Mengenal Power of Identity: Ketika Identitas Menjadi Komoditas

El-Roi R Madubun adalah seorang dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Ambon.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari El-Roi R Madubun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial dan ekonomi digital, kita tidak lagi sekadar membeli barang. Kita membeli makna, citra diri, dan pengakuan sosial. Sepatu bukan lagi soal kenyamanan, kopi bukan sekadar rasa, dan pekerjaan bukan hanya sumber penghasilan. Semua itu telah berubah menjadi penanda identitas—siapa kita, bagaimana kita ingin dilihat, dan di kelompok sosial mana kita ingin diakui. Di sinilah Power Of Identity bekerja dengan sangat halus, tetapi juga sangat kuat.
Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup modern, melainkan perubahan mendasar dalam cara manusia memahami dirinya. Identitas yang dahulu banyak dibentuk oleh keluarga, komunitas, atau profesi kini semakin digerakkan oleh pasar, iklan, dan algoritma media sosial. Kita hidup di zaman ketika pertanyaan “siapa kamu?” sering dijawab melalui apa yang kita konsumsi dan tampilkan, bukan lagi melalui apa yang kita perjuangkan atau relasikan secara sosial.
Iklan dan Media Sosial: Cermin yang Mengarahkan
Iklan masa kini jarang berkata, “Belilah produk ini karena murah dan tahan lama.” Sebaliknya, ia berbisik, “Inilah kamu jika memakai produk ini.” Media sosial memperkuat bisikan tersebut dengan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Konten iklan menyaru sebagai cerita personal, pengalaman autentik, atau bahkan motivasi hidup.
Contoh yang mudah ditemui adalah tren self-improvement di Instagram dan TikTok. Produktivitas, kesehatan mental, gaya hidup minimalis, hingga spiritualitas kini dikemas dalam format visual yang estetik—dan sering kali disertai produk tertentu. Buku, aplikasi, kopi, suplemen, hingga kelas daring tampil sebagai “jalan menuju versi diri yang lebih baik”. Pilihan hidup pun perlahan diarahkan oleh narasi pasar, bukan semata refleksi personal.
Influencer: Otoritas Baru Kehidupan Sosial
Dalam beberapa tahun terakhir, influencer telah menjadi rujukan utama gaya hidup dan pilihan hidup, terutama di kalangan generasi muda. Ketika seorang influencer memutuskan resign dari pekerjaan kantoran demi “hidup sesuai passion”, narasi tersebut cepat menyebar dan menjadi imajinasi kolektif tentang kesuksesan. Namun, yang sering luput disadari adalah bahwa narasi tersebut tidak berdiri di ruang hampa—ia disokong oleh sponsor, algoritma, dan ekonomi perhatian.
Kasus maraknya promosi flexible working lifestyle, digital nomad, atau ritual healing dan self rewarding adalah contoh nyata. Gaya hidup tersebut dipresentasikan sebagai pilihan bebas dan membahagiakan, padahal hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki modal ekonomi, digital, dan simbolik tertentu. Di sinilah identitas berubah menjadi komoditas: tampak personal, tetapi sesungguhnya sangat struktural.
Algoritma dan Ilusi Pilihan Bebas
Media sosial sering memberi kesan bahwa kita bebas memilih apa yang ingin dilihat dan diikuti. Padahal, algoritma bekerja terus-menerus menyaring realitas sosial kita. Konten yang sering kita tonton akan terus diulang, diperkuat, dan dinormalisasi. Akibatnya, identitas kita tidak hanya diekspresikan, tetapi direproduksi.
Fenomena echo chamber dalam isu gaya hidup, politik, dan nilai sosial menunjukkan bagaimana algoritma mempersempit horizon berpikir. Seseorang yang tertarik pada gaya hidup tertentu akan terus disuguhi konten serupa, hingga identitas itu terasa alamiah dan “paling benar”. Pilihan hidup pun tampak sebagai keputusan pribadi, padahal telah dibentuk oleh paparan simbolik yang berulang.
Solidaritas yang Rapuh dan Fragmentasi Sosial
Di satu sisi, identitas berbasis gaya hidup dapat menciptakan rasa kebersamaan. Komunitas lari, kopi, parenting, atau mental health awareness tumbuh subur di ruang digital. Namun di sisi lain, solidaritas semacam ini sering kali rapuh. Ia bergantung pada simbol dan citra, bukan relasi sosial yang mendalam.
Ketika identitas menjadi terlalu berbasis konsumsi dan performa, masyarakat mudah terfragmentasi. Perbedaan gaya hidup berubah menjadi batas sosial. Mereka yang tidak mampu mengikuti standar identitas dominan baik karena keterbatasan ekonomi maupun pilihan nilai berisiko tersisih secara simbolik. Fragmentasi ini tidak selalu terlihat kasar, tetapi bekerja secara halus melalui selera, citra, dan validasi sosial.
Refleksi Kritis: Merebut Kembali Makna Identitas
Power of identity bukanlah sesuatu yang sepenuhnya harus ditolak. Identitas selalu bersifat sosial dan simbolik. Namun, persoalannya adalah ketika identitas sepenuhnya dikendalikan oleh logika pasar dan algoritma. Ketika pengakuan sosial lebih diukur dari visibilitas daripada kontribusi nyata, kita berisiko kehilangan dimensi etis dan sosial dari kehidupan bersama.
Tantangan masyarakat hari ini bukan sekadar menjadi “otentik”, tetapi menjadi sadar: sadar bahwa tidak semua pilihan hidup benar-benar bebas, dan tidak semua identitas yang ditawarkan layak diikuti. Kesadaran kritis inilah yang memungkinkan kita menggunakan media dan konsumsi sebagai alat, bukan sebagai penentu jati diri.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “identitas apa yang ingin saya tampilkan?”, melainkan “nilai apa yang ingin saya hidupi?”. Di tengah banjir citra dan komodifikasi diri, mungkin keberanian terbesar hari ini adalah memilih hidup yang bermakna—meski tidak selalu terlihat menarik di layar gawai.
