Konten dari Pengguna

Marzuki Nyak Mad

Asro Kamal Rokan

Asro Kamal Rokanverified-green

Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Republika (2003-2005), Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007), Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023)

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asro Kamal Rokan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Marzuki Nyak Mad
zoom-in-whitePerbesar

SABTU (19/09/20) pagi, saat bersepeda keliling kompleks perumahan, di Jakarta Barat, saya bertemu pemain nasional sepak bola, Marzuki Nyak Mad di depan rumahnya. Pemain legendaris ini sedang menyiram rumput dan pohon-pohon bunga di halaman rumahnya yang asri.

Kami sering bertemu di masjid kompleks, namun baru tadi ada kesempatan bernostalgia dan foto bersama.

Dok: Istimewa.

Dalam tim nasional, Marzuki pemain belakang bersama Robby Darwis, Jaya Hartono, Sutrisno, dan Muhammad Yunus. Tim nasional, yang dilatih Bartje Matulapelwa, Sarman Panggabean, dan Sutan Harhara ini berhasil juara SEA Games 1987 dan 1991. Tim ini juga berhasil membawa Indonesia ke semifinal Asian Games Seoul 1986.

Marzuki dan tim nasional nyaris mengantarkan Indonesia lolos ke Piala Dunia Meksiko 1986. Di babak penyisihan Sub Group 3 B, Indonesia dihadang Korea Selatan yang kemudian mewakili Asia ke Piala Dunia.

Prestasi tim nasional -- dengan pemain antara lain Marzuki, Robby Darwis, Ponirin Meka, Azhary Rangkuti, Patar Tambunan, Adityo Darmadi, Herry Kiswanto, Ruly Nere, Tiastono Taufik, Budi Wahyono, Ribut Waidi, Zulkarnaen Lubis, dan Ricky Yacob -- itu, hingga kini tidak pernah lagi dicapai tim nasional Indonesia. Tim nasional ini dikenang sebagai Tim Emas Indonesia.

Marzuki dilahirkan di Sigli, 17 Juli 1964. Karier sepak bolanya bermula dari PSMS Medan. Pada babak final Divisi Utama Perserikatan 1983/1984 di Senayan, saat PSMS melawan Persib Bandung, Marzuki berhasil menahan kelincahan Adjat Sudrajat. PSMS Medan tampil sebagai juara, menang adu penalti atas Persib 3-2.

PSMS Medan kembali juara pada musim kompetisi berikutnya. Di final, 23 Februari 1985, PSMS bertemu lagi dengan rivalnya, Persib Bandung, dalam pertandingan sangat emosional dan tercatat dalam sejarah sepak bola dunia dengan jumlah penonton terbanyak.

Saat itu, penonton di Stadion Utama mencapai sekitar 150 ribu orang dari kapasitas 100 ribu penonton. PSMS kembali menang dalam adu penalti 4-3, setelah perpanjangan waktu kedudukan 2-2. Gol penentuan kemenangan PSMS dalam adu penalti dicetak Mamek Sudiono.

Melalui proyek tim nasional Garuda pada 1983, Marzuki bersama 18 pemain junior lainnya, terpilih untuk berlatih Brazil. Timnas Garuda l saat itu dilatih Barbatana. Berikutnya, Marzuki bergabung di Persija Jakarta, bersama Patar Tambunan, dan Azhary Rangkuti. Saat bersamaan, Marzuki bekerja di Bank Bumi Daya (kini Mandiri).

Saya mengenal dekat Marzuki pada 1986 saat saya reporter sepak bola Harian Merdeka Jakarta di Senayan, meliput berbagai pertandingan tim nasional, termasuk babak penyisihan Pra Olimpiade di Singapura dan Jepang, 1987.