Konten dari Pengguna

Ketika Algoritma Media Sosial Membentuk Apa yang Kita Lihat Setiap Hari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari perangkat mereka, garis-garis koneksi digital yang bercabang seperti saraf atau sirkuit mengalir menuju ke bagian atas, yang melambangkan sistem algoritma dan berbagai kategori konten digital seperti tren terkini, berita, video viral, hingga rekomendasi personal. sumber gambar: gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Dari perangkat mereka, garis-garis koneksi digital yang bercabang seperti saraf atau sirkuit mengalir menuju ke bagian atas, yang melambangkan sistem algoritma dan berbagai kategori konten digital seperti tren terkini, berita, video viral, hingga rekomendasi personal. sumber gambar: gemini AI

Pernah merasa bahwa isi beranda media sosial semakin lama semakin mirip? awalnya kita hanya menonton satu video tentang memasak. beberapa waktu kemudian, rekomendasi mulai dipenuhi resep makanan, ulasan restoran, hingga tips membuat hidangan sederhana. hal serupa juga terjadi ketika kita sering melihat konten pendidikan, hiburan, kecantikan, atau olahraga.

Kemunculan konten tersebut bukan sepenuhnya kebetulan. media sosial menggunakan sistem algoritma untuk menentukan unggahan apa yang kemungkinan menarik perhatian penggunanya. tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti menyukai unggahan, menonton video sampai selesai, memberikan komentar, atau mencari topik tertentu dapat memengaruhi rekomendasi yang muncul berikutnya.

Mengapa isi beranda setiap orang bisa berbeda?

Coba bandingkan halaman rekomendasi media sosial milik dua orang yang memiliki minat berbeda. seseorang yang sering menonton video tentang pendidikan mungkin lebih banyak menemukan konten pembelajaran. sementara itu, pengguna yang menyukai musik akan mendapatkan lebih banyak rekomendasi lagu, konser, atau aktivitas musisi favoritnya.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan cara kerja algoritma rekomendasi. sistem ini memanfaatkan berbagai informasi dari aktivitas pengguna untuk memperkirakan konten yang dianggap menarik. tujuannya adalah membantu pengguna menemukan unggahan yang sesuai dengan minat mereka.

Dengan cara tersebut, pengguna tidak harus mencari semua informasi secara manual. konten yang dianggap relevan dapat muncul langsung di halaman utama. meskipun memudahkan, sistem ini juga membuat pengalaman setiap orang dalam menggunakan media sosial menjadi berbeda.

Saat rekomendasi mulai memengaruhi cara pandang

Ada hal lain yang menarik untuk diperhatikan. ketika seseorang terus-menerus menerima konten dengan tema serupa, ia bisa semakin akrab dengan informasi tersebut. lama-kelamaan, topik tertentu mungkin terasa lebih penting atau lebih umum dibandingkan kenyataan sebenarnya.

Misalnya, seseorang yang sering melihat video tentang gaya hidup mewah dapat mulai menganggap bahwa kehidupan orang lain selalu dipenuhi barang bagus, liburan, dan pengalaman menyenangkan. jika tidak disikapi dengan bijak, tontonan seperti ini dapat memengaruhi cara seseorang menilai kehidupannya sendiri.

Situasi berbeda juga bisa terjadi ketika pengguna sering melihat informasi yang hanya mendukung satu pendapat. ia mungkin jarang menemukan penjelasan dari sudut pandang lain karena konten yang muncul cenderung mengikuti ketertarikannya sebelumnya.

Apa yang ditemukan dalam penelitian?

Fenomena tersebut pernah diteliti oleh Eytan Bakshy, Solomon Messing, dan Lada A. Adamic melalui penelitian berjudul Exposure to Ideologically Diverse News and Opinion on Facebook yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2015.

Penelitian tersebut menganalisis aktivitas 10,1 juta pengguna Facebook di Amerika Serikat untuk melihat bagaimana mereka menemukan berita dengan pandangan politik yang berbeda. hasilnya menunjukkan bahwa pengurutan konten oleh algoritma memang memengaruhi informasi yang muncul di beranda. tetapi, pilihan pengguna dalam mengeklik berita juga memiliki pengaruh yang lebih besar dalam membatasi paparan terhadap pandangan berbeda.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa informasi yang kita lihat tidak hanya ditentukan oleh sistem media sosial. keputusan pribadi, seperti memilih konten yang ingin dibaca atau dilewati, juga ikut membentuk pengalaman kita di dunia digital.

Bukan berarti algoritma selalu merugikan

Di sisi lain, rekomendasi media sosial sebenarnya memiliki manfaat. pengguna bisa lebih mudah menemukan informasi sesuai kebutuhan, mengikuti perkembangan bidang yang disukai, bahkan mengenal hal baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.

Seorang mahasiswa, misalnya, dapat menemukan video penjelasan materi kuliah, referensi pembelajaran, atau informasi beasiswa melalui rekomendasi yang muncul di berandanya. bagi seseorang yang sedang mempelajari keterampilan baru, konten tutorial juga bisa menjadi sumber pengetahuan tambahan.

Persoalannya bukan terletak pada keberadaan algoritma, melainkan bagaimana kita menggunakan media sosial dan menyikapi informasi yang disajikan. jangan sampai rekomendasi yang muncul membuat kita hanya mengenal satu jenis informasi dan melupakan kemungkinan adanya sudut pandang lain.

Pengguna tetap memiliki kendali

Menggunakan media sosial tidak harus berarti menerima semua rekomendasi begitu saja. ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan, seperti mencari informasi dari berbagai sumber, mengikuti akun dengan topik yang beragam, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya.

Kita juga perlu membiasakan diri untuk tidak langsung menganggap suatu informasi benar hanya karena sering muncul di beranda. frekuensi kemunculan sebuah konten tidak otomatis membuktikan bahwa isinya akurat atau mewakili keadaan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, algoritma memang ikut menentukan apa yang kita lihat setiap hari. tetapi, bukan berarti kita harus membiarkan rekomendasi tersebut menjadi satu-satunya sumber informasi. semakin beragam informasi yang kita cari, semakin besar pula kesempatan untuk mengenal berbagai sudut pandang.

Media sosial seharusnya membantu kita memperluas wawasan, bukan justru membuat dunia terasa semakin sempit.