ASN dan Pantun: Ketika Inovasi Bermula dari Empat Baris Kata

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kebiasaan kecil yang belakangan cukup sering saya lakukan di lingkungan kerja: membuat pantun untuk pimpinan.
Biasanya menjelang sebuah acara, pimpinan akan bertanya, “Sudah ada pantunnya?”
Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi bagian dari persiapan acara. Misalnya, pantun untuk membuka acara sekaligus menyapa peserta:
Anak dara memasak gulai,
Biar wangi pakai daun salam.
Sebelum acara akan dimulai,
Izinkan kami haturkan salam.
Atau pantun untuk menutup acara:
Malam-malam bakar jerami,
Bakar dupa di atas batu.
Jawablah salam dari kami,
Sampai jumpa di lain waktu.
Awalnya mungkin hanya sebuah kebiasaan kecil. Namun, dari kebiasaan kecil itu saya melihat sesuatu yang menarik: sebuah ide sederhana ternyata bisa tumbuh menjadi budaya komunikasi.
Saya termasuk yang sejak awal ikut mendorong penggunaan pantun di lingkungan kantor. Ramai-ramainya terjadi pada masa pandemi Covid-19. Saat itu, webinar marak digelar oleh berbagai instansi pemerintah maupun lembaga lainnya di Indonesia.
Bukan karena pantun merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia. Pantun justru sudah sangat lama menjadi bagian dari kekayaan budaya dan tradisi komunikasi kita.
Yang menarik adalah bagaimana pantun kemudian ditempatkan dalam konteks birokrasi modern.
Di tengah bahasa kedinasan yang sering kali formal, panjang, dan penuh istilah, pantun dapat menjadi jeda yang sederhana. Empat baris kata bisa membuat suasana lebih cair. Pesan menjadi lebih dekat. Jarak antara pimpinan dan peserta acara seolah menjadi lebih pendek.
Pantun memang bukan sekadar permainan kata. Ia dapat menjadi cara berkomunikasi.
ASN dan Inovasi yang Sering Kali Dimulai dari Ide
Ketika berbicara tentang inovasi ASN, bayangan kita sering langsung tertuju pada aplikasi digital, sistem pelayanan baru, otomatisasi, atau teknologi yang canggih. Padahal, inovasi tidak selalu harus berbentuk teknologi.
Everett M. Rogers (1995), melalui teori Diffusion of Innovations, menjelaskan: "An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption."
Jika diterjemahkan, inovasi adalah suatu gagasan, praktik, atau objek yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau unit lain yang mengadopsinya.
Dalam konteks itu, sebuah ide sederhana pun dapat menjadi inovasi ketika diperkenalkan, diterima, digunakan, dan kemudian menyebar.
Termasuk pantun.
Bukan berarti pantun itu sendiri merupakan sesuatu yang baru. Pantun sudah menjadi warisan budaya. Tetapi ketika seorang ASN memiliki ide untuk menjadikan pantun sebagai bagian dari komunikasi kedinasan, kemudian ide tersebut diterima, digunakan oleh pimpinan, ditiru oleh rekan kerja, dan akhirnya menjadi kebiasaan bersama, di situlah proses difusi sebuah inovasi dapat terlihat.
Inovasinya bukan pada pantunnya. Inovasinya ada pada ide dan cara baru menggunakan pantun dalam konteks komunikasi organisasi.
Dari Empat Baris Menjadi Budaya
Saya pernah membuat pantun untuk berbagai keperluan acara pimpinan. Ada yang serius, ada yang formal, ada yang bernuansa humor, ada yang sengaja dibuat ringan agar peserta tidak terlalu tegang, dan ada pula yang tematik sesuai dengan acara.
Misalnya, pantun yang saya buatkan untuk pimpinan dalam acara BKPUK Semangat Banget:
Minum jamu bersama kawan,
Jamunya diminum anget-anget.
Bagi ilmu bagi pengetahuan,
Ada di BKPUK Semangat Banget.
Bahkan, pernah tiba-tiba pimpinan meminta dibuatkan pantun untuk melamar calon pengantin. Saat itu beliau menjadi perwakilan keponakannya yang akan meminang sang pujaan hati. Pantunnya:
Minum sekoteng di Pasar Jumat,
Mampir dulu di Kramat Jati.
Kami datang dengan segala hormat,
Mohon diterima dengan senang hati.
Di situ saya semakin menyadari bahwa pantun bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi juga kemampuan membaca situasi.
Menariknya, ketika pantun mulai sering digunakan, respons orang pun berubah. Yang awalnya mungkin hanya mendengarkan, kemudian mulai meminta. Yang awalnya hanya meminta, lama-lama mulai mencoba membuat sendiri.
Di sinilah saya melihat bahwa sebuah ide dapat bergerak.
Rogers menjelaskan bahwa difusi inovasi terjadi ketika sebuah inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dalam suatu waktu, di antara anggota sebuah sistem sosial.
Kalau kita sederhanakan, sebuah ide tidak akan menjadi inovasi yang berdampak jika hanya berhenti di kepala pencetusnya.
Ia harus dibagikan. Harus dicoba. Kemudian diterima. Dan, kalau memang bermanfaat, perlahan dapat diadopsi oleh orang lain.
Pantun di kantor mungkin hanyalah contoh kecil. Tetapi prinsipnya bisa jauh lebih besar.
Seorang ASN mungkin memiliki ide untuk mempercepat pelayanan. ASN lain menemukan cara baru menyederhanakan pekerjaan. Ada yang menemukan metode komunikasi yang lebih efektif. Ada pula yang memiliki gagasan sederhana untuk membangun suasana kerja yang lebih harmonis.
Tidak semuanya langsung berbentuk inovasi besar.
Kadang, inovasi memang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
BerAKHLAK dalam Empat Baris
Menariknya lagi, pantun juga dapat menjadi media untuk menghidupkan nilai-nilai BerAKHLAK.
Pantun tentang pelayanan dapat mengingatkan pentingnya Berorientasi Pelayanan. Pantun tentang tanggung jawab dapat menyampaikan pesan Akuntabel. Pantun yang mengajak belajar dan berkembang dapat menyentuh nilai Kompeten.
Pantun yang mencairkan suasana dapat membangun Harmonis. Pantun tentang kecintaan kepada bangsa dan institusi dapat membawa pesan Loyal. Pantun yang kreatif menunjukkan sikap Adaptif, sementara pantun yang dibuat bersama dapat menjadi bagian dari semangat Kolaboratif.
Tentu, pantun tidak otomatis membuat seseorang menjadi ber-AKHLAK. Tetapi komunikasi yang kreatif dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan nilai secara lebih ringan, dekat, dan mudah diingat.
Bukankah pesan yang baik bukan hanya pesan yang benar, tetapi juga pesan yang sampai?
ASN Bukan Hanya Pelaksana, tetapi Pencipta Gagasan
Dari pengalaman sederhana dengan pantun, saya semakin percaya bahwa ASN tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai pelaksana kebijakan. ASN juga memiliki ruang untuk menjadi pencipta gagasan.
Tidak semua ASN harus menciptakan inovasi besar. Tidak semua inovasi harus mendapatkan penghargaan. Tidak semua ide harus langsung mengubah sistem.
Ada inovasi yang mungkin hanya membuat pelayanan menjadi sedikit lebih cepat. Ada yang membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Ada yang membuat suasana kerja menjadi lebih manusiawi. Dan ada pula yang, seperti pantun, membuat sebuah acara yang formal menjadi sedikit lebih hangat.
Yang penting adalah keberanian untuk memiliki ide, mencoba, mengevaluasi, dan membagikannya.
Sebab, ide yang hanya disimpan sendiri tidak akan pernah menjadi perubahan.
Pantun Kecil, Makna Besar
Kini, ketika pimpinan meminta pantun untuk membuka atau menutup sebuah acara, saya tidak lagi melihatnya sekadar sebagai permintaan membuat empat baris kata.
Saya melihatnya sebagai bagian kecil dari perjalanan sebuah ide.
Sebuah ide sederhana yang dicoba. Kemudian digunakan. Lalu diterima. Dan perlahan menjadi kebiasaan.
Mungkin inilah salah satu wajah inovasi ASN yang sering luput dari perhatian. Inovasi tidak selalu hadir dengan teknologi canggih, aplikasi baru, atau sistem yang rumit.
Kadang inovasi bermula dari sebuah ide sederhana. Bahkan, bisa jadi hanya dari empat baris pantun.
Karena pada akhirnya, menjadi ASN bukan hanya tentang menjalankan pekerjaan yang sudah ada. Menjadi ASN juga tentang menghadirkan gagasan-gagasan baru agar pekerjaan menjadi lebih baik, pelayanan menjadi lebih dekat, dan organisasi menjadi lebih manusiawi.
Dan jika sebuah pantun sederhana mampu membuat orang tersenyum, mengingat pesan, mencairkan suasana, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, mungkin empat baris kata itu telah melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira.
Sebab inovasi tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang perlahan, melalui sebuah ide kecil yang terus dibagikan.
Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pantun empat baris, serta pantun dua baris atau karmina dan cara merangkainya, saya juga pernah menuliskannya dalam dua artikel di Kumparan, berjudul “Berbicara Santun dengan Pantun” dan “Karmina Ow Woo... Karmina”.
