Konten dari Pengguna

Kerja Sama Sister City sebagai Alternatif Pelestarian Budaya Topeng Malangan

Astri Nanin-UMM Malang

Astri Nanin-UMM Malang

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Astri Nanin-UMM Malang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Topeng Malangan: Kesenian Tradisional Kota Malang yang Kian Memudar

sumber: malangtimes.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: malangtimes.com

Kota Malang merupakan satu dari banyaknya kota-kota bersejarah di Indonesia, dalam perkembangannya tak lepas dari sejarah dan budaya tradisional yang membentuk identitas Kota Malang. Salah satu kesenian yang terkenal di ‘Kota Heritage’ ini ialah kesenian Topeng Malangan. Topeng Malangan atau Topeng Malang berasal dari kebudayaan tradisional Wayang Topeng Malangan. Kesenian ini disebut demikian karena penggunaan Topeng Malangan yang dikenakan sebagai atribut atau kostum dalam pentas pertunjukannya. Seni wayang Topeng Malangan Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Yuniwati, Rahayu, Utami & Kunci: 2016). Seni wayang Topeng Malangan sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Seni wayang Topeng Malangan adalah perlambang bagi sifat manusia, karena banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya (Sumarwahyudi, dkk: 1999). Topeng Malangan sendiri memiliki keunikan tersendiri yang membedakan topeng satu dengan lainnya, yaitu pada setiap topengnya mewakili karakternya masing-masing baik itu protagonis ataupun karakter antagonis yang disesuaikan berdasarkan tokoh-tokoh pewayangan tersebut. Hal ini bisa diidentifikasi melalui perbedaan fitur-fitur yang ada pada karya topeng, seperti melalui bagaimana bentuk mata, alis, hidung, mulut, warna topeng, dan lain sebagainya. Menurut hasil penelitian melalui wawancara dengan salah satu pengusaha Topeng Malangan Asmoro Bangun di Kedungmonggo, didapat informasi bahwa keseluruhan Topeng Malangan memiliki 65 karakter/motif wajah yang berbeda. Dari 65 karakter/motif topeng ini hanya beberapa karakter yang “populer” di kalangan masyarakat dan pengrajin diantaranya karakter Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji (Noya, S., Hidayat, K & Melany: 2014).

sumber: aremamedia.com

Meskipun sayangnya, seiring perkembangan jaman dan era globalisasi membawa banyak budaya baru dari penjuru dunia lainnya dan mulai perlahan kian menggeser kepopuleran budaya-budaya tradisional termasuk kesenian Topeng Malangan. Minimnya informasi mengenai Topeng Malangan serta publikasi yang sangat jarang menjadi alasan utama kurang dikenalnya budaya dan industri Topeng Malangan (Melany, 2012). Pementasan wayang topeng yang berlangsung selama kurang lebih satu malam itu sudah tak lagi menjadi pilihan utama sebagai bagian dalam sejumlah perhelatan di masyarakat karena sudah dianggap tak lagi praktis. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya di kala pementasan wayang topeng menjadi sebuah keharusan yang dipegang dalam kebudayaan masyarakat saat menggelar suatu perhelatan. Bahkan menurut penelitian Yuniwati, et. al (2016) dengan narasumber dari sanggar wayang Topeng Malangan di Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung menyatakan, saat ini tidak lagi banyak job menari Topeng Malangan selain saat peringatan HUT Desa. Yang lebih banyak dilakukan oleh kelompok seni ini adalah melestarikan budaya Topeng Malangan dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malangan dengan alat-alat yang sederhana dan tari Topeng Malangan (Yuniwati, et.al: 2016). Saat ini ada beberapa sanggar yang membuat langsung Topeng Malangan serta mementaskannya. Sekitar lima hingga tujuh sanggar Topeng Malangan yang masih eksis keberadaannya untuk terus memproduksi Topeng Malangan berlokasi di daerah di Kedungmonggo (Sanggar Asmoro Bangun), Jabung (Wayang Topeng Wira Bhakti dan Grup Wayang Topeng Dusun Precet), Sumberpucung (Wayang Topeng Jambuwer Kromengan, Wayang topeng Desa Jatiguwi dan Wayang topeng Desa Senggreng), Jambuwer (Sanggar galuh Candra Kirana), di Glagahdowo (Sanggar Sri Margo utomo) serta beberapa sanggar di daerah Tumpang (Indriasari: 2013).

sumber: goodnewsfromindonesia.id

Apa itu Kerja Sama Sister City?

Sister city, sister cities, twin city merupakan konsep kerja sama antar dua kota, dua propinsi, ataupun dua negara yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya, ekonomi,dan kontak sosial antar penduduk secara berkesinambungan (Nuralam, I. P: 2018). Secara umum, sister city adalah adanya dua buah kota yang secara resmi saling terikat dengan suatu tujuan tertentu, baik itu mempromosikan perdamaian, pertemanan, ataupun perasaan saling mengerti antara orang-orang yang berada didalamnya (Souderet et.al: 2005). Sister city juga digunakan untuk mendorong hubungan perdagangan dan pariwisata di kedua wilayah (Clarke, 2009; Kaltenbrunner et al., 2013). Sister city juga didefinisikan oleh Organisasi Sister City yang mewadahi hubungan kerja sama antar sister city, sebagai suatu kemitraan jangka panjang antara dua komunitas masyarakat di dua negarayang secara resmi diakui apabila kedua komunitas tersebut menandatangani suatu perjanjian (SCI,2012).

Menurut Kelowna (2010), terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan dalam menjalin hubungan kerja sama sister city. Prinsip-prinsip ini digunakan sebagai acuan, meskipun dalam praktiknya tidak dipungkiri perbedaan yang mungkin dimiliki pada masing-masing daerah atau kota. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

  1. Similaritas –adanya kesamaan bersama;

  2. Pertukaran –adanya potensi pertukaran dalam segi budaya, edukasi, rekreasi, ataupun ekonomi;

  3. Hubungan timbal balik –pertukaran yang sifatnya positif harus berjalan dari dua arah;

  4. Berorientasi pada masyarakat –adanya kepemimpinan yang aktif, keterlibatan dan dukungan oleh masyarakat, melalui organisasi ataupun bisnis yang sudah ada untuk membangun ataupun memelihara hubungan yang sudah ada;

  5. Manfaat strategis –manfaat jangka pendek dan jangka panjang yang didapat dari hubungan melebihi biaya publik yang harus dikeluarkan untuk menjalin ataupun memelihara hubungan yang sudah ada;

  6. Eksklusivitas & Kedekatan –tidak memiliki hubungan sister city dengan kota lainnya di negara yang sama atau lokasi yang berdekatan dari lokasi calon sister city;

  7. Kestabilan politik –kondisi politik yang stabil dinegara tempat sister city berada, sesuai dengan hasil pengumuman dari pemerintah pusat.

Dalam menjalin hubungan ini, terdapat sejumlah keuntungan dari kerja sama sister city, diantaranya adalah:

  1. Kesempatan untuk transfer knowledge dan experience dalam menegelola pembangunan terhadap bidang yang dikerjasamakan;

  2. Mendorong munculnya ide dan peran aktif pemerintah daerah kota serta stakeholder lainnya;

  3. Mempererat persahabatan pemerintah dan masyarakat kedua belah pihak;

  4. Sebagai kesempatan transfer culture untuk memperkaya kebudayaan daerah.

Namun disisi lain skema sister city juga menimbulkan beberapa faktor negatif, diantaranya adalah:

  1. Meningkatnya beban keuangan negara atau daerah karena memakai dana APBN atau APBD,

  2. Cenderung menunggu fasilitasi dari pemerintah,

  3. Memiliki potensi ketidaksetaraan dalam kerja sama yang kurang seimbang sehingga hanya menguntungkan satu pihak. (Nuralam, I. P: 2018)

Kerja sama sister city Kota Malang-Kota Fuqing. sumber: malang.merdeka.com

Pemerintah Kota Malang sendiri merupakan salah satu pemerintah daerah di Indonesia yang bisa dibilang aktif dalam kegiatan paradiplomasi ini. Kota Malang sudah tidak asing lagi dengan ide kerja sama sister city, hal ini bisa dilihat dari sejumlah program kerja sama luar negeri yang dijalin dengan kota-kota dari berbagai negara, terlebih pada masa pemerintahan walikota M. Anton. Mantan walikota Malang yang kerap dipanggil Abah Anton ini semasa menjabat telah merencanakan dan menjalankan program-program kerja sama sister city dengan sejumlah kota meliputi: Kota Varazdin, Kroasia pada tahun 2015; Kota Fuqing, China pada tahun 2017 ; Kota Nonsan, Korea Selatan pada tahun 2017; Kota Lyon, Perancis ; Kota Pecs, Hongaria; dan Kota Manchester, Inggris. Sementara pada masa pemerintahan selanjutnya oleh Walikota Sutiaji, Kota Malang juga telah mengadakan kerja sama dengan salah satu kota di Palestina yaitu kota Hebron pada tahun 2019 silam.

Potensi Kerja Sama Sister City Kota Malang untuk Melestarikan Budaya Topeng Malangan

Serupa dengan Kota Malang, di Korea Selatan juga terdapat kota yang juga terkenal dengan peninggalan budayanya yang kental, kota tersebut adalah Kota Andong. Dilansir dari Britannica.com “Andong : History, Geography, & Points of Interest”, wilayah Andong terkenal dengan pelestarian praktik budaya tradisional seperti tarian topeng Hahoe, dan desa bersejarah Hahoe dan Yangdong bersama-sama ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2010. Tarian tradisional ini biasanya dipentaskan pada festival masyarakat Andong yang bertempatan pada bulan September. Kota Andong sendiri terkenal sebagai ‘ibukota’ bagi budaya trasidional Korea. Budaya dan agama Andong tetap bernilai tinggi setelah bertahun-tahun dan berbagai budayanya pun masih utuh. Oleh karena itu, Andong merupakan wilayah yang memiliki warisan budaya terbanyak sekaligus menawarkan keindahan wilayah Timur (https://www.visitkorea.or.id/article/festival-tari-topeng-andong-01).

Tari tradisional Topeng Hahoe Korea Selatan. sumber: blog.onedaykorea.com

Dahulu topeng Korea digunakan untuk berbagai tujuan mulai dari perang, acara seremonial dan penyembahan, serta untuk pementasan drama. Pada tahun 1980, tari topeng Hahoe (ditetapkan sebagai National Intangible Cultural Property No.69 dengan nama "Hahoe Byulsingut Mask Play" di Korea. Sejak saat itu, tari topeng Hahoe telah mengangkat nilai dan statusnya melalui berbagai acara budaya nasional. dan pementasan undangan di luar negeri. Sejak 1997, pementasan topeng Hahoe telah dimulai di Desa Hahoe dan, hingga akhir 2017, terdapat 2320 pertunjukan, 2.800 penonton, dan 54 pementasan asing di 17 negara. Museum Topeng Dunia Hahoe dan beberapa loka karya kerajinan topeng dibangun, dan pusat pelatihan resmi untuk Permainan Topeng Hahoe Byulsingut didirikan, di mana pelatihan drama tari Hahoe terus berlanjut dan oleh karena itu, daya saingnya sebagai sumber pariwisata telah diperkuat melalui pertunjukan dan acara regular. (Kwon, D.-H., & Cho, S.-J: 2018)

Sebagaimana prinsip-prinsip dalam menjalin hubungan kerja sama sister city menurut Kelowna (2010), Kota Malang dan Kota Andong telah memenuhi sejumlah prinsip, dimulai dari prinsip similaritas –adanya kesamaan bersama, dimana pada kedua kota ini sama-sama dijuluki sebagai “Kota Heritage”, dan memiliki kesamaan kesenian topeng dan tarian topeng yang kental dengan budaya masyarakatnya. Sementara dalam poin kedua tentang prinsip pertukaran –adanya potensi pertukaran dalam sector budaya, pariwisata, dan edukasi, karena selain dari kesamaan kesenian tari topeng tersebut, kedua kota dapat saling melakukan pertukaran yang dapat menguntungkan. Kerja sama yang nantinya dibentuk juga tentunya berorientasi pada masyarakat karena pada aspek yang dibahas, khususnya tentang budaya pasti memerlukan keterlibatan aktif dan dukungan oleh masyarakat, melalui organisasi ataupun bisnis yang sudah ada untuk membangun ataupun memelihara kebudayaan dari masing-masing daerah. Terlebih bagi Kota Malang, melalui kerja sama yang dibangun bersama Kota Andong juga akan memberikan manfaat strategis, mulai dari menjaga kelestarian budaya dan memperkenalkannya pada ranah internasional, namun juga membantu pengembangan industry kesenian Topeng malangan yang juga akan berdampak pada peningkatan sector pariwisata Kota malang itu sendiri, yang nantinya juga akan berhubungan dengan perkembangan ekonomi Kota Malang. Melihat kesuksesan dari Kota Andong yang menginternasionalisasikan Festival Topeng Andong sebagai daerah paling bersejarah di Korea Selatan.

Referensi:

Yuniwati, E. D., Rahayu, M., Utami, S., & Kunci, K. (2016). Pemertahanan Budaya Topeng Malangan. Seminar Nasional Dan Gelar Produk (SenasPro), 409–416.

Noya, S., Hidayat, K., & . M. (2014). Perumusan Strategi Pengembangan Industri Kecil Menengah Topeng Malangan. Jurnal Teknik Industri, 15(1), 19. https://doi.org/10.22219/jtiumm.vol15.no1.19-34

Nuralam, I. P. (2018). Peran Strategis Penerapan Konsep Sister City Dalam Menciptakan Surabaya Green-City. Journal of Applied Business Administration, 2(1), 144–151. https://doi.org/10.30871/jaba.v2i1.807

Kwon, D.-H., & Cho, S.-J. (2018). Evolution of Traditional Dance Culture The Case of Hahoe Mask Dance in Andong, Korea. Research in Dance and Physical Education, 2(2), 55–61. https://doi.org/10.26584/rdpe.2018.12.2.2.55

Andong | History, Geography, & Points of Interest | Britannica. (n.d.). https://www.britannica.com/place/Andong

Korea Tourism Organization Indonesia Article. (n.d.). https://www.visitkorea.or.id/article/festival-tari-topeng-andong-01