Diapari Sibatangkayu, Wartawan dan Pencipta Lagu Itu, Telah Pergi

Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Republika (2003-2005), Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007), Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Asro Kamal Rokan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diapari Sibatangkayu Harahap telah pergi selamanya. Kepergian yang begitu cepat. Wartawan senior dan anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat ini, wafat Sabtu (4 Juli 2026) pukul 10.40 di RS Polri, Jakarta. Sibatangkayu berusia 63 tahun, lahir di Padang Sidempuan, 8 Mei 1963.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Semoga dilapangkan Allah jalannya menuju Jannah. Aamiin ya Rabbal’ alaamiin.
Kepergian Sibatangkayu sungguh mengejutkan. Kabar dari grup WhatsApp PWI Pusat menyebar cepat. Hampir sulit dipercaya. Pekan lalu, saya masih sekamar dengannya di Hotel Horison Ultima Bandung. Kami sama-sama penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Jawa Barat.
Saat itu, tidak ada tanda-tanda Sibatangkayu sakit. Wajahnya segar. Saat tiba subuh, ia bangun salat dan mengaji, mengenakan sarung, peci haji, dan sajadah, yang disimpannya dalam tas. Dugaan saya, setiap ke luar kota, Sibatangkayu membawa perlengkapan salat tersebut.
“Almarhum lebih suka salat di masjid daripada di kantor,” tutur Marthen Selamet Susanto, Penanggung Jawab dan Pemimpin Redaksi Koran Jakarta, tempat Sibatangkayu bekerja.
Sabtu pagi sebelum meninggal, Sibatangkayu sempat berolahraga. Menurut Marthen Selamet Susanto—yang kini Sekjen PWI Pusat— info yang ia terimanya dari anak almarhum, Sibatangkayu pulang dan sempat tidur. Melihat kondisi ayahnya yang terlihat kurang sehat, anaknya mengajak Sibatangkayu ke Rumah Sakit Polri. Mereka bergoncengan naik sepeda motor. Di perjalanan, anaknya merasakan pegangan ayahnya di tubuhnya sangat kuat. Dan, ya Allah, Sibatangkayu sudah wafat.
Saya mengenal Sibatangkayu sejak lama. Kami juga sama-sama anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat 2023–2028. Tutur katanya sopan, namun keras dalam mempertahankan prinsip, terutama soal pelanggaran etika jurnalistik. Baginya, etika jurnalistik merupakan garis batas yang tidak boleh dilewati.
Pencipta Lagu
Selain berprofesi sebagai wartawan, Sibatangkayu juga dikenal sebagai musisi dan pencipta lagu, satu di antaranya lagu Mars Pertina (Persatuan Tinju Amatir Indonesia), berjudul "Jayalah Pertina". Bersama Group Trio Harahap, Sibatangkayu juga menciptakan sejumlah lagu berbahasa Mandailing dan ikut menyanyikannya, antara lain lagu berjudul "Rap Ra Ra Ro", Sidimpuan Nauli, dan Boru Ni Namora. Lagu-lagu ciptaannya dapat ditonton di youtube.
Rabu (24 Juni 2027) setelah salat Isya di kamar hotel Horison Ultima Bandung, kami ngobrol tentang banyak hal, soal etika jurnalistik, politik, dan sejumlah pejabat yang korup, makan bergizi gratis, Koperasi Merah Putih, dan berbagai isu populer belakangan ini.
Sibatangkayu juga bercerita tentang kegemarannya menonton siaran Tiktok dan youtube Dondy Tan, apologet Islam yang populer. Juga rajin mengamati perkembangan Islam di mancanegara melalui sosial media, yang menurutnya mengalami pertumbuhan cepat.
Selesai UKW, Kamis (26/6), Sibatangkayu, Mas Banjar Chairuddin, dan saya pulang ke Jakarta. Kami menumpang mobil Mas Banjar, sempat berhenti di rest area untuk ngopi. Sibatangkayu berhenti di pintu tol Pasar Minggu dan meneruskan perjalanannya ke Condet, rumahnya. Mas Banjar menawarkan untuk mengantarkannya ke terminal bus Pasar Minggu, namun Sibatangkayu menolak. Ia terkesan tidak ingin merepotkan.
Itulah pertemuan kami terakhir, meski kami tetap bersilaturahim melalui whatsapp (WA) pada Kamis (2/7). Ini WA terakhir kami.
Sibatangkayu telah pergi dengan segala kenangan. Tidak ada lagi sapaan ramahnya, tutur kata sopan. Tidak ada lagi lagu-lagu Mandailing ciptaannya.
Pergilah sahabat, kami ikhlas melepaskanmu, seperti burung yang terbang indah menuju Maha Pencipta. Kami pun—jika tidak hari ini, mungkin besok— juga pergi menyusulmu.
Jakarta, 4 Juli 2026.
