Konten dari Pengguna

Dari Halaman ke Layar: Mencari Ruang Aman bagi Anak di Dunia Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari El-Roi R Madubun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari halaman ke layar: ruang sosial anak berubah seiring hadirnya internet. Jika dahulu anak dapat meninggalkan lapangan dan pulang, kini interaksi sosial dapat terus mengikuti mereka melalui layar. sumber gambar: gettyimages.
zoom-in-whitePerbesar
Dari halaman ke layar: ruang sosial anak berubah seiring hadirnya internet. Jika dahulu anak dapat meninggalkan lapangan dan pulang, kini interaksi sosial dapat terus mengikuti mereka melalui layar. sumber gambar: gettyimages.

Ada suatu masa ketika dunia sosial anak memiliki batas yang relatif sederhana. Sepulang sekolah, seorang anak mungkin meletakkan tas, berganti pakaian, makan, lalu keluar lagi untuk menemui teman-temannya. Halaman rumah, lapangan, gang, taman, rumah teman, atau warung di sekitar tempat tinggal bisa berubah menjadi dunia kecil tempat mereka bermain, berbicara, bertengkar, berdamai, membentuk kelompok, bahkan menciptakan aturan sosial mereka sendiri.

Bagi orang dewasa, semua itu mungkin tampak seperti permainan biasa. Padahal, di sanalah anak belajar menjadi makhluk sosial. Mereka belajar menunggu giliran, menerima kekalahan, menghadapi penolakan, bernegosiasi, meminta maaf, membaca perasaan orang lain, atau mencari kelompok lain ketika tidak diterima.

Sosiolog Ray Oldenburg menyebut ruang sosial informal semacam ini sebagai third place: ruang di luar rumah dan institusi formal yang menjadi tempat orang membangun kehidupan sosial. Bagi anak-anak, third place tidak harus berupa ruang komunitas yang resmi. Lapangan kosong, teras rumah, jalan kampung, atau rumah seorang teman dapat menjalankan fungsi yang sama.

Yang menarik, ruang-ruang itu juga memiliki batas. Ketika permainan selesai, anak bisa pulang. Ketika meninggalkan lapangan, sebagian besar interaksi sosial yang terjadi di sana ikut tertinggal. Ejekan yang terjadi siang hari tidak selalu mengikuti anak sampai ke tempat tidur. Konflik mungkin belum benar-benar selesai, tetapi setidaknya ada jeda.

Jeda itu penting. Ia memberi anak kesempatan untuk beristirahat dari tuntutan sosial, memproses pengalaman, dan kembali menjadi dirinya sendiri di rumah. Bukan berarti masa lalu adalah dunia yang aman. Perundungan, kekerasan, pengucilan, tekanan teman sebaya, dan berbagai bentuk ketidakadilan juga terjadi. Hanya saja, ruang fisik membuat sebagian bahaya memiliki batas yang lebih mudah dikenali.

Ada tempat untuk pergi, ada waktu untuk pulang, ada kemungkinan untuk meninggalkan suatu situasi. Masalahnya, ketika sebagian ruang sosial anak berpindah ke layar, kemampuan untuk benar-benar "pulang" dari ruang sosial itu menjadi jauh lebih rumit.

Ketika Ruang Bermain Berpindah ke Layar

Internet tidak menghilangkan kebutuhan anak untuk bersosialisasi. Sebaliknya, internet menyediakan ruang baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Anak dapat menemukan teman melalui permainan daring. Grup percakapan dapat menjadi tempat bertukar cerita. Komunitas penggemar dapat menjadi tempat seseorang merasa diterima karena memiliki minat yang sama. Bagi remaja yang merasa tidak cocok dengan lingkungan sosial di sekitarnya, internet bahkan dapat menjadi jalan untuk menemukan kelompok yang lebih sesuai dengan identitas dan kebutuhannya.

Dalam pengertian ini, third place memperoleh bentuk baru. Ruang sosial tidak lagi harus memiliki alamat fisik. Sebuah komunitas digital dapat "dihuni" oleh sekelompok orang yang mungkin tidak pernah duduk di meja yang sama, tetapi memiliki percakapan yang berulang, aturan kelompok, lelucon internal, simbol bersama, dan rasa memiliki.

Internet, dengan demikian, bukan sekadar ancaman bagi anak. Ia juga dapat menjadi ruang pertemanan, dukungan, kreativitas, pencarian identitas, dan rasa memiliki. Tetapi di sinilah persoalannya: perpindahan ruang sosial ke internet bukan sekadar perpindahan lokasi.

Ketika anak bermain di lapangan, jumlah orang yang berada di sana relatif terbatas. Ketika ia masuk ke internet, batas itu berubah. Ia dapat berinteraksi dengan jauh lebih banyak orang. Ia dapat menemukan komunitas yang sebelumnya tidak mungkin ia temui. Tetapi pada saat yang sama, ia juga lebih mungkin bertemu orang asing, norma sosial yang berbeda, informasi yang belum sesuai dengan usianya, maupun bentuk manipulasi yang tidak mudah dikenali. Karena itu, internet tidak tepat dipahami hanya sebagai ruang yang "aman" atau "berbahaya". Ia dapat memperluas dunia anak sekaligus memperbesar kerentanannya.

Masalahnya Bukan Sekadar Internet, tetapi Bentuk Ruangnya

Perbedaan paling penting antara ruang fisik dan ruang digital terletak pada bagaimana teknologi membentuk interaksi. Media sosial memungkinkan sebuah pesan disimpan, dicari, disalin, dan disebarkan. Sebuah percakapan yang semula hanya ditujukan kepada beberapa teman dapat berubah menjadi konsumsi publik.

Bayangkan seorang anak mengatakan sesuatu kepada tiga orang temannya di lapangan. Setelah mereka pulang, percakapan itu pada dasarnya selesai. Di internet, kalimat yang sama dapat menjadi tangkapan layar. Tangkapan layar itu dapat masuk ke grup lain, kemudian diteruskan ke orang lain, lalu beredar jauh melampaui audiens awal.

Teknologi dapat mengubah skala sebuah interaksi tanpa meminta persetujuan orang yang memulainya. Inilah salah satu persoalan mendasar ruang digital: sesuatu yang seharusnya sementara dapat menjadi permanen. Foto lama, komentar, video, percakapan, atau unggahan dapat muncul kembali bertahun-tahun kemudian dalam konteks yang sama sekali berbeda. Bagi orang dewasa, hal itu mungkin hanya disebut sebagai "jejak digital." Tetapi bagi remaja, persoalannya jauh lebih kompleks.

Masa remaja adalah masa ketika seseorang sedang mencoba berbagai kemungkinan tentang dirinya. Ia berubah. Ia bereksperimen. Ia terkadang membuat kesalahan, lalu belajar dari kesalahan tersebut. Masalahnya, manusia memiliki kemampuan untuk berubah, sementara internet tidak selalu memiliki kemampuan untuk melupakan.

Seseorang yang mengunggah sesuatu ketika berusia tiga belas tahun mungkin sudah menjadi pribadi yang sangat berbeda ketika berusia enam belas tahun. Namun, versi dirinya yang lama dapat tetap tersedia di internet. Di sinilah muncul ketegangan antara sifat sementara kehidupan sosial anak dan sifat permanen teknologi yang merekamnya.

Ketika Penonton Tidak Lagi Terlihat

Ada persoalan lain yang tak kalah penting: kita tidak selalu tahu siapa yang sedang melihat. Di ruang fisik, seorang anak biasanya dapat melihat siapa yang berada di sekelilingnya. Ia mengetahui siapa yang mendengar percakapannya. Di media sosial, yang terlihat mungkin hanya angka: jumlah views, likes, atau komentar. Tetapi siapa sebenarnya yang berada di balik angka tersebut?

Ada yang memberikan komentar. Ada yang hanya melihat. Ada yang menyimpan. Ada yang meneruskan. Dan sering kali, semua itu terjadi tanpa diketahui oleh orang yang membuat konten. Situasi ini berkaitan dengan apa yang disebut context collapse : ketika berbagai kelompok sosial yang sebelumnya memiliki ruang berbeda tiba-tiba bertemu dalam satu ruang komunikasi.

Seorang remaja dapat berbicara dengan cara tertentu kepada sahabat dekat, dengan cara lain kepada guru, dan dengan cara lain lagi kepada keluarga. Dalam kehidupan sehari-hari, batas-batas tersebut relatif mudah dipertahankan karena setiap hubungan memiliki ruangnya sendiri.

Media sosial dapat mencampurkan semuanya ke dalam satu panggung. Sebuah lelucon yang dianggap biasa oleh teman sebaya dapat dianggap tidak pantas oleh orang tua. Kritik terhadap sekolah yang dianggap biasa oleh teman dapat dilihat berbeda oleh guru. Satu unggahan dapat memiliki banyak makna tergantung siapa yang membacanya. Karena itu, kemampuan mengendalikan audiens bukan sekadar persoalan teknis privasi. Ia merupakan bagian dari rasa aman.

Tidak mengherankan jika akun privat, close friends, akun kedua, atau grup tertutup menjadi penting bagi sebagian remaja. Mereka sedang berusaha mendapatkan kembali sesuatu yang semakin sulit dikendalikan: siapa yang boleh melihat dirinya.

Remaja Membutuhkan Ruang Belakang

Erving Goffman pernah menggambarkan kehidupan sosial seperti sebuah pertunjukan. Ada front stage, tempat seseorang tampil dan mengelola kesan di hadapan orang lain. Ada pula back stage, tempat seseorang dapat menurunkan tuntutan untuk tampil.

Media sosial telah memperluas front stage kehidupan remaja. Foto dipilih. Caption disusun. Pakaian dipertimbangkan. Aktivitas ditampilkan. Citra diri dibangun. Sebenarnya, mengelola kesan bukan sesuatu yang baru. Manusia sudah melakukannya jauh sebelum media sosial muncul. Yang berubah adalah skala dan kecepatannya.

Panggung digital dapat memiliki audiens yang jauh lebih luas daripada panggung sosial di lingkungan sekitar. Masalah muncul ketika seorang remaja merasa harus terus berada di atas panggung. Ia harus terlihat bahagia, menarik, lucu, produktif, populer, atau memiliki kehidupan yang menyenangkan.

Di hadapannya, orang lain tampak sedang menjalani kehidupan terbaik. Sementara ia melihat dirinya sendiri dalam keadaan paling biasa. Maka remaja membutuhkan back stage. Mereka membutuhkan ruang yang tidak menuntut performa. Teman yang dapat menerima mereka ketika mereka tidak sedang tampil menarik. Percakapan yang tidak harus menjadi konten.

Mereka membutuhkan tempat untuk mengatakan bahwa mereka takut, bingung, marah, gagal, atau sedang tidak baik-baik saja tanpa khawatir pengakuan tersebut menjadi konsumsi publik. Karena itu, ruang privat digital tidak seharusnya selalu dicurigai sebagai tempat untuk menyembunyikan sesuatu.

Ia juga dapat menjadi bagian dari proses pembentukan identitas. Fenomena akun sekunder atau Finsta, misalnya, menunjukkan bagaimana sebagian remaja menggunakan ruang alternatif untuk mengatasi context collapse, mengendalikan audiens, dan menampilkan sisi diri yang tidak selalu ingin mereka bawa ke panggung utama. Ruang kecil itu mungkin justru merupakan usaha untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan sosial mereka.

Paradoks Keamanan: Semakin Diawasi, Belum Tentu Semakin Aman

Keinginan orang dewasa dan orang tua untuk mengawasi aktivitas digital anak tentu mudah dipahami. Internet memiliki banyak risiko yang tidak selalu terlihat. Orang tua mungkin tidak mengenal orang-orang yang berinteraksi dengan anaknya, tidak mengetahui konten apa yang dilihat, dan tidak memahami seluruh budaya komunitas digital tempat anak berpartisipasi.

Dalam situasi seperti itu, pengawasan terlihat sebagai solusi yang paling rasional. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah anak menjadi lebih mampu menjaga dirinya ketika pengawasan itu tidak ada?

Tujuan sosialisasi bukan sekadar menjaga anak tetap aman selama orang dewasa berada di dekatnya. Tujuan yang lebih jauh adalah membantu anak tumbuh menjadi individu yang secara bertahap mampu mengambil keputusan sendiri. Di sinilah muncul ketegangan antara protection dan autonomy. Perlindungan berusaha mengurangi risiko. Sementara otonomi membutuhkan kesempatan untuk menghadapi risiko secara bertahap dan belajar mengelolanya. Terlalu sedikit perlindungan dapat membuat anak rentan. Tetapi terlalu banyak kontrol juga dapat menghambat kemampuan anak membangun penilaian sosialnya sendiri.

Fenomena akun rahasia menjadi contoh menarik. Ketika anak membuat akun yang tidak diketahui orang tua, tindakan tersebut memang dapat meningkatkan risiko karena orang dewasa kehilangan sebagian kemampuan untuk mengetahui aktivitas anak. Tetapi jika fenomena itu hanya dibaca sebagai "anak menyembunyikan sesuatu," kita kehilangan pertanyaan yang lebih penting: Mengapa anak merasa membutuhkan ruang yang tidak dapat diakses orang dewasa?

Jawabannya tidak selalu karena ia ingin melakukan sesuatu yang berbahaya. Mungkin ia ingin berbicara dengan teman tanpa merasa diawasi. Mungkin ia sedang mencoba identitas tertentu. Mungkin ia hanya ingin memiliki ruang sosial yang terasa sebagai miliknya sendiri. Akun rahasia, dengan demikian, dapat menjadi bentuk risiko sekaligus bentuk pencarian otonomi.

Melindungi Anak Tanpa Menghilangkan Agensinya

Keselamatan anak tidak seharusnya dibangun dengan menganggap anak sebagai individu yang sama sekali tidak mampu mengambil keputusan. Anak memang membutuhkan perlindungan. Tetapi mereka juga memiliki pengalaman tentang kehidupan digital yang tidak selalu dimiliki orang dewasa.

Mereka tahu bagaimana bahasa pergaulan di internet bekerja. Mereka memahami bagaimana kelompok teman berkomunikasi. Mereka tahu bagaimana sebuah tren berkembang dan bagaimana tekanan sosial muncul di antara teman sebaya. Karena itu, anak seharusnya tidak hanya menjadi penerima aturan keselamatan.

Mereka juga harus menjadi sumber pengetahuan dalam merancang aturan tersebut. Kita perlu bertanya kepada mereka: apa yang membuat mereka merasa aman? Situasi seperti apa yang membuat mereka takut? Kepada siapa mereka akan meminta pertolongan? Pengawasan seperti apa yang membantu, dan pengawasan seperti apa yang justru membuat mereka enggan bercerita? Pendekatan ini mengubah posisi anak dari objek perlindungan menjadi subjek yang memiliki agency.

Hubungan orang tua dan anak pun perlu bergerak dari hubungan antara "penjaga gerbang" dan "pengguna" menjadi hubungan antara pendamping dan anak yang sedang belajar. Larangan mungkin diperlukan dalam situasi tertentu. Tetapi kemampuan mengenali manipulasi, memahami privasi, membaca risiko, dan mencari pertolongan akan tetap dibutuhkan ketika larangan tidak lagi berlaku.

Karena itu, keberhasilan perlindungan digital tidak hanya dapat diukur dari seberapa sedikit risiko yang dialami anak. Kita juga perlu bertanya: seberapa mampu anak menghadapi risiko ketika suatu hari risiko itu muncul tanpa kehadiran orang dewasa?

Apakah Masa Lalu Benar-Benar Lebih Aman?

Membandingkan masa lalu dengan masa kini memiliki satu jebakan: romantisasi. Masa lalu bukan dunia tanpa bahaya. Anak-anak dahulu juga mengalami kekerasan, perundungan, pengucilan, pelecehan, dan tekanan kelompok. Dalam beberapa kasus, pengalaman tersebut bahkan lebih sulit dibuktikan atau dilaporkan karena teknologi dokumentasi belum seperti sekarang.

Perbedaannya bukan pada ada atau tidak adanya bahaya. Perbedaannya terletak pada karakter sosial dari bahaya tersebut. Bahaya di ruang fisik biasanya memiliki batas tempat dan waktu yang relatif jelas. Seorang anak dapat meninggalkan lapangan. Ia dapat pulang. Ia dapat menjauh dari kelompok tertentu. Konflik mungkin masih berlanjut keesokan harinya, tetapi tidak selalu hadir setiap detik.

Di ruang digital, batas itu berubah. Perundungan dapat berlangsung ketika anak sudah berada di rumah. Komentar dapat datang ketika ia sedang makan. Pesan dapat muncul ketika ia hendak tidur. Konten yang memalukan dapat terus beredar bahkan ketika pelaku sudah tidak berada di dekat korban.

Teknologi mengubah temporalitas kekerasan sosial. Kekerasan yang dahulu bersifat episodik dapat menjadi kontinu. Peristiwa yang dahulu mungkin selesai ketika pelaku dan korban berpisah dapat terus berlangsung melalui notifikasi, unggahan, komentar, dan penyebaran konten.

Maka mengatakan bahwa "dulu lebih aman" tidak sepenuhnya tepat. Yang lebih tepat adalah: Dahulu, sebagian bahaya memiliki jalan keluar yang lebih jelas. Sekarang, jalan keluar dari ruang sosial tidak selalu tersedia.

Dari Ruang Fisik ke Ruang Hibrida

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menggunakan istilah "online" dan "offline" seolah-olah keduanya adalah dua dunia yang benar-benar terpisah. Bagi anak dan remaja sekarang, pemisahan tersebut semakin tidak relevan. Seorang anak dapat bermain dengan temannya secara langsung lalu melanjutkan percakapan melalui grup pesan.

Seorang remaja dapat mengenal seseorang melalui komunitas digital lalu bertemu secara langsung. Konflik dapat dimulai di sekolah dan berlanjut di media sosial. Pengalaman offline dapat menghasilkan unggahan online, sementara respons online dapat kembali memengaruhi kehidupan offline.

Keduanya telah menjadi satu ekosistem sosial. Karena itu, kehidupan anak modern lebih tepat dipahami sebagai ruang sosial hibrida. Dalam ruang hibrida ini, keselamatan tidak dapat dibagi berdasarkan lokasi. Anak harus aman di sekolah, tetapi sekolah juga perlu memahami konflik yang berlanjut di internet.

Anak membutuhkan perlindungan di rumah, tetapi orang tua juga perlu memahami bahwa sebagian kehidupan sosial anak berlangsung di luar jangkauan fisik mereka. Konsep ruang aman pun harus menjadi hibrida. Taman bermain yang aman tetapi grup sekolah penuh perundungan bukanlah ekosistem yang aman.

Sekolah yang memiliki aturan anti-bullying tetapi mengabaikan cyberbullying juga belum sepenuhnya melindungi anak. Keamanan harus mengikuti arus kehidupan sosial anak, bukan hanya lokasi fisiknya.

Bukan Mengembalikan Anak ke Masa Lalu, tetapi Membangun Masa Depan yang Lebih Aman

Mungkin solusi paling mudah adalah meminta anak menjauh dari internet. Tetapi solusi yang mudah tidak selalu merupakan solusi yang realistis. Internet telah menjadi bagian dari pendidikan, pertemanan, hiburan, kreativitas, bahkan pembentukan identitas. Menjauhkan anak sepenuhnya dari internet berarti menjauhkan mereka dari sebagian dunia sosial tempat generasi mereka tumbuh.

Yang kita butuhkan bukan penghapusan teknologi. Yang kita butuhkan adalah lingkungan digital yang lebih manusiawi. Anak membutuhkan literasi digital agar mampu memahami risiko. Orang tua membutuhkan pengetahuan agar tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga pendamping.

Sekolah perlu mengakui bahwa kehidupan sosial siswa tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi. Platform perlu bertanggung jawab terhadap desain dan mekanisme perlindungan anak. Negara perlu menghadirkan regulasi yang melindungi tanpa menghilangkan hak anak untuk berpartisipasi dalam masyarakat digital.

Dan yang paling penting, anak harus dilibatkan. Sebab kita tidak mungkin membangun ruang aman bagi anak tanpa mendengarkan orang yang akan tinggal di dalam ruang tersebut.

Ruang aman bukan sekadar ruang yang tidak memiliki bahaya. Ruang aman adalah ruang yang memberi seseorang cukup perlindungan untuk tumbuh, cukup kebebasan untuk mencoba, cukup privasi untuk mengenali dirinya, cukup batas untuk melindungi diri, dan cukup dukungan untuk meminta pertolongan ketika ia tidak mampu menghadapi sesuatu sendirian. Di era ketika dunia tidak pernah benar-benar offline, tantangan kita bukan membawa anak kembali ke masa lalu.

Tantangan kita adalah memastikan bahwa dunia digital yang telah menjadi bagian dari masa depan mereka tetap menyediakan ruang untuk menjadi anak-anak—tanpa membuat mereka kehilangan kendali atas dirinya sendiri.