Kaliurang Racing dan Kisah di Baliknya

Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Assara Bintari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buatku, pagi hari adalah prime time di Jogja. Dua puluh satu tahun hidup di area pegunungan, membuatku tak terlalu betah dengan temperatur udara yang panas.
Suatu pagi, aku melaju dengan motorku menuju wilayah Kaliurang. Semakin naik, semakin dingin. Ini seperti sebuah escape dari gerahnya udara kota. Really enjoyed that!
Jalan yang dilapisi batu gragal menjadi pemberhentianku. Matahari pun mulai naik dan menghangatkan. Suara angin yang bergesekan dengan bambu dan kicauan burung menyambutku dengan meriah.
Di sana, seorang pria paruh baya berjalan mendatangiku bersama senyuman cerah dan tatapan teduhnya. Aku pun melangkah untuk menjabat tangannya. Namanya Pak Ananta, pengurus sekaligus guide Desa Wisata Tegal Loegood. Beliau mempersilakan aku untuk duduk, tak lupa membawakan segelas teh panas serta makanan ringan bernuansa buah salak khas Tegal Loegood. Betapa hangatnya.
Aku memulai pembicaraan dengan bertanya bagaimana sejarah pembentukan desa ini. Jawabannya begitu runtut dan laras, tutur katanya mudah dipahami. Sekilas, semua terlihat begitu sederhana, hingga perbincangan kami sampai pada Pak Ananta yang berkata bahwa beliau adalah sarjana pertanian. "Ah, pantaslah kalau begitu", pikirku. Di titik itu, aku merasa terkagum dan menyadari sesuatu. Maksudku, betapa kita tidak bisa menilai manusia hanya dari tampak luarnya saja. Mungkin beliau tidak berseragam maupun berkemeja dengan celana dan dasi yang mencekik, mungkin beliau tidak bekerja di gedung pencakar langit, tetapi beliau berjalan dengan rendah hati bersama ribuan pengalaman dan ilmunya.
Kembali pada aktivitas yang kujalani di sana, Pak Ananta mengajakku untuk mencoba paket wisata di Tegal Loegood. Tujuan kami adalah treking menuju Hutan Pinus Ngandong. Berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, kami betul-betul melewati hutan dengan medan yang sempit, terkadang di kanan-kiri adalah jurang. Sangat menantang untukku yang tidak pernah mendaki gunung. Untungnya, kami semua selamat tanpa ada cedera berarti, hanya dihadiahi beberapa sapaan dari nyamuk dan serangga. Such a cute welcome, right?
Sesuatu yang paling unik dan berkesan di sini adalah kendaraan yang kami gunakan untuk kembali menuju desa. Warga setempat menamainya ‘boping’ atau ‘bonceng samping’. Boping adalah sebuah motor yang dipasangi sebuah kotak kayu di sampingnya yang umumnya mereka gunakan untuk mengangkut rumput. Kendaraan itu mereka modifikasi dengan menambahkan kursi di dalam kotak yang memuat hingga dua orang penumpang. Bisa dibayangkan betapa serunya naik di atas boping, bukan?
Aku terduduk rapi di atas boping dengan dibonceng oleh pengendara sekaligus guide kami. Aku begitu menikmati pemandangan alam di kaki Gunung Merapi tanpa penghalang apa pun. Alih-alih ketakutan, berada di atas boping yang melewati jalan tidak rata, berbatu, dan cenderung turun curam malah menciptakan sebuah core memory bagiku. Di sepanjang jalan, kami saling bercerita bahkan tertawa lepas bersama suara motor yang berisik dan knalpot yang ngebul. Aku menyebutnya “Kaliurang Racing”, hahaha!
Pikiranku melanglang cukup jauh untuk berefleksi. Perjalanan hari itu membuatku memahami bahwa pendidikan yang kita dapat tidak hanya dibuktikan dengan gelar, tetapi juga seberapa bermanfaat kita dan ilmu yang sudah kita serap bagi lingkungan sekitar. They are super down-to-earth. Tidak ada raut maupun tatapan kesombongan meski mereka sangat kaya akan pengalaman, jam terbang tecermin pada bagaimana kemampuan berbicara mereka. Tidak ada perkataan yang sia-sia. Mereka selalu senang berbagi ilmu dan pengalaman.
