Opini & Cerita
Β·
9 September 2020 15:09

Pers Indonesia Berduka Cita

Konten ini diproduksi oleh Asro Kamal Rokan
Pers Indonesia Berduka Cita (37159)
KABAR DUKA menyebar cepat melalui berbagai π‘Šβ„Žπ‘Žπ‘‘π‘ π΄π‘π‘ πΊπ‘Ÿπ‘œπ‘’π‘. Tokoh besar dunia pers Indonesia, Bapak Jakob Oetama, Rabu (9/9/20) siang, wafat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta. Pak JO -- begitu biasa kami sapa -- wafat dalam usia 88 tahun. Pendiri Harian Kompas dan Gramedia ini dilahirkan di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.
ADVERTISEMENT
Pak JO tokoh yang santun dan tidak membedakan senior dengan junior. Saya sangat terkesan dan menghormati Pak JO. Beberapa tahun lalu -- semasa Pak JO masih sering hadir dalam berbagai acara -- saya sering bertemu. Dalam setiap pertemuan, Pak JO yang lebih dahulu menyapa dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Pers Indonesia Berduka Cita (37160)
Jakob Oetama. Foto: Arsip Kompas
Daya ingat Pak JO juga sangat kuat. Dalam suatu pertemuan, sudah lama sekali, Pak JO dengan suaranya yang lembut, menyapa saya lebih dahulu. "Asro sudah di TVOne sekarang, saya sering lihat," ujarnya ramah. Saya jawab, masih di LKBN Antara Pak, sedangkan di TVOne terkadang sebagai narasumber acara Minggu Pagi.
Karakter Pak JO -- yang ramah, santun, dan sangat menghormati setiap orang -- itu, menular pada wartawan dan karyawan Kompas. Setiap bertemu dengan pemimpin di redaksi Kompas, di antaranya Suryo Pratomo, Rikard Bagun, Budiman Tanurejo, Ninuk Mardiana Pambudi, Rosiana Silalahi (KompasTV), juga Tri Agung Kristanto, dan Mohammad Bakir, mereka santun dan menghormati setiap orang, seperti Pak JO.
ADVERTISEMENT
Pak Jakob Oetama awalnya seorang guru, yang kemudian meniti karier sebagai wartawan Mingguan Penabur pada 1956. Dari sini, Pak Jakob bersama PK Ojong, mendirikan majalah Intisari (1963). Ketertarikan Pak Jakob terhadap penerbitan pers, berlanjut dua tahun kemudian dengan mendirikan Harian Kompas bersama PK Ojong.
Di Kompas, awalnya pak Jakob dan Pak PK Ojong berbagi tugas. Pak Jakob membidangi editorial, sedangkan PK Ojong membidangi bisnis. Namun situasi berubah ketika PK Ojong meninggal pada 31 Mei 1980. Pak Jakob harus pula menangani bidang bisnis.
Di bawah kendali Pak Jakob, Kompas -- yang kemudian menjadi Kompas Gramedia group -- semakin besar. Ana-anak perusahaan tumbuh pesat, di antaranya media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV hingga universitas.
ADVERTISEMENT
Halaman Opini Harian Kompas menjadi rujukan, melahirkan banyak pemikiran, dan tokoh-tokoh intelektual -- yang hampir tanpa tandingan. Di tangan Pak Jacob, Kompas sangat berjasa membangun demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan bagi republik ini.
Di PWI Pusat, Pak Jakob -- yang selalu mendukung PWI -- sebagai Pembina Pengurus Pusat.
Selamat jalan Pak Jakob, keteladanan Bapak jadi contoh bagi kami yang lebih muda. Kami kehilangan Bapak ...
Jakarta, 9 September 2020