Konten dari Pengguna

Menang dengan Bertahan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar: kepemilikan pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar: kepemilikan pribadi

Ada banyak hal dalam hidup yang membuat kita merasa tidak nyaman. Kadang datangnya bergantian, bahkan rasanya belum selesai menghadapi satu masalah, sudah muncul masalah yang lain. Capek juga kalau harus terus berurusan dengan hal-hal seperti itu.

Kesusahan, kegagalan, kehilangan, kekecewaan, atau kejadian yang tidak sesuai dengan harapan bisa membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya kenapa semua ini harus terjadi kepada saya?

Saya sendiri terkadang menghadapi masalah dengan cara seperti itu. Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, pikiran saya bisa langsung dipenuhi pertanyaan. “Saya salah apa?” “Kenapa harus saya?” “Saya tidak pantas mendapatkan semua ini.” Tanpa sadar, cara berpikir seperti itu justru membuat keadaan terasa semakin berat.

Kejadiannya mungkin memang sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Namun, saya mulai menyadari bahwa cara saya melihat kejadian tersebut masih bisa saya usahakan.

Kita memang tidak selalu bisa memilih apa yang akan terjadi dalam hidup. Ada hal-hal yang datang tanpa kita minta dan tidak bisa kita kendalikan. Tetapi, bagaimana kita menginterpretasikan kejadian tersebut menjadi bagian yang masih bisa kita pilih.

Misalnya ketika mengalami kegagalan, kita bisa menganggapnya sebagai bukti bahwa diri kita tidak mampu. Namun, kita juga bisa melihatnya sebagai pengalaman yang menunjukkan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Ketika mengalami kesulitan, kita bisa terus bertanya mengapa hal itu terjadi kepada kita. Atau kita bisa mencoba bertanya, apa yang bisa saya pelajari dari keadaan ini?

Bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia ketika sedang mengalami sesuatu yang sulit. Menurut saya, merasa sedih, kecewa, marah, atau lelah tetap merupakan hal yang wajar. Mengubah cara pandang bukan berarti menghilangkan perasaan yang tidak menyenangkan.

Yang ingin saya katakan adalah jangan sampai interpretasi kita terhadap suatu kejadian justru membuat keadaan menjadi semakin buruk.

Kalau setiap masalah langsung kita anggap sebagai hukuman, mungkin kita akan semakin merasa tidak berdaya. Tetapi jika kita mencoba melihatnya sebagai ujian atau tantangan, mungkin kita bisa menemukan sedikit ruang untuk bertahan dan mencari jalan keluar.

Saya tahu kalimat seperti ini terdengar sangat sederhana. Bahkan mungkin mengingatkan kita pada nasihat guru BK di sekolah. Ketika sedang mengalami masalah, kita sering mendengar kalimat seperti “ambil hikmahnya” atau “jadikan masalah sebagai pembelajaran.”

Namun, semakin saya memikirkannya, ternyata ada sesuatu yang cukup masuk akal dari kalimat tersebut.

Kita tidak bisa mengulang kejadian dan mengubah apa yang sudah terjadi. Tetapi kita masih bisa mengubah cerita yang kita buat tentang kejadian tersebut di dalam pikiran kita.

Misalnya, daripada terus berpikir, “Kenapa saya harus mengalami ini?” mungkin kita bisa perlahan mengubahnya menjadi, “Saya memang tidak memilih mengalami ini, tetapi sekarang saya harus menghadapinya. Apa yang bisa saya lakukan?”

Perubahan kalimat tersebut memang tidak langsung membuat masalah hilang. Tetapi setidaknya kita tidak menambah beban dengan terus menyalahkan diri sendiri atau keadaan.

Saya juga teringat pada beberapa hal yang saya pelajari dari pemikiran Stoik. Hidup memang memiliki banyak hal yang berada di luar kendali manusia. Ada kejadian yang tidak bisa kita atur, termasuk keadaan tertentu yang datang kepada kita.

Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mungkin memang begitu bagian dari menjadi manusia. Kita hidup berdampingan dengan banyak hal yang tidak bisa kita pilih.

Karena itu, mungkin tujuan kita bukan selalu menghindari rasa tidak nyaman.

Mungkin kita perlu belajar untuk tetap berdiri ketika rasa tidak nyaman itu datang.

Seperti tebing karang yang tetap berada di tempatnya ketika diterpa badai. Badai datang, menghantam, lalu berlalu. Karang tidak perlu mengejar badai atau melawannya dengan cara yang sama. Ia hanya tetap bertahan.

Mungkin dalam beberapa keadaan, bertahan juga sudah merupakan bentuk kemenangan.

Kita tidak selalu harus langsung menjadi kuat. Tidak harus langsung tahu bagaimana menyelesaikan semuanya. Tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.

Kadang yang bisa kita lakukan hanya menjalani hari ini, kemudian mencoba lagi besok.

Dan mungkin itu bukan hal yang buruk.

Karena bisa saja masalah yang sekarang terasa begitu besar suatu hari nanti hanya menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana kita pernah melewati masa yang sulit.

Jadi ketika hidup kembali memberikan sesuatu yang tidak kita inginkan, mungkin kita tidak perlu langsung bertanya, “Kenapa ini terjadi kepada saya?”

Kita bisa mencoba bertanya, “Bagaimana saya ingin meresponsnya?”

Karena kita mungkin tidak bisa menentukan badai apa yang akan datang. Tetapi kita masih bisa belajar bagaimana cara berdiri ketika badai itu datang. Hang in there. Bertahanlah.

Mungkin kita belum menang hari ini. Tetapi selama kita masih bertahan, cerita kita belum selesai.