Konten dari Pengguna

Fenomena Flexing : Analisis Ekonomi Mikro Utilitas dan Perilaku Konsumen

Astri Mutiara Rahmah Mahasiswa Universitas Pamulang

Astri Mutiara Rahmah Mahasiswa Universitas Pamulang

Program studi Pendidikan Ekonomi, kegiatan sehari-hari adalah mengajar dan berjualan basreng.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Astri Mutiara Rahmah Mahasiswa Universitas Pamulang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena 'flexing'—memamerkan kekayaan, barang mewah, atau gaya hidup hedonis di media sosial—telah menjadi pemandangan umum dalam lanskap digital saat ini. Awalnya, ini mungkin tampak sekadar tren gaya hidup atau upaya mencari popularitas. Namun, dari kacamata ilmu ekonomi mikro, flexing adalah manifestasi menarik dari perubahan perilaku konsumen dan redefinisi Fungsi Utilitas (kepuasan) di era digital.

Artikel ini akan membedah flexing bukan sekadar dari aspek psikologis, melainkan dari sudut pandang keputusan konsumsi yang kini mencari kepuasan tidak hanya dari fungsi dasar suatu barang, melainkan dari pengakuan sosial yang diukur dalam jumlah likes dan followers.

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

1. Pergeseran Utilitas: Dari Fungsi Fisik ke Validasi Virtual

Dalam teori ekonomi mikro klasik, Utilitas diartikan sebagai tingkat kepuasan atau manfaat yang diperoleh konsumen dari mengonsumsi suatu barang atau jasa. Utilitas bersifat subyektif, namun fokus utamanya adalah pada fungsi dasar barang (misalnya, mobil memberikan utilitas transportasi).

Namun, media sosial telah memperkenalkan dimensi baru yang mengubah persamaan ini: Utilitas Sosial.

Ketika seseorang membeli jam tangan mewah, utilitas fisik (mengetahui waktu) mungkin memiliki nilai marginal yang kecil. Nilai utilitas tertinggi justru berasal dari dua komponen yang kini saling terkait:

  • Utilitas Kepemilikan (Klasik): Kepuasan pribadi atas memiliki barang berkualitas tinggi.

  • Utilitas Sosial (Baru): Kepuasan yang diperoleh setelah foto barang itu diunggah, menghasilkan likes, komentar pujian, dan pengakuan status yang tervalidasi secara publik.

Dalam konteks flexing, konsumen—khususnya influencer atau public figure—membeli barang bukan hanya untuk mengonsumsinya, tetapi untuk dipertunjukkan. Barang mewah berfungsi sebagai sinyal di pasar sosial, di mana utilitas terbesarnya adalah Validasi dan Pengakuan Eksternal. Kepuasan kini diukur secara kuantitatif oleh metrik engagement platform.

2. Flexing sebagai 'Konsumsi Mencolok' Digital (Veblen Effect)

Istilah flexing sebetulnya bukan hal baru. Ekonom Thorstein Veblen sejak tahun 1899 sudah memperkenalkan konsep Konsumsi Mencolok (Conspicuous Consumption).

Konsumsi Mencolok merujuk pada pembelian barang atau layanan yang bertujuan utama untuk mempertontonkan status sosial, bukan karena kebutuhan dasar.

Contoh Klasik: Memiliki rumah megah di lokasi elite. Contoh Digital: Membeli mobil super untuk konten unboxing atau liburan ke destinasi eksklusif hanya untuk feed Instagram.

Di era digital, flexing adalah bentuk Konsumsi Mencolok yang teramplifikasi. Jika dahulu konsumsi mencolok hanya dapat dilihat oleh lingkungan terdekat, kini, melalui media sosial, ia dapat disebarkan ke jutaan pengikut secara instan, mengubah skala pengaruhnya dari lokal menjadi global dan instan.

Implikasi pada Kurva Permintaan: Barang Veblen

Fenomena ini menguatkan konsep Barang Veblen. Dalam kasus barang normal, kenaikan harga akan menurunkan permintaan. Namun, pada barang-barang yang digunakan untuk flexing, hal sebaliknya dapat terjadi: Harga↑⟶Permintaan↑

Semakin mahal dan eksklusif harga barang tersebut, semakin efektif barang itu sebagai sinyal status, yang justru meningkatkan daya tarik dan permintaannya. Konsumen tidak membeli untuk kegunaan fungsional, melainkan untuk nilai pamer (signaling value) yang diserap oleh pasar sosial.

3. Dampak Domino dan Tuntutan Konsumtif Irasional

Fenomena flexing tidak berhenti pada pelakunya, melainkan menciptakan efek domino pada audiens yang menjadi konsumen pasif.

A. Memicu Insecure dan FOMO

Konten flexing secara tidak langsung menaikkan standar kebutuhan sosial bagi pengikutnya. Audiens yang setiap hari terpapar visual kemewahan dapat mengalami:

  1. Perbandingan Sosial dan Insecure: Munculnya rasa tertinggal atau merasa harga diri rendah karena tidak mampu menyamai gaya hidup yang dilihat di layar.

  2. Fear of Missing Out (FOMO): Dorongan kuat untuk membeli barang serupa—seringkali di luar kemampuan finansial—demi mendapatkan "utilitas sosial" yang sama (misalnya, berfoto dengan produk itu untuk diunggah). Ini mendorong perilaku konsumtif yang irasional.

B. Strategi Marketing dan Penipuan

Perusahaan melihat tren ini sebagai peluang besar. Banyak merek kini menggunakan influencer yang gemar flexing untuk mempromosikan produk. Ini adalah bentuk Marketing Signaling yang efektif, di mana merek menggunakan citra kekayaan influencer untuk menanamkan persepsi bahwa produk mereka adalah bagian dari gaya hidup orang sukses.

Sayangnya, praktik ini juga disalahgunakan. Banyak kasus penipuan investasi (seperti Binary Option) menggunakan flexing sebagai modus operandi untuk membangun kepercayaan. Pelaku menampilkan kekayaan palsu untuk meyakinkan calon korban bahwa mereka adalah orang sukses yang dapat memberikan kesuksesan finansial instan.

4. Kesimpulan: Utilitas yang Perlu Dipertanyakan

Fenomena flexing di media sosial memberikan pelajaran berharga dalam ekonomi mikro: Utilitas kini semakin jauh dari fungsi dasar barang dan semakin dekat dengan pengakuan sosial yang bersifat eksternal.

Meskipun flexing dapat menjadi motivasi, secara keseluruhan ia menciptakan lingkungan digital yang menekan dan mendorong perilaku konsumtif yang irasional. Kepuasan (utilitas) yang dicari melalui flexing bersifat sementara dan eksternal (bergantung pada like dan komentar orang lain), berbeda dengan utilitas sejati yang berasal dari kepuasan diri dan kebutuhan nyata.

Bagi kita sebagai konsumen di era digital, penting untuk meningkatkan Literasi Keuangan dan Ekonomi Mikro agar dapat membedakan mana kebutuhan fungsional dan mana kebutuhan pameran. Kepuasan sejati lahir bukan dari pamer, tetapi dari kesadaran akan cukupnya diri dan kemampuan menggunakan sumber daya secara bijak untuk memenuhi kebutuhan nyata serta memberi makna pada kehidupan