Konten dari Pengguna

Berwisata ke Benteng Kuto Besak: Kenyamanan yang Dipertaruhkan

Atika Oktarina
seorang praktisi pariwisata dibidang kuliner dan pengembangan Pariwisata. saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Politeknik Sahid Jakarta, prodi Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.
24 Agustus 2025 0:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Berwisata ke Benteng Kuto Besak: Kenyamanan yang Dipertaruhkan
Benteng Kuto Besak, ikon Palembang, kerap dikeluhkan wisatawan karena pengamen, parkir liar, dan keamanan minim. Tata kelola perlu diperbaiki agar kenyamanan wisata tetap terjaga.
Atika Oktarina
Tulisan dari Atika Oktarina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Oleh: Atika Oktarina, Suci Sandi W, Kadek Wiweka
Benteng Kuto Besar (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Benteng Kuto Besar (Dokumentasi Pribadi)
Benteng Kuto Besak (BKB) kerap dipromosikan sebagai ikon wisata Palembang yang megah dan indah di tepi Sungai Musi. Namun, di balik gemerlapnya acara dan promosi besar-besaran, muncul pertanyaan penting: mengapa wisatawan justru merasa risih ketika berkunjung?
ADVERTISEMENT
Fasilitas Ada, tetapi Keamanan dan Kenyamanan Terabaikan
Benteng Kuto Besak (BKB) telah lama menjadi ikon wisata Kota Palembang. Letaknya yang strategis di tepian Sungai Musi, berdampingan dengan Jembatan Ampera, menjadikan kawasan ini favorit wisatawan. Namun, pesona sejarah dan keindahan BKB tidak sebanding dengan kenyamanan dan keamanan yang dirasakan wisatawan.
Sebagai pendamping wisatawan dari luar kota, penulis beberapa kali menerima keluhan langsung dari para tamu. Beberapa hal yang kerap dikeluhkan antara lain:
• Pengamen jalanan yang datang silih berganti, bahkan memaksa saat permintaan mereka ditolak.
• Parkir resmi yang tidak menjamin kenyamanan, karena saat keluar wisatawan kembali diminta membayar oleh petugas tidak resmi yang muncul tiba-tiba.
• Area parkir yang tidak tertata, membuat wisatawan berebut ruang dengan pedagang kaki lima (PKL) yang menjamur di area yang sama.
ADVERTISEMENT
• Petugas keamanan yang kurang sigap, terutama dari Satpol PP pariwisata, yang hanya berpatroli tanpa penindakan saat ada gangguan nyata.
Masalah-masalah ini mungkin terdengar sepele. Namun, jika dibiarkan terus-menerus, hal ini dapat berdampak besar pada citra pariwisata kota.
Keresahan ini juga tercermin dalam data. Berdasarkan Google Review per Juli 2025, dari total 15.615 ulasan tentang BKB, sebanyak 198 ulasan secara eksplisit mengeluhkan gangguan dari pengamen. Seperti yang diulas oleh Ari Sandi:
“Pemandangan yang cantik... destinasi wisata beragam, dari wisata sejarah, benteng, Jembatan Ampera, suasana Sungai Musi, sampai wisata Pulau Kemaro... bagus. Satu hal yang agak risih, banyak pengamen terkesan memaksa meminta...”
Atau seperti yang ditulis Fitrah Hidayat:
“Banyak pengamen yang memaksa meminta uang. Belum selesai berfoto, sudah didatangi, bahkan tidak menunggu kami selesai lebih dulu. Hal serupa juga dilakukan oleh pedagang pempek keliling. Saat sedang bergaya untuk berfoto, mereka masuk ke dalam frame foto kami, sangat mengganggu. Secara keseluruhan, pemandangan indah. Parkir hanya Rp5.000. Kekurangannya hanya pengamen dan pedagang keliling yang tidak tahu tata krama, sehingga mencoreng citra Palembang.”
ADVERTISEMENT
Jumlah keluhan tersebut cukup signifikan, mengingat umumnya pengunjung hanya menulis ulasan apabila mereka benar-benar terganggu atau sangat puas.
Masih hangat dalam ingatan publik, kejadian viral yang menimpa kreator konten Willie Salim pada Maret 2025. Ia kehilangan 200-kilogram rendang saat menggelar acara masak besar di kawasan BKB. Kasus terbaru adalah pemalakan parkir liar yang dialami YouTuber Om Mobi. Dua kasus viral ini memperkuat stigma bahwa BKB bukan tempat yang aman bagi kegiatan besar. Bahkan untuk sekadar berwisata santai pun, kini banyak wisatawan berpikir dua kali.
Ironisnya, Pemerintah Kota Palembang sebenarnya sudah melakukan banyak hal untuk mempromosikan BKB, mulai dari festival kuliner, pameran UMKM, hingga promosi digital yang masif. Namun, aspek keamanan dan kenyamanan seolah dikesampingkan.
ADVERTISEMENT
Bukan Sekadar Promosi, Tetapi Tata Kelola
Pariwisata bukan hanya soal branding. Tanpa pengelolaan lapangan yang profesional dan pengawasan yang kuat, promosi justru dapat menjadi bumerang. Wisatawan yang kecewa akan lebih vokal dibandingkan yang puas. Apalagi di era media sosial, satu video viral bisa merusak reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan antara lain:
• Penataan ulang sistem parkir, dengan sistem pembayaran digital dan pengawasan resmi.
• Tindakan tegas terhadap pengamen dan petugas liar, bukan hanya sekadar diusir.
• Zonasi khusus PKL agar tidak mengganggu sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki.
• Pemasangan CCTV dan sistem pengaduan berbasis digital yang mudah diakses pengunjung.
• Pelibatan komunitas lokal sebagai mitra pengawas (tourism watchdog) agar pengawasan lebih partisipatif.
ADVERTISEMENT
Dengan langkah-langkah di atas, BKB dapat menjadi destinasi yang tidak hanya cantik dilihat di brosur, tetapi juga nyaman dan aman saat dikunjungi langsung.
Bukan berarti kita menutup mata terhadap kemajuan yang sudah ada. Namun, menjaga momentum itu agar tidak runtuh karena persoalan mendasar adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat lokal, pelaku wisata, hingga komunitas kreatif harus duduk bersama, berdiskusi, dan bertindak. Karena sejatinya, pariwisata bukan hanya soal tempat, tetapi juga soal rasa: rasa aman, nyaman, dan dihargai.