Inovasi Pengelolaan Sampah Kota Padang Melalui Sistem Biokonversi Maggot

Mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. Jurnalis di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Asyani Rahayu Simatupang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kota Padang kini berada di tengah krisis pengelolaan sampah yang terus meningkat setiap tahunnya.
Berdasarkan pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Fadelan Fitra Masta, pada Maret 2024, timbulan sampah harian di Kota Padang mencapai sekitar 650 ton per hari. Angka tersebut disampaikan dalam konferensi pers DLH menjelang Ramadan, sebagai bagian dari evaluasi sistem kebersihan selama bulan puasa dan persiapan menjelang Idul Fitri. Fadelan menyebut bahwa jenis sampah yang paling mendominasi berasal dari rumah tangga dan sektor kuliner seperti pasar, rumah makan, dan kafe.

Dari total jumlah tersebut, sekitar 60%–65% merupakan sampah organik yang sebagian besar belum dipilah dan langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin. Oleh sebab itu, volume sampah akan akan meningkat signifikan selama Ramadan dan Lebaran, sehingga diperlukan antisipasi lebih intensif terhadap kondisi TPA yang semakin padat.
Pernyataan ini dikutip dari berita yang diterbitkan Padangkita.com pada 14 Maret 2024 dan diperkuat oleh data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang mencatat bahwa timbulan sampah harian Kota Padang pada tahun 2023 mencapai 647,39 ton per hari (Padangkita.com, 2024; SIPSN KLHK, 2023). Namun, yang berhasil dipilah dan diolah secara mandiri hanya sebagian kecil saja, sisanya dibuang langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA) Air Dingin yang kini nyaris kelebihan kapasitas.
Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Andalas, Eki Reza Mulyadi, menyatakan bahwa TPA Air Dingin kini telah mendekati ambang kapasitas maksimum. Ia menambahkan bahwa jika tidak segera dilakukan penanganan sistemik, TPA diperkirakan akan penuh sebelum tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara yang dimuat oleh Langgam.id pada Januari 2024. Ia juga menggarisbawahi bahwa beban TPA semakin berat karena sebagian limbah dari luar kota, seperti Bukittinggi dan Payakumbuh, juga dibuang ke lokasi yang sama. Dengan kapasitas yang nyaris terisi penuh dan sistem pengelolaan yang masih bertumpu pada metode open dumping, TPA Air Dingin menghadapi tekanan ekologis dan teknis yang cukup serius (Langgam.id, 2024).
Permasalahan ini tidak berdiri sendiri. Sampah organik yang menumpuk di TPA tanpa pengolahan menyebabkan pelepasan gas metana (CH₄) dalam jumlah besar. Gas ini diketahui memiliki potensi pemanasan global yang 25 kali lebih kuat dari karbon dioksida. Selain itu, air lindi yang mengalir dari tumpukan sampah mengandung zat beracun dan logam berat yang mencemari air tanah dan permukaan, membahayakan kesehatan warga sekitar dan kehidupan mikroorganisme tanah (Chusna, 2021).
Kondisi ini diperparah oleh tidak optimalnya fasilitas pengolahan di TPA, yang masih bergantung pada metode open dumping dan pengomposan terbatas. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah menjadi salah satu faktor utama yang memperparah kondisi ini. Studi oleh (Ompusunggu et al., 2025) menemukan bahwa lebih dari 57% rumah tangga di Indonesia masih membakar atau membuang sampah organik dan anorganik secara bersamaan, tanpa melalui proses pemilahan awal.
Padahal, praktik pemilahan dari sumber terbukti menjadi fondasi utama keberhasilan pengelolaan sampah di berbagai kota maju di dunia. Kita bisa belajar dari sana. Kegagalan membangun budaya pemilahan membuat sistem daur ulang sulit dijalankan secara maksimal.
Solusi untuk permasalahan ini tidak harus bersifat mahal dan kompleks. Salah satu inovasi yang terbukti efektif dan ekonomis adalah pemanfaatan larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Maggot BSF merupakan agen biologis yang mampu mengurai sampah organik secara cepat dan efisien. Hasil penelitian oleh (Oemar et al., 2023) menunjukkan bahwa dalam waktu 12 hari, larva BSF mampu mengurai hingga 86% volume sampah makanan rumah tangga di Taman Sari, Jakarta Barat.
Selain mampu mengurangi volume sampah secara signifikan, budidaya maggot juga menghasilkan residu kompos dan biomassa pakan ternak bernilai ekonomi. Efektivitas teknologi ini juga didukung oleh temuan Lambung Mangkurat University dalam jurnal Biotropika (Rohmanna & Maharani, 2022), yang menyatakan bahwa BSFL mampu menurunkan timbulan sampah domestik hingga 76,5% dalam waktu kurang dari dua minggu.
Universitas Negeri Malang dalam studi tahun 2024 bahkan menyimpulkan bahwa semakin tinggi kepadatan larva BSF yang digunakan, semakin besar Indeks Pengurangan Sampah yang dihasilkan. Artinya, sistem ini dapat disesuaikan dengan skala pengolahan: dari rumah tangga hingga unit kelurahan.
Dalam konteks Kota Padang, solusi ini sangat relevan. Sebagian besar sampah organik berasal dari aktivitas rumah tangga dan pelaku usaha kuliner, seperti rumah makan, kafe, hingga pedagang kaki lima. Penerapan sistem BSF dalam skala komunitas bisa dimulai dari unit RW atau kelurahan, seperti yang telah sukses diterapkan di pasar tradisional Puri Cipageran, Cimahi, sejak 2022.
Studi oleh (Rochaeni et al., 2022) mencatat peningkatan kebersihan dan pengurangan sampah pasar setelah adanya unit maggot di area tersebut. Jika sistem serupa diterapkan di kawasan kuliner dan padat penduduk Kota Padang, maka pengurangan sampah bisa dilakukan langsung di sumbernya.
Lebih lanjut, integrasi antara pengolahan maggot dan pemanfaatan air lindi sebagai aktivator kompos juga menjadi peluang besar. Penelitian (Chusna, 2021) menunjukkan bahwa air lindi yang biasanya mencemari lingkungan dapat diproses dan digunakan untuk mempercepat dekomposisi kompos. Ini akan memberikan efisiensi ganda: mengurangi limbah cair sekaligus mempercepat produksi kompos padat yang bisa digunakan kembali oleh warga untuk urban farming atau dijual.
Untuk mendukung implementasi teknologi ini, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Universitas Andalas dapat berperan aktif sebagai pusat pelatihan dan penelitian maggot di tingkat lokal, mengembangkan teknologi sederhana yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat. Pemerintah kota bisa mengalokasikan anggaran DAK (Dana Alokasi Khusus) bidang lingkungan hidup untuk pembangunan unit-unit pengolahan maggot, sementara sektor swasta dapat terlibat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Namun, teknologi saja tidak cukup. Transformasi perilaku dan budaya pengelolaan sampah perlu dibangun melalui edukasi berkelanjutan. Perubahan dalam perilaku pengelolaan sampah perlu diiringi oleh pemahaman dan motivasi yang valid di tingkat masyarakat. Sebagai alternatif yang lebih ilmiah, studi oleh (Widayati & Jaya, 2023) di Jurnal Manajemen & Agribisnis menganalisis perilaku pemisahan sampah oleh pedagang di pasar tradisional menggunakan kerangka TPB.
Mereka meneliti 210 pedagang di pasar agrikultur Kota Semarang dan menemukan bahwa sikap positif, norma sosial, dan perceived behavioral control (PBC) secara signifikan memengaruhi niat memilah sampah. Niat tersebut kemudian berujung pada praktik memilah yang nyata . Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga funding edukasi dan empowering masyarakat agar memiliki kepercayaan dalam kemampuannya (PBC), serta norma sosial yang mendukung gaya hidup zero-waste.
Pada akhirnya, krisis sampah di Kota Padang tidak bisa hanya diselesaikan dari sisi hulu ataupun hilir saja. Diperlukan intervensi simultan yang melibatkan sistem, teknologi, dan kesadaran kolektif. Dengan memanfaatkan teknologi maggot yang terbukti ramah lingkungan, memperluas praktik pengomposan, dan mendorong pemilahan dari rumah tangga, Kota Padang dapat bergerak menuju sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga menguntungkan secara ekonomi dan sosial.
REFERENSI:
Chusna, N. A. (2021). Studi Kualitas Kompos Dengan Pemanfaatan Air Lindi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah. Dampak, 18(2), 63–67.
Langgam.id. (2023, September 14). TPA Air Dingin Padang Diprediksi Penuh Tahun 2026, Wako Minta Warga Kelola Sampah. https://langgam.id/tpa-air-dingin-padang-diprediksi-penuh-tahun-2026-wako-minta-warga-kelola-sampah/
Oemar, T., Purwaningrum, P., Ruhiyat, R., & Ashardiono, F. (2023). Potential of black soldier fly (Bsf) in reducing municipal food loss and waste (Flw) at Taman Sari District, West Jakarta. Indonesian Journal of Urban and Environmental Technology, 132–144.
Ompusunggu, A. R. I., Safinatunnaja, E. N., Ridwan, R. M., Ramdani, T. C. K., Ana, A., & Achdiani, Y. (2025). Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Keluarga. Health & Medical Sciences, 2(3), 10.
Padangkita. (2023, September 13). DLH Padang Pakai Terpal Tutup Truk Sampah, Produksi Sampah Capai 650 Ton Per Hari. https://padangkita.com/dlh-padang-pakai-terpal-tutup-truk-sampah-produksi-sampah-capai-650-ton-per-hari/
Rochaeni, A., Baihaki, E., Cartono, C., Halimah, M., Yustiani, Y. M., Saputra, R., Sulaeman, D., Yogi, B., & Fiqri, I. (2022). Application of BSF Larvae Method in Solid Waste Management in the Puri Cipageran Market, Cimahi, Indonesia. Journal of Community Based Environmental Engineering and Management, 6(1), 1–6.
Rohmanna, N. A., & Maharani, D. M. (2022). Waste reduction performance by black soldier fly larvae (BSFL) on domestic waste and solid decanter. Biotropika: Journal of Tropical Biology, 10(2).
Widayati, T., & Jaya, R. C. D. (2023). A Study of Sustainable Waste Management Using Theory of Planned Behaviour in Traditional Agricultural Markets. Jurnal Manajemen & Agribisnis, 20(1), 68.
Informasi Penulis:
Asyani Rahayu Simatupang
Diaz Atisa
Fransiska Vazyabilla
M
