Konten dari Pengguna

Logam Tersembunyi di Piring Kita: Bahaya Aluminium dari Peralatan Masak Harian

Atha imannisa

Atha imannisa

Mahasiswa aktif UIN Sunan Gunung Djati Bandung

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atha imannisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.istockphoto.com/id/foto/panci-memasak-di-atas-kompor-pembakar-panas-gm157588580-12770767?searchscope=image%2Cfilm
zoom-in-whitePerbesar
https://www.istockphoto.com/id/foto/panci-memasak-di-atas-kompor-pembakar-panas-gm157588580-12770767?searchscope=image%2Cfilm

Racun yang tak disadari di dapur

Peralatan memasak berbahan aluminium, seperti panci, wajan, dan sendok sayur, banyak dipakai karena harganya terjangkau, ringan, dan cepat panas. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa logam berbahaya seperti aluminium dan timbal bisa berpindah dari peralatan tersebut ke makanan selama proses memasak.

Menurut studi oleh Saif dkk (2023), kandungan timbal dalam peralatan masak aluminium berada pada rentang 3,2 ± 0,25 hingga 4,64 ± 0,20 g/kg. Pelepasan logam ini lebih tinggi pada peralatan aluminium yang baru dibandingkan dengan yang sudah lama dipakai. Selain itu, makanan dengan sifat asam, seperti sayur asem atau tomat, cenderung memudahkan pelarutan logam ke dalam makanan.

Jika konsumsi makanan yang terkontaminasi logam ini berlangsung terus-menerus dalam waktu lama, paparan aluminium dan logam berat lainnya dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti anemia, gangguan pada sistem saraf, serta gangguan pada tulang.

Bagaimana Aluminium Bisa Masuk ke dalam makanan? (Mekanisme Leaching)

Aluminium dari peralatan memasak dapat berpindah ke makanan melalui proses yang dikenal sebagai pelepasan logam (metal leaching). Proses ini terjadi saat makanan bersentuhan dengan alat masak berbahan aluminium seperti panci, wajan, atau loyang, terutama dalam kondisi tertentu. Beberapa faktor yang memengaruhi pelepasan logam meliputi:

  • Jenis peralatan: Aluminium baru, termasuk anodized dan non-anodized, bisa melepaskan logam, meskipun peralatan anodized umumnya lebih aman dibanding yang non-anodized (Saif dkk., 2023).

  • Suhu tinggi: Memasak pada suhu tinggi meningkatkan jumlah aluminium yang larut ke dalam makanan.

  • Kandungan asam atau garam dalam makanan: Makanan asam seperti sayur asem dan tomat, serta masakan dengan kadar garam tinggi, mempercepat pelepasan aluminium dan logam berat lain seperti timbal, nikel, atau kadmium (Khairul dkk., 2023).

  • Durasi memasak: Semakin lama waktu memasak, semakin banyak logam yang dapat larut ke makanan.

Penelitian menunjukkan bahwa risiko tertinggi pelepasan logam terjadi pada makanan asam dan penggunaan peralatan masak yang baru. Kualitas alat masak juga sangat memengaruhi; panci aluminium dengan kualitas rendah melepaskan logam lebih banyak dibandingkan yang berkualitas tinggi atau terbuat dari tanah liat. Selain itu, jenis makanan yang bersifat asam atau basah mempercepat pelarutan logam selama proses memasak.

Makanan Harian yang Berisiko Terkontaminasi

Beberapa jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari bisa mengandung aluminium, baik berasal dari lingkungan maupun dari proses pengolahan dan penggunaan peralatan masak. Berdasarkan penelitian oleh Gutiérrez (2017), sayuran tercatat memiliki kadar aluminium tertinggi, diikuti oleh seafood atau ikan, serta umbi-umbian seperti kentang, singkong, dan ubi. Rata-rata kandungan aluminium dalam sayuran sekitar 16,8 mg/kg, seafood sekitar 11,9 mg/kg, dan umbi-umbian sekitar 9,6 mg/kg. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun makanan-makanan tersebut alami, konsumsi rutin bisa menjadi sumber aluminium, terutama jika berasal dari lingkungan yang terkontaminasi atau dimasak dengan peralatan yang mengandung aluminium. Oleh karena itu, konsumen disarankan memperhatikan asal makanan dan metode memasak untuk mengurangi risiko paparan logam berat.

Dampak Aluminium terhadap Kesehatan

Aluminium bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan penggunaan peralatan masak. Walaupun penyerapan aluminium dari usus relatif rendah, paparan yang terus-menerus dapat menyebabkan penumpukan logam ini di dalam tubuh, terutama di otak dan ginjal. Paparan aluminium dalam jangka panjang diketahui dapat berdampak pada sistem saraf, termasuk menurunnya kemampuan kognitif, memori, dan koordinasi gerak. Beberapa studi juga menemukan kadar aluminium yang tinggi di otak penderita Alzheimer, meskipun hubungan kausalitasnya masih dalam penelitian. Selain itu, aluminium bersifat bioakumulatif, sehingga paparan kronis dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan secara umum, meskipun bukti langsung yang mengaitkannya dengan kanker masih terbatas. Oleh karena itu, penting untuk mengendalikan paparan aluminium dari berbagai sumber sehari-hari, misalnya dengan memilih peralatan masak yang lebih aman dan membatasi konsumsi makanan yang mengandung kadar aluminium tinggi, guna mengurangi risiko efek kesehatan jangka panjang (Katrin dkk., 2017).

Solusi & Rekomendasi Keamanan Pangan

  • Pilih peralatan masak yang aman

Gunakan stainless steel, kaca, atau tanah liat.

Hindari panci aluminium berkualitas rendah atau peralatan yang sudah aus.

  • Perhatikan cara memasak

Hindari memasak makanan asam atau tinggi garam dalam peralatan aluminium.

Jangan memasak terlalu lama atau pada suhu sangat tinggi.

  • Perhatikan sumber makanan

Cuci sayuran, umbi-umbian, dan seafood dengan bersih.

Pilih makanan dari sumber terpercaya dan simpan dengan benar.

  • Variasikan jenis makanan

Jangan terlalu mengandalkan satu jenis makanan agar asupan aluminium tidak menumpuk.

  • Pantau konsumsi makanan olahan

Batasi penggunaan bahan pengemas atau makanan siap saji yang mungkin mengandung aluminium.

Referensi

S. A. A. Sultan, F. A. Khan, A. Wahab, B. Fatima, H. Khalid, A. Bahader, S. Z. Safi, C. Selvaraj, A. Ali, S. Y. Alomar, dan M. Imran, “Assessing Leaching of Potentially Hazardous Elements from Cookware during Cooking: A Serious Public Health Concern,” Toxics, vol. 11, no. 7, p. 640, Jul. 2023, doi: 10.3390/toxics11070640.

K. Klotz, W. Weistenhöfer, F. Neff, A. Hartwig, C. van Thriel, dan H. Drexler, “The Health Effects of Aluminum Exposure,” Dtsch Arztebl Int., vol. 114, no. 39, pp. 653–659, Sep. 2017, doi: 10.3238/arztebl.2017.0653.

H. R. Ammar, S. M. Saleh, S. Sivasankaran, A. E. A. E. Albadri, dan F. A. Al‑Mufadi, “Investigation of element migration from aluminum cooking pots using ICP‑MS,” Applied Sciences, vol. 13, no. 24, p. 13119, Des. 2023, doi: 10.3390/app132413119.

Hanan A. M. Ali, “Aluminum Leaching during Food Preparation and Storage,” Journal of Food and Dairy Sciences, 2023, doi: 10.21608/jfds.2023.199787.1101.

D. R. Gutiérrez, “Aluminium Exposure Through the Diet,” Food Science and Nutrition, vol. 5, no. 2, pp. 101–109, 2017. doi: 10.24966/FSN-1076/100020.