Konten dari Pengguna

Nostalgia Masa Kecil: Saat Hidup Ternyata Pernah Sesederhana Itu

asrina mawarni'ma

asrina mawarni'ma

mahasiswa aktif universitas pamulang yang sedang menempuh pendikan s1 prodi PGSD fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Sebagai mahasiswa PGSD, saya memanfaatkan Kumparan sebagai referensi berita yang kredibel dan aktual.

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://chatgpt.com/s/m_6825869bfeb48191805195ef2c69c683
zoom-in-whitePerbesar
https://chatgpt.com/s/m_6825869bfeb48191805195ef2c69c683

rindu masa kecil, hidup sederhana refleksi hidup

Aku masih ingat masa kecilku.

Bangun pagi bukan untuk mengejar tenggat atau mencari penghasilan. Namun, sekadar menonton kartun pukul enam pagi sambil menikmati roti tawar dengan olesan mentega seadanya. Hari Minggu menjadi hari yang paling dinanti karena aku dapat bangun sedikit lebih siang, bermain layang-layang, atau sekadar duduk di depan rumah memperhatikan orang yang berlalu-lalang.

Saat itu, hidup terasa ringan.

# Masa Kecil Sederhana yang Kini Kita Rindukan

Tidak ada rasa bersalah meskipun seharian tidak melakukan hal yang produktif. Tidak ada tekanan untuk menjadi seseorang. Tidak ada pesan masuk dari atasan pada pukul sepuluh malam. Dunia hanya berisi hal-hal sederhana: keluarga, teman bermain, dan angin.

Kini, semuanya telah berubah.

Refleksi hidup hari ini membuatku rindu pada masa kecil sederhana yang dulu terasa cukup.

Aku bangun bukan karena cahaya matahari, melainkan karena dering alarm yang kutunda berulang kali. Sarapan sering kali kulewatkan, digantikan oleh secangkir kopi instan sambil membuka komputer jinjing. Setiap hari terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Satu hal selesai, muncul hal lain. Target demi target. Harapan demi harapan. Kadang-kadang aku duduk diam pada sore hari dan mencoba menarik napas panjang. Namun, napas itu seolah hanya lewat begitu saja karena pikiranku telah lebih dahulu berlari ke pekerjaan esok hari, tagihan bulan ini, atau pertanyaan lama yang belum kutemukan jawabannya: “Sebenarnya, aku ini ingin menjadi apa?”

Bukan rindu kepada seseorang, tetapi kepada sebuah masa.

Masa ketika hujan hanyalah pertanda waktu untuk bermain air. Masa ketika kebahagiaan hadir dari jajanan serut seharga seribu rupiah. Masa ketika aku belum merasa harus selalu menjadi versi terbaik dari diriku setiap saat.

Aku tahu waktu tidak dapat diulang. Namun, akhir-akhir ini aku mencoba untuk menghadirkan kembali rasa yang pernah ada. Bukan dengan menjadi seperti anak-anak lagi, tetapi dengan merangkul bagian dari diriku yang dahulu merasa cukup hanya dengan hal-hal sederhana.

Sekarang, aku sedang belajar untuk berjalan lebih pelan. Jika lelah, aku berhenti. Jika sedih, aku tidak tergesa-gesa mencari pelarian, melainkan mencoba mendengarkan. Aku mulai berani berkata kepada diri sendiri: “Hari ini cukup, meskipun aku belum menyelesaikan segalanya.”

Ternyata, ketenangan bukan selalu hadir setelah semua target tercapai. Ketenangan datang saat kita bisa berdamai dengan hari ini—meskipun bentuknya tidak sempurna.

Tulisan ini kutulis bukan karena aku telah menemukan semua jawabannya. Tetapi karena aku tahu ada banyak orang yang mungkin juga merasakan hal serupa: lelah, rindu, dan ingin kembali pada masa di mana hidup terasa lebih ringan.

Jika kamu juga sedang merasa demikian, percayalah... kamu tidak sendirian.

Kadang-kadang, yang kita butuhkan bukan perubahan besar. Tetapi cukup satu momen yang hening, satu tarikan napas yang dalam, dan satu pengingat bahwa dahulu hidup pernah sangat sederhana—dan hal itu saja sudah cukup untuk membuat kita bahagia.

#masakecil