Di Tengah Tumpukan Deadline, Mahasiswa Juga Bisa Kelelahan
Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjadi mahasiswa ternyata tidak sesederhana yang pernah aku bayangkan. Dulu, kuliah mungkin terlihat seperti datang ke kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, lalu selesai. Kenyataannya, semakin dijalani, semakin banyak hal yang harus dipikirkan dalam waktu yang bersamaan.
Ada tugas yang belum selesai, deadline yang semakin dekat, dan pertemuan mata kuliah yang tetap harus diikuti. Belum selesai memikirkan satu pekerjaan, sudah ada tugas lain yang harus dikerjakan. Rasanya seperti tidak pernah benar-benar selesai dengan satu tanggung jawab sebelum tanggung jawab berikutnya datang.
Yang paling terasa biasanya ketika malam tiba.
Saat sebagian orang mulai beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian, aku masih harus membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Kadang hanya berniat mengerjakan sebentar, tetapi ternyata waktu sudah menunjukkan tengah malam. Besoknya harus kembali beraktivitas, tetapi tugas belum juga selesai.
Begadang akhirnya terasa seperti sesuatu yang biasa.
Bukan karena aku ingin terus-terusan tidur larut, tetapi terkadang memang hanya itu waktu yang tersisa untuk menyelesaikan semuanya. Siang digunakan untuk mengikuti kegiatan dan perkuliahan, sedangkan malam menjadi kesempatan untuk mengejar pekerjaan yang tertunda.
Belum lagi ketika ada pertemuan kuliah secara online. Di satu sisi, aku harus mengikuti kelas dan memahami materi. Di sisi lain, ada tugas yang deadline-nya semakin dekat. Kadang rasanya ingin fokus pada satu hal saja, tetapi sebagai mahasiswa, banyak hal harus tetap berjalan secara bersamaan.
Di tengah keadaan seperti itu, aku juga sering berpikir tentang bagaimana caranya bisa belajar secara konsisten.
Aku ingin punya waktu khusus untuk membaca materi. Aku ingin mengerjakan tugas lebih awal. Aku ingin tidak selalu mengandalkan waktu menjelang deadline. Namun, keinginan tersebut tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada hari ketika aku bisa menyelesaikan banyak hal. Tetapi ada juga hari ketika rasanya untuk membuka laptop saja sudah cukup melelahkan.
Dan mungkin, rasa lelah seperti itu tidak selalu berarti aku malas.
Ada kalanya tubuh dan pikiran memang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Sayangnya, sebagai mahasiswa, berhenti terkadang terasa seperti sebuah kesalahan karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan.
Aku pun mulai menyadari bahwa konsisten bukan berarti harus selalu produktif setiap hari. Ada hari ketika aku bisa belajar lebih banyak dan ada hari ketika aku hanya mampu menyelesaikan tugas yang paling mendesak. Keduanya tetap merupakan bagian dari proses.
Menjadi mahasiswa memang mengajarkan banyak hal. Bukan hanya tentang materi perkuliahan, tetapi juga tentang bagaimana mengatur waktu, menentukan prioritas, bertanggung jawab, dan mengenali batas kemampuan diri sendiri.
Namun, di balik semua itu, menjadi mahasiswa juga berarti belajar menghadapi rasa lelah.
Ada mahasiswa yang mungkin terlihat baik-baik saja ketika mengikuti kelas, tetapi malamnya masih harus menyelesaikan tugas. Ada yang terlihat santai di depan teman-temannya, tetapi sebenarnya sedang memikirkan deadline yang belum selesai. Ada pula yang tetap mengikuti perkuliahan meskipun malam sebelumnya tidur larut karena mengejar pekerjaan.
Aku rasa, kehidupan mahasiswa memang tidak selalu harus terlihat produktif.
Tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah. Tidak apa-apa jika suatu hari tidak bisa menyelesaikan semua hal sesuai rencana. Selama masih berusaha menyelesaikan tanggung jawab yang ada dan kembali melanjutkan ketika sudah memiliki tenaga, proses itu tetap berarti.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang baik atau menyelesaikan semua tugas tepat waktu. Ada proses panjang untuk belajar mengenal diri sendiri, termasuk memahami kapan harus berusaha lebih keras dan kapan harus memberikan waktu untuk beristirahat.
Karena ternyata, menjadi mahasiswa sesekali memang sesederhana satu kata: capek.

