Satu Episode Lagi Tiba-Tiba Sudah Subuh! Kenapa Drakor Sebegitu Nagihnya?

Mahasiswi Farmasi Universitas Islam Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asyifatul Ludfi Amaliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Drama Korea, yang lebih dikenal dengan istilah drakor, kini telah menjadi tontonan favorit bagi banyak orang di berbagai belahan dunia. Tak sedikit penonton yang rela begadang demi menyelesaikan satu musim penuh dalam semalam. Namun, sebenarnya apa yang membuat drakor begitu memikat? Jawabannya tidak hanya terletak pada alur cerita yang menarik, melainkan juga pada berbagai faktor psikologis dan teknik penceritaan yang kuat, yang membuat penonton sulit untuk berhenti menonton. Mulai dari kisah yang emosional dan relevan, karakter yang terasa nyata, akhir cerita yang menggantung (cliffhanger), visual serta musik latar yang memanjakan indera, hingga penggambaran budaya Korea yang menarik. Belum lagi, sensasi menyenangkan dari menonton secara maraton (binge-watching) turut memicu pelepasan dopamin di otak, yang memperkuat keinginan untuk terus menonton.
Salah satu aspek yang membedakan drakor adalah kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya mengangkat kisah percintaan, tetapi juga menggambarkan hubungan keluarga, perjuangan dalam karier, hingga persahabatan yang penuh makna. Penonton seolah diajak ikut merasakan naik-turunnya kehidupan tokoh utama. Selain itu, drakor sering menyisipkan simbol-simbol kecil yang memperdalam makna cerita, seperti hujan yang melambangkan harapan baru, atau luka fisik yang merepresentasikan trauma masa lalu. Karakter dalam drakor pun dibuat sangat manusiawi atau tidak sempurna, memiliki konflik pribadi, dan justru hal tersebut membuat mereka terasa nyata. Hal ini semakin terasa pada genre slice of life, yang mengangkat hal-hal sederhana seperti makan bersama, berbincang dengan teman, atau rutinitas kerja harian. Semua elemen ini membuat penonton merasa terhubung dan berkata dalam hati, “Ini sangat mencerminkan diriku.”
Teknik penceritaan dalam drakor juga sangat mahir dalam membangkitkan rasa penasaran penonton, terutama melalui penggunaan cliffhanger. Umumnya, sebuah episode diakhiri tepat pada momen kritis, yang memancing keinginan kuat untuk langsung menonton episode berikutnya. Hal ini terjadi karena otak manusia cenderung ingin menyelesaikan sesuatu yang belum tuntas. Dengan konflik yang terus berkembang dan hubungan antarkarakter yang kuat, keterikatan emosional penonton pun semakin dalam. Tak heran bila banyak orang tanpa sadar menonton berjam-jam, hingga menimbulkan kebiasaan binge-watching.
Tak hanya dari segi cerita, karakter dalam drakor juga dibangun dengan sangat mendalam. Mereka memiliki tujuan hidup, latar belakang, serta konflik pribadi yang membuat penonton merasa memiliki keterkaitan. Terkadang, penonton merasa seakan melihat diri sendiri dalam karakter tersebut. Pengembangan karakter yang dilakukan secara perlahan namun konsisten memberi waktu bagi penonton untuk memahami dan merasakan perjalanan emosi sang tokoh. Karena itu, tak jarang timbul perasaan akrab, seolah para karakter adalah teman dekat atau anggota keluarga sendiri.
Dari aspek visual, drakor juga selalu menyajikan tampilan yang menawan. Penggunaan pencahayaan, warna, serta komposisi gambar dirancang sedemikian rupa untuk menyatu dengan suasana cerita. Adegan-adegan romantis, misalnya, sering kali dihiasi dengan pencahayaan lembut dan sinematografi yang indah. Lokasi pengambilan gambar yang ikonik dan memikat membuat penonton betah menikmati setiap adegan. Tidak mengherankan jika penonton merasa seolah-olah berpindah ke dunia lain saat menonton drakor.
Peran musik latar atau original soundtrack (OST) juga tidak bisa diabaikan. Musik dalam drakor bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen penting dalam menyampaikan emosi cerita. Lagu-lagu yang digunakan sering kali begitu melekat di ingatan, bahkan mampu mengingatkan penonton pada adegan tertentu, meskipun dramanya telah lama selesai. Beberapa OST bahkan menjadi lagu populer yang terus didengarkan jauh setelah serial berakhir, karena kekuatannya dalam membangkitkan emosi.
Drakor juga kerap menampilkan sisi ideal budaya Korea. Nilai-nilai seperti kekeluargaan, kerja keras, dan rasa hormat terhadap orang tua disandingkan dengan gaya hidup modern yang menarik. Hal ini membuat banyak penonton internasional tertarik, terutama karena disertai dengan unsur-unsur budaya Korea seperti mode pakaian, makanan, dan kebiasaan sosial yang unik dan menyenangkan untuk dipelajari. Tak sedikit yang akhirnya jatuh cinta pada budaya Korea berkat drakor.
Dilihat dari sudut pandang ilmiah, kebiasaan binge-watching juga berdampak pada otak. Setiap kali penonton merasakan kepuasan dari perkembangan cerita, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Itulah sebabnya mengapa seseorang bisa terus menonton tanpa henti. Namun, perlu diingat bahwa kebiasaan ini, jika dilakukan secara berlebihan, dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, kurang tidur, hingga meningkatnya kecemasan. Oleh karena itu, menonton drakor sebaiknya dilakukan secara seimbang.
