Pelabuhan Emmahaven: Cikal Bakal Kota Padang Sebagai Kota Pelabuhan

Mahasiswa di Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Asril Rozaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara historis Kota Padang sudah ada sejak abad ke-17, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 1669. Ditandai dengan adanya penyerangan yang dilakukan oleh masyarakat lokal terhadap Loji-loji Belanda (Benteng Belanda), peristiwa perlawanan ini menandai perjuangan masyarakat lokal dalam melawan VOC. Untuk mengingat perjuangan dan perlawanan tersebut maka ditetapkan tanggal 7 Agustus 1669 sebagai Hari Jadi Kota Padang.
Awal Mula Kota Padang
Dilansir Tempo.co, pada tahun 1668 VOC menguasai wilayah Pesisir Barat Sumatera dan berhasil menghilangkan pengaruh Kesultanan Aceh di wilayah pesisir. Yang dibuktikan dengan adanya surat dari Jacob Pits terhadap Raja Pagaruyung yang berisi tentang permintaan kerjasama dagang antara kedua belah pihak. Setelah berada di bawah pengaruh VOC, Kota Padang yang awalnya sebagai daerah nelayan berubah menjadi kota pelabuhan yang ramai dengan pedagang mancanegara.
Namun karena muak dengan tingkah laku VOC yang menguasai dan memonopoli wilayah tersebut. Masyarakat Minangkabau terutama warga Koto Tangah dan Pauh melakukan perlawanan terhadap VOC. Puncak perlawanan terjadi pada tanggal 7 Agustus 1669, dimana masyarakat lokal berhasil menguasai Loji Belanda (Benteng Belanda) yang berada di daerah Muaro. Walau demikian loji tersebut dapat dikuasai kembali oleh VOC setelah meredam perlawanan dari masyarakat lokal. Untuk mengingat perjuangan dan perlawanan tersebut maka ditetapkan tanggal 7 Agustus 1669 sebagai Hari Jadi Kota Padang.
Muaro Sebagai Cikal Bakal Pelabuhan
Dilansir dari buku Fort De Kock, Padang dan Sekitarnya karya Fadli Zon dan Mahpudi, Muaro sendiri merupakan pertemuan antara Samudra Hindia dengan Batang Arau (sungai). Sebelum datangnya VOC ke Nusantara, Muaro sudah ada lebih dulu sebagai pelabuhan bagi nelayan, dan setelah VOC datang pelabuhan ini tetap menjadi pelabuhan yang dapat menampung kapal Belanda dengan berat kurang dari 200 ton. Namun dengan adanya penemuan batu bara di daerah Ombilin, membuat penguasa Hindia Belanda memerlukan tempat yang lebih ideal untuk dijadikan pelabuhan bagi kapal-kapal yang berukuran lebih besar. Sehingga para penguasa Hindia Belanda memutuskan untuk memindahkan pelabuhan ke wilayah yang lebih strategis dan dekat dengan Muaro.
Maka dipilih daerah Teluk Bayur sebagai pelabuhan yang dapat menampung kapal-kapal Belanda berukuran besar. Teluk Bayur memiliki jarak 9 km dari Pelabuhan Muaro. Selain dekat, ada beberapa pertimbangan yang membuat Teluk Bayur dipilih sebagai pelabuhan, alasan tersebut seperti Teluk Bayur memiliki perairan yang dalam sehingga lebih aman untuk kapal-kapal besar bersandar sepanjang tahun, penemuan batubara di Ombilin tentunya membuat penguasa Hindia Belanda memerlukan pelabuhan yang lebih besar untuk mengekspor batu bara.
Pelabuhan Emmahaven
Dilansir dari buku Fort De Kock, Padang dan Sekitarnya karya Fadli Zon dan Mahpudi, Pelabuhan Emmahaven yang sekarang ini akrab dikenal dengan nama Pelabuhan Teluk Bayur dibangun pada tahun 1888-1893. Pembangunan pelabuhan dilakukan pada masa Hendrik Dirk Canne ketika menjabat sebagai Gubernur Sumatera. Pelabuhan ini selain mengangkut hasil alam juga mengangkut penumpang. Dikarenakan pada abad ke-19 jalur pelayaran antara Batavia-Padang sangat ramai. Ditambah lagi dengan adanya penemuan batu bara di Ombilin, menambah keyakinan penguasa Hindia Belanda untuk menjadikan pelabuhan ini sebagai pelabuhan induk di pesisir Sumatera bagian barat. Sehingga pembangunan dimulai pada tahun 1888 dan selesai pada tahun 1893. Dari sekian banyak nama yang diusulkan untuk menjadi nama pelabuhan ini. Penguasa Hindia Belanda menetapkan nama Emmahaven sebagai nama pelabuhan, untuk menghormati Ibu Suri dari Ratu Wilhelmina.
Pelabuhan Emmahaven mengalami renovasi pada tahun 1890-1895, untuk memaksimalkan pengangkutan hasil alam seperti kopi, rempah-rempah dan hasil tambang seperti semen dan batu bara. Setelah direnovasi, Pelabuhan Emmahaven dihubungkan dengan Stasiun Simpang Haru untuk mengangkut penumpang dan hasil alam. Sedangkan untuk hasil tambang, Pelabuhan Emmahaven terhubung dengan Sawahlunto menggunakan jalur kereta api.
Masa Pelabuhan Emmahaven Sepi Peminat
Di awal abad ke-20, pesisir Sumatera yang dekat dengan Selat Malaka mengalami perkembangan yang pesat, terutama pada Pelabuhan Belawan yang ada di Kota Medan. Ini tentunya berpengaruh pada pelabuhan Emmahaven yang mengalami penurunan jumlah angkutan. Namun puncak dari sepinya Pelabuhan Emmahaven terjadi ketika tahun 1930-an, akibat terjadinya krisis ekonomi global. Krisis ini sering disebut malaise yang dimulai pada tahun 1929 dan berdampak besar terhadap seluruh dunia. Tentunya krisis ini membuat Pelabuhan Teluk Bayur semakin terpuruk, hingga akhirnya pada tahun 1942 Pelabuhan Teluk Bayur dikuasai oleh Tentara Jepang.
Kembalinya Masa keemasan Pelabuhan Teluk Bayur
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia Pelabuhan Emmahaven berubah nama menjadi Pelabuhan Teluk Bayur, dan nama ini menjadi populer hingga hari ini. Sejak masa ini Pelabuhan Teluk Bayur menjadi ramai kembali dan dijadikan pelabuhan utama di Sumatera Barat, bahkan Pelabuhan Teluk Bayur menjadi salah satu urat nadi transportasi yang ada di Indonesia . Hingga saat ini Pelabuhan Teluk Bayur menjadi pintu gerbang ekonomi dan ekspor-impor yang menghubungkan pasar internasional. Semakin ramainya pelabuhan Teluk Bayur, tentunya seimbang dengan semakin ditingkatkan fasilitas yang ada di pelabuhan ini.
Bahkan Pelabuhan Teluk Bayur banyak diabadikan menjadi budaya pop maupun kisah sastra. Yang paling terkenal tentunya lagu ciptaan Zaenal Arifin yang berjudul “Teluk Bayur”. Salin lagu ini, tentunya masih banyak karya seni yang menceritakan tentang Pelabuhan Teluk Bayur. Karya-karya yang menceritakan tentang Pelabuhan Teluk Bayur tentunya menambah kepopuleran pelabuhan ini dan menjadi semakin banyak diketahui orang.
Sumber:
www.tempo.co https://www.tempo.co/politik/7-agustus-1669-kelahiran-kota-padang-mengingat-lagi-perlawanan-rakyat-minangkabau-lawan-belanda-311301
Buku Fort De Kock, Padang dan Sekitarnya karya Fadli Zon dan Mahpudi
