Awalnya Tidak Suka Anak Kecil, Sekarang Justru Belajar Memahaminya
Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya sebenarnya bukan orang yang terlalu suka dengan anak kecil. Dulu, saya merasa berhadapan dengan anak kecil pasti melelahkan. Mereka bisa berisik, banyak bertanya, sulit diam, dan terkadang melakukan hal-hal yang membuat kita bingung harus merespons seperti apa. Karena itu, ketika memilih kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), saya sempat berpikir, bagaimana bisa saya belajar dan nantinya mengajar anak-anak kalau saya sendiri tidak terlalu menyukai mereka?
Ternyata, kuliah di PGSD membuat saya belajar melihat anak-anak dari sudut pandang yang berbeda. Saya tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga belajar mengenai tahap pertumbuhan dan perkembangan anak, kebutuhan mereka, serta cara mengajar yang sesuai dengan usia dan karakter mereka.
Hampir setiap hari ada saja hal yang membuat saya harus memikirkan bagaimana cara mengajar anak sekolah dasar dengan baik. Mulai dari menentukan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami, memilih media pembelajaran yang sesuai, membuat modul, sampai menentukan model pembelajaran yang cocok untuk siswa sekolah dasar.
Belum lagi ada kegiatan microteaching yang membuat saya harus mencoba menjadi seorang guru di depan teman-teman. Dari kegiatan tersebut, saya mulai memahami bahwa menjadi guru tidak hanya tentang bisa menjelaskan materi. Cara berbicara, cara memberikan contoh, cara menghadapi siswa, sampai cara membuat pembelajaran agar tidak membosankan juga perlu dipikirkan.
Hal yang awalnya terasa cukup menguras energi ternyata semakin lama mulai menjadi kebiasaan. Saya mulai terbiasa memikirkan, “Kalau anak SD yang belajar materi ini, kira-kira mereka akan lebih mudah mengerti dengan cara seperti apa?”
Saya juga mulai memahami bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada anak yang mudah mengikuti arahan, ada yang aktif dan sulit diam, ada yang membutuhkan perhatian lebih, dan ada juga anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Menghadapi anak yang aktif atau sulit mengikuti aturan tentu tidak cukup hanya dengan memarahinya. Begitu juga ketika berhadapan dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus, seorang guru perlu memahami kondisi dan kebutuhan anak tersebut agar dapat memberikan pembelajaran yang sesuai.
Dari situ saya mulai menyadari bahwa menjadi guru ternyata membutuhkan kesabaran dan kemampuan untuk memahami anak. Tidak semua anak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Cara yang berhasil untuk satu anak belum tentu berhasil untuk anak lainnya.
Awalnya semua hal tersebut terasa seperti tugas yang banyak dan melelahkan. Membuat modul, menyiapkan media, memikirkan model pembelajaran, melakukan microteaching, sampai belajar memahami karakter anak terkadang membuat saya bertanya-tanya, kenapa banyak sekali yang harus dipelajari hanya untuk mengajar anak SD?
Namun, semakin sering belajar tentang anak, pandangan saya perlahan berubah. Saya mulai menyadari bahwa memahami anak ternyata menarik. Anak-anak memang bisa membuat lelah, tetapi mereka juga memiliki cara sendiri dalam menunjukkan apa yang mereka inginkan dan rasakan.
Apalagi ketika sudah dekat dengan mereka. Kita mulai tahu apa yang mereka sukai, apa yang membuat mereka bersemangat, dan bagaimana cara mereka berkomunikasi. Dari situ, sesuatu yang awalnya saya pikir melelahkan ternyata bisa menjadi hal yang menyenangkan.
Mungkin saya memang belum bisa mengatakan bahwa saya sangat menyukai anak kecil sejak awal. Namun, belajar di jurusan PGSD membuat saya memahami bahwa menyukai anak tidak selalu berarti harus langsung merasa nyaman dengan mereka.
Terkadang, rasa suka justru muncul setelah kita belajar memahami mereka.
Dan kalau dipikir-pikir lagi, anak kecil itu memang lucu. Apalagi ketika kita sudah dekat dengan mereka dan mulai tahu sebenarnya mereka maunya apa. Dari yang awalnya hanya terasa melelahkan, lama-lama justru menjadi sesuatu yang saya nikmati.

