Konten dari Pengguna

Mahasiwa Harus Sadar Pajak Sejak Kuliah, Mengapa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aspasya Juanazwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak anak muda/mahasiswa menganggap pajak sebagai urusan orang dewasa yang sudah bekerja, punya penghasilan tetap, dan mengisi formulir rumit setiap awal tahun. Padahal, pajak sudah hadir dalam hidup kita sejak lama. Setiap kali membeli makanan di restoran, berbelanja di toko, atau berlangganan layanan digital, ada pajak yang melekat pada transaksi tersebut.

Sumber: Ilustrasi AI (19/10/2026)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI (19/10/2026)

Sayangnya, pemahaman tentang pajak di kalangan generasi muda masih terbatas. Pajak sering dipandang sebagai beban, bukan sebagai bagian dari kontribusi warga negara. Di sinilah literasi perpajakan perlu dibangun sejak bangku kuliah.

Pajak Ada di Sekitar Kita?

Pajak adalah sumber utama penerimaan negara. Dari sinilah pemerintah membiayai layanan publik seperti jalan, sekolah, rumah sakit, hingga subsidi dan program bantuan sosial. Ketika kita menikmati transportasi umum atau fasilitas kesehatan, sebagian di antaranya dibiayai dari pajak yang dibayarkan masyarakat.

Bagi mahasiswa, pemahaman ini penting agar kita tidak melihat pajak sekadar sebagai “potongan”, tetapi sebagai mekanisme gotong royong dalam skala negara.

Mengapa Mahasiswa Perlu Paham Pajak Sekarang?

Ada beberapa alasan mengapa literasi pajak tidak perlu menunggu sampai kita bekerja.

Pertama, dunia kerja menuntutnya. Pekerja magang, pekerja lepas, kreator konten, hingga pelaku usaha kecil kini semakin banyak berasal dari kalangan mahasiswa. Penghasilan sekecil apa pun bisa memiliki konsekuensi perpajakan. Memahami hak dan kewajiban sejak dini membuat kita lebih siap dan tidak panik ketika menghadapinya.

Kedua, sistem perpajakan terus berkembang. Administrasi pajak di Indonesia bergerak ke arah digital dan terintegrasi. Penggunaan NIK sebagai identitas pajak serta pembaruan sistem administrasi perpajakan menunjukkan bahwa urusan pajak makin berbasis data. Generasi yang terbiasa dengan teknologi seharusnya menjadi yang paling siap beradaptasi.

Ketiga, pajak adalah bidang karier yang menjanjikan. Kebutuhan akan tenaga profesional di bidang perpajakan selalu ada, baik di instansi pemerintah, perusahaan, maupun kantor konsultan pajak. Lulusan yang paham akuntansi sekaligus regulasi pajak memiliki nilai tambah yang kuat.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi

Dalam praktiknya, ada beberapa kesalahpahaman yang masih dapat kita temui:

“Penghasilan kecil berarti tidak perlu lapor.” Pelaporan SPT adalah kewajiban administratif bagi wajib pajak yang memenuhi syarat, meskipun pajak yang terutang bisa saja nihil.

“Pajak itu urusan bagian keuangan.” Nyatanya, pemahaman dasar pajak dibutuhkan di hampir semua fungsi bisnis, mulai dari pemasaran, pengadaan, hingga logistik.

“Mengurangi pajak sama dengan menghindari pajak.” Perencanaan pajak yang sah (tax planning) berbeda dengan penggelapan pajak. Yang pertama dilakukan dalam koridor hukum, sedangkan yang kedua adalah pelanggaran.

Peran Perguruan Tinggi dan Mahasiswa

Langkah sederhana bisa dimulai dari lingkungan terdekat yaitu berbagi informasi yang benar di media sosial, ikut kegiatan edukasi pajak di kampus, atau membantu keluarga dan teman memahami kewajiban perpajakan dasar mereka. Dari hal-hal kecil inilah budaya sadar pajak tumbuh.

Sebagai mahasiswa, kita tidak perlu menunggu punya NPWP atau gaji pertama untuk mulai belajar. Pajak adalah bagian dari masa depan kita, dan masa depan itu dimulai dari pemahaman hari ini.