Konten dari Pengguna

Gerabah Pademawu Kerajinan Tradisional Yang Tetap Bertahan Di Pamekasan, Madura

Asraful Miftah

Asraful Miftah

Siswa SMAN 1 Pamekasan

·waktu baca 9 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asraful Miftah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembuatan Gerabah oleh Ibu Sutiyah
zoom-in-whitePerbesar
Pembuatan Gerabah oleh Ibu Sutiyah

Gerabah merupakan salah satu kerajinan tradisional yang dibuat dari tanah liat dan diolah menjadi berbagai macam benda yang memiliki nilai guna dan ekonomi. Salah satu kegiatan pembuatan gerabah yang masih dilakukan secara tradisional terdapat di Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura. Salah satu pengrajin yang masih mempertahankan keterampilan tersebut adalah Sutiyah, seorang pengrajin berusia 60 tahun yang telah membuat gerabah sejak duduk di kelas 6 sekolah dasar. Keterampilan tersebut diperoleh dari ibunya dan terus dipraktikkan hingga menjadi keterampilan yang dikuasainya selama puluhan tahun. Dalam satu hari, Sutiyah mampu menghasilkan sekitar 30 buah gerabah, dengan harga jual yang disesuaikan berdasarkan ukuran gerabah. Gerabah yang dihasilkan umumnya digunakan sebagai alat untuk mengulek bumbu. Proses pembuatannya menggunakan tanah liat sebagai bahan utama, kemudian melalui tahapan pembentukan, pengeringan, dan pembakaran. Untuk proses pembakaran digunakan bahan bakar berupa batok kelapa dan jerami. Berdasarkan hasil wawancara, harga batok kelapa sekitar Rp50.000 per pikap, sedangkan jerami sekitar Rp350.000 per pikap. Kerajinan gerabah tersebut tidak hanya menjadi sumber kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari warisan keterampilan keluarga dan budaya masyarakat Pademawu.

Kata kunci:gerabah, Sutiyah, Pademawu, Pamekasan, tanah liat, budaya Madura.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Kebudayaan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti bahasa, kesenian, adat istiadat, makanan tradisional, hingga kerajinan. Setiap daerah memiliki karakteristik budaya yang berbeda-beda sesuai dengan kehidupan dan lingkungan masyarakatnya. Salah satu bentuk kebudayaan yang masih dapat ditemukan hingga saat ini adalah kerajinan tradisional.

Madura merupakan salah satu wilayah yang memiliki beragam kebudayaan dan tradisi yang menjadi identitas masyarakatnya. Kabupaten Pamekasan sebagai salah satu wilayah di Pulau Madura juga memiliki berbagai potensi budaya yang menarik untuk diketahui. Salah satunya adalah kerajinan gerabah yang masih dibuat oleh sebagian masyarakat dengan menggunakan teknik tradisional.

Gerabah merupakan hasil kerajinan yang menggunakan tanah liat sebagai bahan utama. Tanah liat diolah, dibentuk, dikeringkan, kemudian dibakar hingga menghasilkan benda yang keras dan dapat digunakan. Meskipun proses tersebut terlihat sederhana, pembuatan gerabah membutuhkan keterampilan, ketelitian, kesabaran, dan pengalaman yang cukup panjang.

Salah satu pengrajin gerabah yang masih aktif membuat gerabah di Pademawu adalah Sutiyah, seorang perempuan berusia 60 tahun. Sutiyah telah mulai membuat gerabah sejak duduk di kelas 6 sekolah dasar. Keterampilan tersebut diperoleh dari ibunya, sehingga pembuatan gerabah dapat dikatakan sebagai salah satu keterampilan yang diwariskan dalam keluarganya.

Selama puluhan tahun menekuni pembuatan gerabah, Sutiyah telah terbiasa dengan berbagai tahapan dalam proses produksi. Dalam satu hari, ia dapat menghasilkan sekitar 30 buah gerabah. Harga gerabah yang dihasilkan tidak ditentukan dengan satu harga tetap, tetapi bergantung pada ukuran atau besar kecilnya gerabah.

Gerabah yang dibuat oleh Sutiyah umumnya digunakan oleh masyarakat sebagai alat untuk mengulek bumbu. Hal tersebut menunjukkan bahwa gerabah masih memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Meskipun saat ini banyak peralatan modern yang dapat digunakan untuk keperluan yang sama, gerabah tetap memiliki tempat tersendiri karena karakteristik dan kegunaannya.

Proses pembuatan gerabah juga menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam. Bahan utama yang digunakan adalah tanah liat, sedangkan proses pembakaran memanfaatkan bahan seperti batok kelapa dan jerami. Berdasarkan informasi yang diperoleh, batok kelapa yang digunakan untuk pembakaran memiliki harga sekitar Rp50.000 per pikap, sedangkan jerami sekitar Rp350.000 per pikap.

Keberadaan pengrajin seperti Sutiyah penting untuk diperhatikan karena keterampilan membuat gerabah merupakan pengetahuan tradisional yang diperoleh melalui proses belajar dan pengalaman. Apabila keterampilan tersebut tidak diwariskan kepada generasi berikutnya, bukan tidak mungkin jumlah pengrajin gerabah akan semakin berkurang.

Oleh karena itu, pembuatan gerabah di Pademawu menarik untuk dikaji. Selain mengetahui proses pembuatannya, pembahasan ini juga dapat menunjukkan nilai budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat yang terdapat di balik sebuah produk gerabah.

2. PEMBAHASAN

2.1 Profil Pengrajin Gerabah

Pengrajin yang menjadi objek observasi dalam kegiatan ini adalah Sutiyah, seorang perempuan yang berusia 60 tahun. Ia telah menekuni pembuatan gerabah sejak masih duduk di kelas 6 sekolah dasar.

Keterampilan membuat gerabah tersebut tidak diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan dipelajari secara langsung dari ibunya. Sejak usia muda, Sutiyah telah melihat dan mempelajari proses pembuatan gerabah dari ibunya. Keterampilan tersebut kemudian terus dipraktikkan hingga menjadi kemampuan yang dikuasainya.

Pengalaman selama puluhan tahun membuat Sutiyah terbiasa dengan proses pengolahan tanah liat dan pembentukan gerabah. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian karena bentuk gerabah harus dibuat dengan baik agar tidak mudah rusak ketika memasuki proses pengeringan dan pembakaran.

Hingga saat ini, keterampilan tersebut masih digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam satu hari, Sutiyah mampu menghasilkan sekitar 30 buah gerabah.

2.2 Bahan Utama Pembuatan Gerabah

Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan gerabah adalah tanah liat. Tanah liat dipilih karena memiliki sifat yang dapat dibentuk ketika masih basah dan menjadi keras setelah melalui proses pembakaran.

Tanah liat yang digunakan harus dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat menghasilkan gerabah dengan kualitas yang baik. Tanah kemudian diolah sehingga teksturnya menjadi lebih mudah dibentuk.

Selain tanah liat, air diperlukan untuk membantu proses pengolahan tanah. Air membuat tanah menjadi lebih lunak dan lentur sehingga dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan.

Untuk tahap pembakaran, digunakan bahan bakar berupa batok kelapa dan jerami. Kedua bahan tersebut berfungsi sebagai sumber panas untuk membakar gerabah hingga menjadi lebih keras.

2.3 Proses Pembuatan Gerabah

Pembuatan gerabah yang dilakukan oleh Sutiyah terdiri atas beberapa tahap.

A. Persiapan Tanah Liat

Tahap pertama adalah menyiapkan tanah liat. Tanah yang masih berupa bongkahan perlu diolah agar menjadi lebih lembut dan mudah dibentuk.

Tanah juga perlu dibersihkan dari benda-benda yang tidak diperlukan agar tidak mengganggu proses pembentukan.

B. Pembentukan Gerabah

Setelah tanah siap, pengrajin mulai membentuk tanah menjadi gerabah. Proses ini membutuhkan keterampilan tangan dan ketelitian.

Berdasarkan hasil observasi, gerabah yang dibuat berbentuk menyerupai piring atau wadah ceper. Bentuk tersebut disesuaikan dengan fungsinya sebagai alat untuk mengulek bumbu.

Pada bagian dalam beberapa gerabah juga terlihat pola garis yang saling bersilangan. Pola tersebut menjadi salah satu ciri yang tampak pada produk gerabah yang diamati.

C. Pengeringan

Gerabah yang telah selesai dibentuk kemudian dikeringkan. Tahap pengeringan bertujuan mengurangi kandungan air yang terdapat di dalam tanah liat.

Berdasarkan dokumentasi lapangan, gerabah yang belum dibakar diletakkan di area terbuka agar mendapatkan panas matahari dan sirkulasi udara.

Tahap ini perlu dilakukan dengan baik karena gerabah yang masih mengandung banyak air dapat mengalami keretakan ketika dibakar.

D. Pembakaran

Setelah cukup kering, gerabah memasuki tahap pembakaran. Pembakaran bertujuan membuat gerabah menjadi lebih keras dan kuat.

Dalam proses pembakaran, Sutiyah menggunakan batok kelapa dan jerami sebagai bahan bakar.

Berdasarkan hasil wawancara, biaya bahan bakar yang digunakan adalah:

| Bahan Bakar | Harga |

| ------------ | ----------------: |

| Batok kelapa | ± Rp50.000/pikap |

| Jerami | ± Rp350.000/pikap |

Proses pembakaran juga menghasilkan sisa abu yang terlihat pada area pembakaran. Penggunaan bahan bakar tradisional tersebut menunjukkan bahwa proses pembuatan gerabah masih mempertahankan cara yang sederhana.

E. Pendinginan

Setelah proses pembakaran selesai, gerabah dibiarkan hingga dingin. Gerabah yang masih panas tidak langsung dipindahkan agar tidak mengalami kerusakan akibat perubahan suhu yang terlalu cepat.

F. Penyimpanan

Gerabah yang sudah selesai dibakar kemudian dikumpulkan dan ditumpuk. Berdasarkan hasil dokumentasi, terdapat banyak gerabah yang telah matang dan berwarna merah kecokelatan.

Gerabah tersebut kemudian dapat dijual kepada masyarakat sesuai dengan ukuran dan jenisnya.

2.4 Kapasitas Produksi

Salah satu hal yang menarik dari kegiatan pembuatan gerabah ini adalah kemampuan produksi pengrajin.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Sutiyah, dalam satu hari dapat menghasilkan sekitar 30 buah gerabah.

Jika dihitung secara sederhana, apabila produksi berlangsung selama 30 hari penuh, jumlah tersebut secara teoritis dapat mencapai sekitar 900 gerabah per bulan. Namun, angka tersebut hanya merupakan perhitungan berdasarkan kapasitas harian dan tidak memperhitungkan hari libur, kondisi bahan, cuaca, proses pengeringan, pembakaran, serta faktor lainnya.

Kemampuan menghasilkan sekitar 30 gerabah dalam sehari menunjukkan bahwa pengalaman yang panjang memiliki peran penting dalam meningkatkan keterampilan dan kecepatan kerja pengrajin.

---

2.5 Harga dan Pemasaran Gerabah

Harga gerabah yang dihasilkan oleh Sutiyah tidak memiliki satu harga yang sama. Harga ditentukan berdasarkan besar kecilnya gerabah.

Gerabah dengan ukuran lebih besar membutuhkan bahan dan proses pengerjaan yang lebih banyak sehingga harganya dapat berbeda dengan gerabah berukuran kecil.

Produk gerabah tersebut digunakan oleh masyarakat, terutama sebagai alat untuk mengulek bumbu. Fungsi tersebut menunjukkan bahwa gerabah yang dibuat bukan hanya menjadi benda kerajinan, tetapi juga mempunyai fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

---

2.6 Fungsi Gerabah dalam Kehidupan Masyarakat

Gerabah yang dibuat oleh Sutiyah memiliki fungsi utama sebagai alat untuk mengulek bumbu. Penggunaan tersebut memperlihatkan bahwa produk tradisional masih mempunyai manfaat dalam kehidupan masyarakat.

Gerabah juga memiliki karakteristik yang berbeda dari peralatan yang dibuat dari bahan modern. Penggunaan gerabah dapat menjadi bagian dari kebiasaan memasak tradisional masyarakat.

Selain fungsi utama tersebut, bentuk gerabah juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk lain sesuai kebutuhan masyarakat dan kreativitas pengrajin.

---

2.7 Warisan Keterampilan dari Ibu

Salah satu aspek paling menarik dari kerajinan gerabah Pademawu adalah proses pewarisan keterampilan.

Sutiyah belajar membuat gerabah dari ibunya sejak kelas 6 SD. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai pembuatan gerabah dapat diwariskan secara langsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Proses pewarisan tersebut tidak hanya berupa teori, tetapi dilakukan melalui praktik. Seorang anak dapat belajar dengan melihat, mencoba, dan kemudian terus berlatih hingga menguasai keterampilan tersebut.

Keterampilan yang dimiliki Sutiyah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan melalui proses pewarisan dalam keluarga. Oleh karena itu, generasi muda memiliki peran penting untuk melanjutkan keterampilan tersebut agar tidak hilang.

---

2.8 Nilai Budaya

Pembuatan gerabah di Pademawu memiliki beberapa nilai budaya.

1. Nilai Warisan

Keterampilan yang diperoleh Sutiyah dari ibunya menunjukkan adanya proses pewarisan budaya dalam keluarga.

2. Nilai Ketekunan

Membuat sekitar 30 gerabah dalam sehari membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

3. Nilai Kesabaran

Pengrajin harus sabar dalam mengolah tanah, membentuk gerabah, mengeringkannya, dan menunggu proses pembakaran.

4. Nilai Kreativitas

Tanah liat yang merupakan bahan alam dapat diubah menjadi benda yang memiliki bentuk dan fungsi tertentu.

5. Nilai Kearifan Lokal

Penggunaan tanah liat, batok kelapa, dan jerami menunjukkan pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

---

2.9 Nilai Ekonomi

Selain sebagai warisan budaya, pembuatan gerabah juga memiliki nilai ekonomi. Hasil produksi dapat dijual dan memberikan pendapatan kepada pengrajin.

Jumlah produksi sekitar 30 buah per hari memberikan peluang bagi pengrajin untuk memperoleh penghasilan dari hasil kerjanya. Namun, pendapatan yang diperoleh tentu bergantung pada ukuran, harga jual, jumlah produk yang berhasil dibuat, serta biaya produksi.

Salah satu biaya yang harus diperhatikan adalah bahan bakar pembakaran. Batok kelapa memiliki harga sekitar Rp50.000 per pikap, sedangkan jerami sekitar Rp350.000 per pikap.

Dengan demikian, pengrajin perlu mempertimbangkan biaya bahan dan proses produksi ketika menentukan harga jual gerabah.

---

2.10 Tantangan dalam Melestarikan Gerabah

Kerajinan gerabah menghadapi berbagai tantangan di era modern. Salah satunya adalah banyaknya peralatan rumah tangga yang dibuat menggunakan bahan plastik, logam, dan bahan modern lainnya.

Selain itu, keterampilan membuat gerabah membutuhkan proses belajar yang panjang. Jika generasi muda tidak tertarik untuk mempelajarinya, keterampilan tersebut dapat mengalami penurunan.

Biaya bahan bakar juga menjadi salah satu tantangan karena proses pembakaran membutuhkan bahan dalam jumlah tertentu. Oleh karena itu, keberlangsungan usaha gerabah membutuhkan pengelolaan biaya yang baik.

---

2.11 Upaya Pelestarian

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keberadaan gerabah Pademawu antara lain:

1. Mengenalkan gerabah kepada generasi muda melalui sekolah dan kegiatan budaya.

2. Mendokumentasikan proses pembuatan gerabah melalui foto dan video.

3. Mempromosikan produk melalui media sosial agar dikenal masyarakat luas.

4. Mengembangkan desain dan bentuk produk tanpa menghilangkan ciri tradisional.

5. Mengadakan pameran kerajinan lokal untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.

6. Memberikan pelatihan kepada generasi muda agar keterampilan dapat diwariskan.

7. Memberikan dukungan kepada pengrajin lokal melalui program pemerintah dan masyarakat.

---

3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Gerabah merupakan salah satu kerajinan tradisional yang memanfaatkan tanah liat sebagai bahan utama. Pembuatan gerabah di Pademawu, Pamekasan, Madura, masih dilakukan dengan mempertahankan keterampilan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu pengrajin yang masih mempertahankan keterampilan tersebut adalah Sutiyah, yang kini berusia 60 tahun. Ia mulai membuat gerabah sejak kelas 6 sekolah dasar dan mempelajari keterampilan tersebut dari ibunya. Pengalaman selama puluhan tahun membuatnya mampu menghasilkan sekitar 30 gerabah dalam satu hari.

Gerabah yang dihasilkan umumnya digunakan masyarakat sebagai alat untuk mengulek bumbu. Harga gerabah disesuaikan dengan ukuran, sehingga gerabah berukuran berbeda dapat memiliki harga yang berbeda pula.

Bahan utama yang digunakan adalah tanah liat. Dalam proses pembakaran, digunakan batok kelapa dan jerami. Berdasarkan hasil wawancara, batok kelapa memiliki harga sekitar Rp50.000 per pikap, sedangkan jerami sekitar Rp350.000 per pikap.

Kerajinan gerabah Pademawu memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Yang paling penting adalah adanya proses pewarisan keterampilan dari ibu kepada anak, seperti yang dialami oleh Sutiyah. Hal tersebut menunjukkan bahwa gerabah bukan hanya sebuah benda, tetapi juga merupakan bagian dari pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang perlu dijaga.

3.2 Saran

Kerajinan gerabah di Pademawu perlu terus dilestarikan agar tidak hilang akibat perkembangan zaman. Generasi muda diharapkan dapat mengenal dan mempelajari kerajinan tersebut sebagai bagian dari budaya lokal.

Pengrajin juga dapat melakukan inovasi terhadap bentuk dan desain gerabah agar tetap diminati masyarakat. Pemanfaatan media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan proses pembuatan dan hasil gerabah kepada masyarakat yang lebih luas.

Sekolah dan pemerintah juga dapat ikut berperan dalam pelestarian melalui kegiatan kunjungan, pembelajaran budaya lokal, pelatihan, pameran, dan dukungan terhadap pengrajin. Dengan adanya kerja sama tersebut, keterampilan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dapat terus bertahan.

Sumber Data

Data dalam artikel ini diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara dengan Sutiyah, pengrajin gerabah berusia 60 tahun di Pademawu, Pamekasan, Madura. Dokumentasi berupa foto proses pembuatan gerabah juga digunakan sebagai data pendukung.