Dari Hujan dan Mesra Kecil-Kecilan

Penulis Opini di Berbagai Media. Lulusan Strata Satu (S1) Hukum Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Negeri Parepare.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asyraf Alharaer Assegaf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dan sore ini… Tiap hujan turun, aku merasa dunia melambat. Suara rintiknya seperti jeda diantara segala kesibukan yang diciptakan sendiri. Dari jendela, kubuka dan kulihat langit menunduk, jalanan berkilau tabur dan orang-orang berlari untuk berteduh. Tetapi bagiku, hujan bukan hanya tentang air jatuh. Adalah pengingat lembut bahwa tidak semua hal harus tergesa. Beberapa rasa memang sebaiknya tumbuh pelan-pelan, seperti hujan yang turun dari langit tanpa niat membuat gaduh.
Sore ini, tak hanya rintiknya; lagu Sal Priadi berputar di laptopku “Mesra-mesraannya, kecil-kecilan dulu”. Sepenggal kalimat sederhana, tapi entah kenapa terasa dalam. Ditengah ramainya sosial media yang suka berpura-pura bahagia, itu terdengar jujur. Tatapku terdiam cukup lama. Mungkin benar, kita sering memaksa cinta yang berlebihan, padahal yang kecil-kecilan jusrtu paling tulus. Kita sering cari cinta yang ramai, padahal yang paling menenangkan adalah yang sunyi tapi nyata.
Aku jadi teringat. Dulu kami tidak banyak bicara tentang masa depan, tidak punya janji besar, tidak pandai berkata manis. Kami hanya tahu cara saling tenang dalam kesibukan. Kadang dia menatap, aku tersenyum. Kadang kami duduk diam, menatap hujan tanpa perlu banyak bicara, bahkan hujan juga diterpa bersama. Hubungan itu sederhana, tapi hangat. Cinta yang tidak berisik, tapi terasa sampai ke dalam dada. Sekarang aku tahu, cinta tidak harus selalu dirayakan besar-besaran. Cukup dengan perhatian kecil yang dilakukan berulang kali, itu sudah lebih dari cukup.
Cinta seperti hujan, tidak datang untuk mengguyur dan memberi layu. Ia turun untk memberi ruang tumbuh. Ia membuat segala sesuatu hidup, diam-diam. Tak perlu kencangnya guntur untuk menunjukkan bertapa kuatnya. Begitu pun mesra, tidak harus di sorot lampu, tidak perlu kata-kata rumit. Ia bisa sesederhana mengingatkan untuk makan, mengirim pesan “hati-hati di jalan,” atau sekadar diam mendengarkan cerita yang tidak penting tapi ingin dibagi.
Namun, kemesraan tidak hanya milik dua orang yang saling jatuh cinta. Ada bentuk lain yang sama hangatnya, mesra di antara saudara. Ibuku, di setiap pagi, ia memastikan sarapan terhidang sebelum berangkat. Kakakku, yang sering menanyakan kabar, bahkan jadi support. Adikku, yang sering begadang, main game dan tiba-tiba melapor ke Ibu dan bilang, “Kakak bicara kotor.” Hal-hal seperti itu terlihat kecil, tapi sesungguhnya di situlah letak kasih yang sesungguhnya.
Kita terlalu sering menuntut cinta yang dramatis sampai lupa bahwa bentuk paling tulus dari kasih justru sering tersembunyi di balik keheningan. Mesra kecil-kecilan itulah yang membuat hidup tetap hangat. Ia tidak perlu dirayakan, cukup dirawat. Karena cinta yang besar bisa pudar oleh waktu, tapi kasih sederhana justru bertahan di ingatan.
Hujan sore ini membuatku berpikir, mungkin kita memang tidak sedang kekurangan cinta. Kita hanya kehabisan cara untuk mengekspresikannya dengan sederhana. Kita sibuk menampilkan cinta yang bisa dilihat orang lain, tapi lupa menjaga yang bisa dirasakan orang dekat. Kita ingin diakui bahagia, padahal yang paling penting adalah benar-benar merasa damai.
Dari hujan dan kasih sederhana itu, aku belajar bahwa cinta tidak harus sempurna, cukup nyata. Tidak perlu besar, cukup hangat. Tidak harus berlebihan, cukup hadir. Kadang yang membuat kita bertahan bukanlah janji besar, tapi perhatian kecil yang konsisten. Seperti hujan yang datang dengar suara deras tapi membuat bumi tetap hidup kembali.
Aku percaya, Tuhan menciptakan cinta dalam banyak bentuk. Ada cinta yang datang dengan kejutan, ada yang tumbuh perlahan. Ada cinta yang seperti hujan deras sore ini, menggetarkan tapi cepat reda. Ada juga cinta yang seperti gerimis, pelan tapi menenangkan. Apa pun bentuknya, yang membuatnya berarti bukanlah ukurannya, melainkan ketulusannya.
Jadi, aku memilih untuk percaya pada mesra kecil-kecilan. Pada cinta yang tidak tergesa. Pada perhatian yang tidak diumumkan tapi dirasakan. Pada orang-orang yang mungkin tidak pandai berkata manis, tapi selalu memastikan kita tidak sendirian. Karena, di tengah dunia yang serba cepat dan keras, barangkali yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang tahu cara diam di samping kita saat hujan turun.
Maka, hujan sore ini jadi pengingat. Bahwa kehangatan tidak selalu datang dari pelukan besar, tapi bisa juga dari secangkir teh hangat, pesan singkat dari saudara, atau seseorang yang menunggu kita pulang tanpa suara. Sebab hidup, pada akhirnya, memang hanya tentang itu, menemukan alasan kecil untuk tetap hangat di tengah segala yang dingin dan tergesa.
