News
·
7 April 2021 8:09

Kolaborasi Cerita Rakyat dan VR (Virtual Reality)

Konten ini diproduksi oleh Asti Noor Aeni
Kolaborasi Cerita Rakyat dan VR (Virtual Reality)  (42060)
searchPerbesar
Pengunjung yang sedang mencoba kacamata VR (Virtual Reality). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Dahulu banyak sekali cerita rakyat yang lestari, diceritakan kepada anak-anak sebagai hiburan, atau juga sebagai pengantar mereka tidur. Mulai dari cerita sangkuriang, timun mas, malin kundang, bawang merah-bawang putih, dan sebagainya.
ADVERTISEMENT
Cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada anak-anak hingga orang dewasa. Akan tetapi saat ini, cerita-cerita tersebut sudah jarang sekali terdengar, jarang sekali diingatkan. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa sekarang lebih tertarik kepada internet, media sosial, bahkan game online. Mereka sangat terobsesi bahkan tidak bisa jika satu hari mereka tanpa internet.
Memang pada dasarnya internet memberikan kita segala informasi yang kita butuhkan. Berikut juga dengan cerita rakyat yang juga tersedia di sana dan dapat dibaca melalui handphone, laptop, maupun komputer. Akan tetapi tetap saja minat untuk membacanya kurang, apalagi kalah dengan game online yang terlihat sangat menarik.
Pertanyaan saat ini, bagaimana cara untuk menarik minat mereka untuk tetap melestarikan cerita rakyat kita? Bagaimana cara mengalahkan game online yang sangat mereka gandrungi? Nah ayo kita bahas kali ini!
ADVERTISEMENT
Cerita rakyat yang dahulu sering kita dengar itu pasti membosankan jika diceritakan berulang kali. Dan juga tidak banyak menarik minat untuk dibaca berulang kali. Bagaimana agar tidak membosankan?
Nah, pasti kalian tidak asing dengan istilah Virtual Reality (VR). Apasih VR itu? Virtual Reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imajinasi.
VR menyajikan pengalaman visual yang dapat ditampilkan pada komputer atau penampil stereokopik, bisa juga menambahkan speaker atau headphone untuk menghasilkan suara. VR ini sudah ada sejak abad 19, akan tetapi saat itu digunakan untuk keperluan medis, simulasi penerbangan, desain industri mobil, dan untuk menonton film.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1991, mulai penggunaan headset VR untuk memainkan beberapa game yaitu arcade dan konsol Mega Drive. Pada tahun yang sama juga, Virtuality diluncurkan dan kemudian menjadi sistem hiburan VR multipemain yang diproduksi secara massal, berjejaring, yang dirilis di banyak negara.
Dengan adanya VR tersebut dapat menjadi jalan untuk menghidupkan kembali cerita rakyat yang sudah jarang diminati. Bukan hanya sekadar untuk menonton cerita rakyat yang diadaptasi menjadi film, akan tetapi menjadikan cerita rakyat tersebut menjadi game VR. Dalam pengaplikasiannya, game VR ini akan berisi mengenai cerita rakyat yang dapat dijangkau bagi anak kecil maupun orang dewasa dengan tetap memperhatikan kelayakan dari cerita rakyat tersebut sesuai usia penggunanya.
Pengguna VR ini dapat menempatkan diri mereka pada tokoh utama atau tokoh yang akan mereka pilih. Misalnya, pada cerita timun mas, mereka dapat memerankan tokoh timun mas itu sendiri mulai dari awal hingga akhir cerita. Bisa juga berperan sebagai tokoh kedua, atau tokoh pendamping yang akan menampilkan sisi lain dari cerita tersebut.
ADVERTISEMENT
Dengan begitu cerita rakyat akan tetap bisa dilestarikan tanpa menimbulkan kebosanan. Karena sejatinya cerita rakyat di Indonesia pun juga banyak sekali. Walaupun mungkin untuk beberapa orang merasa sudah hafal jalan ceritanya, namun sensasi yang didapatkan sudah pasti berbeda. Penggunaan game VR atau alat VR tentunya juga harus dalam pengawasan orang yang lebih tua atau berpengalaman agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Nah sekian untuk pembahasan kali ini, semoga dapat terwujud dan menjadi salah satu cara untuk tetap melestarikan cerita rakyat di Indonesia. Terima kasih!