Mengapa Kita Sering Merasa Harus Menyenangkan Semua Orang?

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aisyah Alya Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang yang terlihat mudah membantu benar-benar sedang baik-baik saja. Ada yang selalu berkata iya, selalu berusaha membuat orang lain nyaman, dan selalu menghindari konflik, tetapi diam-diam merasa lelah karena terus menahan keinginannya sendiri.
Kebiasaan seperti ini sering disebut people pleasing. Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang terlalu sering mengutamakan perasaan orang lain sampai lupa mempertimbangkan batas dirinya sendiri.
Sekilas, people pleasing terlihat seperti sikap baik. Seseorang tampak ramah, pengertian, dan tidak ingin menyakiti siapa pun. Namun, jika terus dilakukan tanpa batas, kebiasaan ini bisa membuat seseorang kehilangan ruang untuk jujur terhadap dirinya sendiri.
Saat Berkata Iya Terasa Lebih Aman
Bagi sebagian orang, berkata tidak bukan hal yang mudah. Menolak ajakan teman, menunda permintaan keluarga, atau menyampaikan pendapat yang berbeda bisa terasa menakutkan. Ada kekhawatiran akan dianggap egois, tidak peduli, atau mengecewakan orang lain.
Akhirnya, seseorang memilih berkata iya meskipun sebenarnya tidak sanggup. Ia menerima tugas tambahan, ikut rencana yang tidak ia inginkan, atau tetap hadir dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Semua dilakukan agar suasana tetap aman dan hubungan tidak terganggu.
Masalahnya, rasa aman yang muncul dari menyenangkan orang lain sering hanya sementara. Setelah itu, seseorang bisa merasa kesal, lelah, atau kecewa kepada dirinya sendiri karena lagi-lagi mengabaikan kebutuhan pribadi.
People Pleasing Tidak Selalu Berarti Tulus
Membantu orang lain tentu bukan hal yang salah. Menjadi orang yang peduli juga merupakan kualitas yang baik. Namun, people pleasing berbeda ketika bantuan diberikan bukan karena benar-benar mampu, tetapi karena takut ditolak jika tidak membantu.
Dalam kondisi ini, kebaikan tidak lagi sepenuhnya bebas. Ada tekanan di baliknya. Seseorang merasa harus selalu menyenangkan orang lain agar tetap diterima, disukai, atau dianggap berharga.
Lama-kelamaan, seseorang bisa sulit membedakan mana keinginan diri sendiri dan mana tuntutan dari lingkungan. Ia terbiasa membaca suasana orang lain, tetapi tidak terbiasa bertanya kepada dirinya sendiri: sebenarnya aku mau atau tidak?
Takut Mengecewakan Bisa Menguras Diri
Salah satu alasan people pleasing sulit dihentikan adalah rasa takut mengecewakan. Banyak orang merasa bahwa hubungan akan berubah jika ia mulai memberi batas. Ia takut dijauhi, dibicarakan, atau dianggap berubah menjadi tidak menyenangkan.
Padahal, hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang untuk berkata tidak. Jika sebuah hubungan hanya terasa aman ketika seseorang terus menurut, maka hubungan itu perlu dilihat kembali secara lebih jujur.
Terus-menerus menekan diri agar orang lain tidak kecewa bisa membuat seseorang mudah lelah secara emosional. Ia mungkin terlihat baik di luar, tetapi di dalam dirinya merasa penuh, kesal, dan tidak punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Peran Psikodiagnostik dalam Memahami Pola Ini
Dalam psikodiagnostik, perilaku seseorang tidak bisa langsung disimpulkan hanya dari satu kebiasaan. Seseorang yang sulit menolak tidak otomatis memiliki gangguan tertentu. Psikolog perlu memahami pola emosi, pengalaman relasi, cara berpikir, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Wawancara, observasi, dan alat tes psikologi dapat membantu melihat apakah kebiasaan menyenangkan orang lain berkaitan dengan kecemasan, harga diri, pengalaman masa lalu, atau pola hubungan yang terbentuk sejak lama.
Tujuannya bukan untuk memberi label, melainkan memahami mengapa seseorang merasa tidak aman ketika menyatakan kebutuhan dirinya sendiri. Dengan pemahaman yang lebih utuh, seseorang bisa belajar membangun batas tanpa merasa bersalah secara berlebihan.
Batas Diri Bukan Tanda Egois
Banyak orang yang terbiasa people pleasing mengira bahwa membuat batas berarti menjadi egois. Padahal, batas diri justru membantu hubungan menjadi lebih sehat. Batas membuat seseorang tahu kapan bisa membantu, kapan perlu istirahat, dan kapan perlu berkata tidak.
Batas diri tidak harus disampaikan dengan kasar. Seseorang bisa menolak dengan tetap sopan. Misalnya, mengatakan bahwa ia belum bisa membantu hari ini, butuh waktu untuk berpikir, atau hanya mampu membantu sebagian.
Pada awalnya, membuat batas mungkin terasa tidak nyaman. Namun, rasa tidak nyaman itu bukan selalu tanda bahwa keputusan tersebut salah. Bisa jadi, itu hanya tanda bahwa seseorang sedang belajar keluar dari kebiasaan lama yang terlalu sering mengabaikan dirinya sendiri.
Belajar Baik Tanpa Kehilangan Diri
Menjadi baik tidak harus berarti selalu siap untuk semua orang. Peduli pada orang lain tetap bisa berjalan bersama kepedulian terhadap diri sendiri. Seseorang tetap bisa menjadi teman, anak, pasangan, atau rekan yang baik tanpa harus mengorbankan seluruh energinya.
Pertanyaan yang bisa mulai diajukan adalah: apakah aku membantu karena memang mampu, atau karena takut tidak disukai? Apakah aku berkata iya karena benar-benar ingin, atau karena merasa tidak punya pilihan?
Pada akhirnya, people pleasing bukan sekadar masalah terlalu baik. Ia bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang mencari rasa aman melalui penerimaan orang lain. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya tetap memberi ruang bagi seseorang untuk jujur, memiliki batas, dan tetap dihargai meskipun tidak selalu menyenangkan semua orang.
________________________________________________
Oleh Aisyah Alya Kamilah, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
