Konten dari Pengguna

Menghidupkan Dapur Sriwijaya: Wisata Kuliner Sambil Belajar Masakan Zaman Dahulu

Atika Oktarina

Atika Oktarina

seorang praktisi pariwisata dibidang kuliner dan pengembangan Pariwisata. saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Politeknik Sahid Jakarta, prodi Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atika Oktarina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

di Palembang

Oleh: Atika Oktarina

(Mahasiswa S2 Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata, Politeknik Sahid Jakarta)

Kue Gandus (Dokumentasi Pribadi)

Pariwisata global kini sedang bergerak menuju arah yang lebih bermakna. Wisatawan tidak lagi hanya mencari hiburan atau pemandangan indah, tetapi juga pengalaman autentik yang memberi pengetahuan, nilai budaya, dan emosi baru. Salah satu bentuk pariwisata yang paling cepat berkembang adalah wisata kuliner berbasis pengalaman (experiential culinary tourism) sebuah tren yang memadukan kenikmatan rasa dengan pembelajaran budaya lokal.

Dalam konteks ini, makanan bukan sekadar produk konsumsi, melainkan cerita hidup suatu masyarakat. Melalui kuliner, seseorang dapat memahami sejarah perdagangan, sistem nilai, bahkan cara hidup masyarakat di masa lalu. Menurut World Food Travel Association (2024), lebih dari 80% wisatawan dunia kini memasukkan aktivitas kuliner ke dalam perjalanan mereka, dan sekitar 60% tertarik mengikuti kelas memasak tradisional sebagai bagian dari pengalaman wisata mereka. Angka ini menunjukkan bahwa kuliner telah menjadi pintu masuk penting untuk mengenalkan identitas suatu daerah kepada dunia.

Indonesia, dengan ribuan etnis dan warisan kulinernya, memiliki peluang besar untuk mengembangkan wisata kuliner berbasis edukasi. Salah satu daerah yang menonjol dalam potensi ini adalah Palembang, Sumatera Selatan, kota yang dikenal sebagai “Dapur Sriwijaya”. Palembang tidak hanya memiliki kekayaan cita rasa dari hasil pertemuan berbagai budaya, tetapi juga menyimpan cerita sejarah panjang tentang perdagangan rempah, sungai, dan peradaban maritim.

Lebih jauh, kuliner Palembang seperti pempek, pindang patin.

Pempek Pistel ( Dokumentasi Pribadi)

Tekwan, celimpungan, dan kue maksuba tidak hanya merepresentasikan kelezatan, tetapi juga narasi budaya dan kearifan lokal. Sayangnya, sebagian besar tradisi memasak ini belum banyak diangkat dalam bentuk wisata edukatif. Padahal, jika dikelola dengan baik, wisata kuliner sambil belajar dapat menjadi sarana untuk melestarikan warisan kuliner, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan membangun citra daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui pendekatan community-based tourism (CBT) dan strategi digital yang tepat, Palembang memiliki peluang besar untuk menjadi ikon wisata kuliner edukatif di Indonesia, tempat di mana wisatawan tidak hanya mencicipi pempek, tetapi juga memahami sejarah, proses pembuatan, dan filosofi di baliknya.

Dari Menikmati ke Mengalami: Pergeseran Tren Wisata Dunia

Wisata kuliner di era modern bukan lagi sekadar urusan lidah. Mencicipi makanan lokal kini berkembang menjadi pengalaman budaya yang mendalam, dimana wisatawan ingin ikut memasak, memahami cerita, dan merasakan kehidupan masyarakat local. Laporan World Food Travel Association (2024) menunjukkan bahwa 81% wisatawan global menganggap kegiatan kuliner sebagai bagian penting dari perjalanan mereka bahkan lebih dari separuhnya tertarik untuk ikut kelas memasak tradisional di destinasi wisata.

Fenomena ini disebut experiential culinary tourism, di mana rasa, cerita, dan keterampilan berpadu menjadi satu. Contohnya, wisatawan di Thailand belajar memasak Pad Thai di ladang organik, atau turis di Italia membuat pasta buatan tangan di rumah-rumah tua Toscana. Kini, tren serupa mulai melanda Indonesia dan Palembang menjadi salah satu kota yang paling potensial untuk mengembangkan wisata kuliner berbasis pengalaman ini.

Palembang: Dapur Sungai Musi dan Warisan Rasa Sriwijaya

Bagi masyarakat Sumatera Selatan, makanan bukan hanya kebutuhan, melainkan warisan budaya yang hidup. Palembang, yang dahulu menjadi pusat kejayaan Kerajaan Sriwijaya, mewarisi identitas kuliner yang unik dari pertemuan berbagai etnis: Melayu, Tionghoa, dan Arab. Dari pempek yang berbahan dasar ikan sungai hingga kue maksuba yang menjadi simbol kehangatan keluarga, setiap resep tradisional menyimpan cerita tentang perdagangan, ekologi sungai, dan filosofi hidup orang Palembang.

Konsep wisata kuliner sambil belajar di Palembang sangat potensial dikembangkan. Wisatawan dapat diajak tur pagi ke pasar 26 Ilir untuk memilih ikan segar,

kemudian belajar membuat pempek di dapur rumah panggung kawasan 13 Ulu, diakhiri makan siang bersama sambil mendengarkan kisah sejarah Sungai Musi. Selain pempek, kuliner lain seperti pindang patin, tekwan, celimpungan, dan burgo dapat dijadikan materi kelas memasak tematik.

Mengemas Tradisi Jadi Pengalaman Modern

Untuk bersaing di pasar pariwisata global, Palembang perlu menampilkan kulinernya dengan kemasan yang modern namun tetap autentik. Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:

- Kelas memasak interaktif: wisatawan belajar memasak pempek atau pindang di dapur tradisional bersama juru masak lokal.

- Festival kuliner tematik seperti Pindang Week atau Sriwijaya Culinary Festival.

- Digital storytelling melalui vlog, video pendek, dan konten Instagram bertema kuliner lokal.

- Pelibatan komunitas lokal sebagai pengajar dan pengelola wisata kuliner.

Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat

Tantangan: Dari Dokumentasi Resep hingga Branding Digital

Masih banyak resep kuliner Palembang yang belum terdokumentasi secara ilmiah dan diwariskan secara lisan. Promosi wisata kuliner juga masih terbatas pada foto makanan tanpa menampilkan cerita dan proses pembuatannya. Langkah yang diperlukan antara lain:

• Pelatihan food storytelling bagi pemandu wisata dan pelaku UMKM.

• Sertifikasi juru masak tradisional agar kualitas dan kebersihan tetap terjaga.

• Kolaborasi antara kampus pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta komunitas local.

• Pembuatan kanal digital resmi seperti @kulinerpalembang.official untuk promosi berkelanjutan.

Dengan strategi yang konsisten, Palembang akan memiliki brand kuliner yang kuat tidak hanya “kota pempek”, tetapi “kota belajar rasa dan budaya”.

Belajar Rasa, Belajar Budaya

Menghidupkan wisata kuliner sambil belajar berarti menghidupkan memori dan identitas lokal. Setiap irisan pempek dan setiap kuah pindang menyimpan jejak sejarah perdagangan ikan, kearifan ekologis, dan nilai kebersamaan orang Palembang.

Dengan sentuhan inovasi dan kolaborasi, Palembang dapat menjadi laboratorium kuliner Sriwijaya tempat wisatawan dunia datang untuk makan, belajar, dan memahami budaya Indonesia dari dapurnya sendiri.