dipercaya. Simbol akan kehilangan daya ikat apabila tidak bertemu dengan realitas yang dirasakan masyarakat.

Kritik terhadap seremonial bukan berarti menolak perayaan negara. Persoalannya terletak pada keseimbangan antara simbol dan substansi kebijakan. Ketika kecemasan sosial meningkat dan layanan dukungan belum sepenuhnya mudah dijangkau, masyarakat dapat merasakan paradoks: negara tampak optimis di panggung, tetapi warga tetap memikul kekhawatiran di ruang privatnya. Jika perayaan nasional dimaksudkan memperkuat rasa kebersamaan dan harapan, mengapa sebagian generasi justru merasa semakin tidak pasti terhadap masa depannya? Dan ketika kecemasan sosial mulai menjadi pengalaman yang luas, apakah negara cukup sibuk merayakan simbol, tetapi terlambat membaca kegelisahan yang tumbuh di baliknya?

Mengapa Anxiety Menjadi Isu Besar bagi Gen Z?

Kita tidak melihat seremonial negara sebagai sesuatu yang keliru. Bangsa memang membutuhkan ruang bersama untuk merawat ingatan, identitas, dan rasa memiliki. Perayaan nasional dapat menjadi perekat sosial yang penting. Namun, persoalan muncul ketika simbol bergerak lebih cepat daripada pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat. Di titik itulah, optimisme resmi dan kecemasan sosial mulai berjalan di jalur yang berbeda.

Apa yang sebenarnya sedang dipersoalkan? Bukan upacara, bukan peringatan nasional, dan bukan ekspresi kebangsaan itu sendiri. Yang dipersoalkan adalah kemungkinan adanya jarak antara narasi keberhasilan yang dirayakan negara dengan rasa aman yang belum sepenuhnya dirasakan sebagian masyarakat. Ketika jurang itu melebar, simbol dapat kehilangan sebagian daya penghubungnya.

Fenomena ini bukan sekadar kesan emosional. Tinjauan sistematis Tjipto dkk. (2024) mengenai kesehatan mental di Asia Tenggara menunjukkan bahwa anxiety dan tekanan psikologis memiliki hubungan kuat dengan kondisi sosial-ekonomi, dukungan sosial, serta akses layanan kesehatan mental. Data tersebut memperlihatkan bahwa kecemasan sering lahir dalam lingkungan yang dipenuhi ketidakpastian dan keterbatasan dukungan.

Mengapa hal ini penting dibahas dalam konteks kebijakan publik? Karena kesehatan mental tidak berdiri terpisah dari cara negara mengelola kesejahteraan sosial. Ketika rasa aman ekonomi melemah dan dukungan sosial tidak cukup kuat, tekanan psikologis cenderung meningkat. Dalam situasi seperti itu, kebijakan tidak hanya dinilai dari program yang diumumkan, tetapi dari pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat.

Kita dapat melihat gejalanya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang hidup di tengah tuntutan untuk tetap optimis, produktif, dan terlihat berhasil. Namun, di saat yang sama, biaya hidup naik, pekerjaan semakin kompetitif, dan masa depan sulit dipastikan. Kecemasan tumbuh diam-diam, bukan karena masyarakat anti terhadap harapan, melainkan karena harapan sering terasa lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan.

Kita melihat persoalannya bukan pada kurangnya perayaan, tetapi pada lemahnya hubungan antara simbol dan substansi kebijakan. Negara sering cukup cepat menghadirkan narasi persatuan dan optimisme, tetapi belum selalu sama cepatnya memperkuat layanan kesehatan mental, perlindungan sosial, dan dukungan yang dapat dirasakan secara konkret.

Temuan Ibrahim dkk. (2025) mengenai hambatan pencarian bantuan psikologis di ASEAN memperlihatkan persoalan itu secara jelas. Stigma, biaya layanan, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya informasi masih menjadi hambatan utama. Artinya, publik semakin sadar pentingnya kesehatan mental, tetapi tidak seluruhnya memiliki akses yang setara terhadap bantuan profesional.

Siapa yang paling merasakan situasi ini? Mereka yang hidup dalam ruang ketidakpastian sosial-ekonomi biasanya menanggung beban lebih besar. Namun, kecemasan hari ini tidak sepenuhnya mengenal batas kelas atau profesi. Bahkan mereka yang tampak mapan dapat mengalami tekanan ketika rasa aman sosial melemah dan masa depan sulit diprediksi.

Dalam konteks itu, teori social determinants of health dari Michael Marmot (2005) menjadi relevan. Marmot menjelaskan bahwa kesehatan dipengaruhi kondisi sosial seperti pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan akses layanan. Teori ini membantu melihat bahwa kecemasan bukan hanya urusan psikologis, tetapi juga dipengaruhi bagaimana masyarakat dan negara mengatur distribusi rasa aman.

Bagaimana seharusnya seremonial dipahami? Saya melihatnya sebagai simbol yang seharusnya dipertemukan dengan kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Perayaan nasional tidak perlu dihilangkan, tetapi perlu disertai kepekaan membaca kegelisahan sosial. Simbol menjadi bermakna ketika masyarakat merasakan bahwa optimisme yang dirayakan tidak berhenti di panggung.

Generasi terus memikul kecemasan di tengah banyaknya narasi keberhasilan, pertanyaan publik menjadi wajar. Bukan karena masyarakat anti pada kebangsaan, tetapi karena mereka membutuhkan hubungan yang lebih jujur antara harapan dan kenyataan. Pada akhirnya, negara tidak hanya dinilai dari kemampuannya merayakan identitas bersama, tetapi juga dari kemampuannya memastikan warganya tidak merasa sendirian menghadapi masa depan.

Persoalan yang diperdebatkan bukanlah perayaan negara, melainkan keseimbangan antara simbol dan pengalaman hidup masyarakat. Seremonial tetap penting untuk merawat identitas dan kebersamaan, tetapi kebangsaan tidak hidup hanya melalui panggung dan pidato. Ia bertahan melalui rasa aman yang dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kecemasan sosial tumbuh di tengah narasi optimisme, negara perlu lebih peka membaca sinyal itu sebagai bagian dari evaluasi kebijakan. Sebab, generasi tidak sedang menolak harapan atau perayaan. Mereka hanya membutuhkan keyakinan bahwa optimisme yang dirayakan benar-benar memiliki pijakan dalam realitas yang mereka jalani.