KRL, Transportasi Publik Andalan Masyarakat Jabodetabek
Tulisan dari Atallah Putra Agavi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti kita ketahui provinsi DKI Jakarta yang notabene merupakan ibukota negara dari Republik Indonesia pastinya menjadi daya tarik tersendiri dengan segala kemegahan metropolitan yang ada. Berkaitan dengan seberapa pentingnya DKI Jakarta sebagai kota metropolitan ini, maka secara bertahap pula pertambahan penduduk menjadi hal yang tidak bisa dihindari lagi. DKI Jakarta dan daerah sekitarnya (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) menjadi sebuah kawasan yang kita kenal dengan Jabodetabek yang dalam hakikatnya menjadi kota satelit daripada DKI Jakarta karena pertambahan penduduk yang tidak bisa dihindari tadi.
Tidak bisa dipungkiri pula bagi masyarakat Jabodetabek dalam segala hal, baik itu untuk bekerja pada hari kerja maupun berlibur di akhir pekan pasti akan bermigrasi ke DKI Jakarta. Fenomena bermigrasi ini pada akhirnya menjadi sebuah hal yang sifatnya pasti dan pemerintah melalui stakeholder-stakeholder terkait (Kemenhub dan PT KAI) harus bisa memberikan public value terkait hal ini agar masyarakat dapat difasilitasi dengan baik dalam kegiatan bermigrasi tersebut. Public value yang dikembangkan pemerintah akan fenomena ini pada akhirnya tertuang melalui transportasi publik yang disediakan.
Kereta atau yang sekarang lumrah kita dengar dengan istilah KRL menjadi salah satu transportasi publik yang tidak bisa dipungkiri lagi tentang public value yang ada disana. Masyarakat Jabodetabek yang sudah lama menggunakan KRL ini pada akhirnya tidak memandang alternatif transportasi lain untuk keperluan mereka bermigrasi dari kota satelit ke DKI Jakarta maupun sebaliknya. Terdapat faktor yang pastinya secara sadar maupun tidak sadar tentang kenapa masyarakat Jabodetabek terus menggunakan KRL, faktor tersebut adalah Spatial Availability yang akan kita bahas bersama.
Spatial Availability yang pada hakikatnya meninjau terhadap ketersediaan layanan transit di sekitar tempat tinggal serta tempat tujuan pengguna ternyata dapat mempengaruhi seorang calon penumpang untuk menggunakan suatu layanan transit. Pemerintah melalui Kemenhub menangkap terhadap keperluan penyokong public value masyarakat dalam hal transportasi KRL ini melalui penilaian terhadap kemudahan pengguna dalam mengakses transportasi publik lain untuk melanjutkan perjalanan. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Jabodetabek pastinya memiliki mobilitas yang tinggi setiap harinya dan memerlukan kemudahan mobilitas agar segala kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Akses transportasi yang memadai pastinya menjadi kunci daripada hal ini dan diperlukan pula penataan fisik maupun integrasi layanan antarmoda transportasi di wilayah Jabodetabek.
Berdasarkan hasil kuesioner yang dilakukan kepada 356 responden, Responden yang merasa ketersediaan layanan transit memadai sebanyak 33,9% atau sejumlah 121 responden. Sedangkan hasil jawaban tertinggi di tingkat cukup memadai dirasakan oleh 229 responden atau 64,1%. Perlu kita ketahui bahwasannya aspek ketersediaan spasial mempertimbangkan dua titik wilayah, yaitu rumah dan kantor atau titik yang biasanya dijadikan destinasi tujuan pengguna transit secara kontinuitas yang memadai, hal ini tidak terlalu dirasakan oleh 7 responden lainnya atau sebanyak 2%.
Mayoritas masyarakat Jabodetabek menganggap bahwa Spatial Availability pada KRL Jabodetabek sudah cukup memadai. Berdasarkan hal ini kita bisa melihat bahwa sudah cukup terintegrasinya keterhubungan dengan penggunaan transportasi publik seperti Transjakarta, KRL, MRT, dan LRT yang sudah cukup menjawab akan keperluan public value masyarakat Jabodetabek selama ini. Masyarakat Jabodetabek pada akhirnya tetap menjadikan KRL sebagai moda transportasi andalan karena menerima dengan sepenuh hati apa yang diberikan oleh para stakeholder akan penyediaan transportasi di Jabodetabek. Para pengguna KRL Jabodetabek yang notabene masyarakat Jabodetabek juga memang sudah mengetahui betul akan pilihan moda transportasi yang akan mereka gunakan sehabis menaiki KRL Jabodetabek. Apabila mereka tahu bahwa suatu stasiun KRL sangat susah sekali akses transportasi publik lain untuk melanjutkan perjalanan, maka mereka tidak akan menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama mereka untuk ke tujuan tersebut.

