Merayakan Keberagaman Sebagai Upaya Mengikis Intoleransi

Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Atika Putri Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia bagaikan permadani raksasa yang ditenun dengan benang-benang budaya yang beragam. Lebih dari 300 suku bangsa, dengan bahasa dan tradisi uniknya masing-masing, mewarnai nusantara dengan keindahan yang tiada tara. Keragaman agama dan kepercayaan pun menjadi bukti kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Keberagaman yang ada seharusnya menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia, tetapi pada saat yang sama bisa menjadi tantangan tersendiri. Perbedaan yang ada dapat menjadi sumber perpecahan jika tidak dikelola dengan baik. Sejarah mencatat, keragaman yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu intoleransi dan prasangka. Api perpecahan ini dapat membakar persatuan dan merenggut kedamaian.
Dalam meniti jalan persatuan, diperlukan komitmen dan usaha bersama. Kita harus menyambut keragaman dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Saling menghargai dan menghormati perbedaan adalah kunci untuk menghindari konflik dan membangun bangsa yang kuat. Keberagaman yang dimiliki Indonesia bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan.
Keragaman budaya, suku, bahasa, dan agama yang dimiliki bangsa Indonesia bukan sekadar keindahan, melainkan kekayaan tak ternilai yang memperkaya identitas nasional dan mengantarkan bangsa ini menuju kemajuan. Kekayaan ini tak hanya mewarnai nusantara, tetapi juga menjadi modal berharga untuk menorehkan prestasi di kancah internasional.
Keragaman bangsa Indonesia yang telah berkiprah di tingkat internasional dapat dilihat dari pengesahan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Milik Dunia yang diakui UNESCO pada 24 November 2011. Keindahan gerakannya, sarat makna, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya telah memukau dunia.
Ada pula Rendang yang menduduki peringkat pertama sebagai makanan terlezat di dunia menurut CNN pada tahun 2011 dan 2017. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia karena keragaman yang dimiliki dapat memberikan pengaruh positif dalam memperkaya identitas nasional serta dapat menjadi ikon budaya Indonesia di mata dunia.
Namun, dibalik keragaman yang telah menorehkan prestasi, terdapat ancaman yang dapat merongrong persatuan dan kesatuan bangsa, yaitu sikap intoleransi. Sikap intoleran, eksklusif, dan menolak perbedaan dapat menjadi bibit perpecahan di tengah kemajemukan masyarakat kita.
Sikap intoleran kerap kali berawal dari sikap truth claim, yaitu merasa bahwa hanya pandangan dan keyakinannya sendiri yang paling benar. Hal ini membuat seseorang menjadi menutup diri dan menolak untuk menerima perbedaan.
Kerusuhan Sampit pada tahun 2001 di Kalimantan Tengah menjadi kasus nyata intoleransi yang pernah terjadi di Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi karena dipicu oleh gesekan antara suku Dayak dan suku Madura. Insiden ini mengakibatkan ribuan orang mengungsi dan puluhan tewas.
Ada pula kasus Pembakaran Vihara di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau pada tahun 2016. Vihara Buddha tersebut diserang dan dibakar oleh sekelompok orang akibat adanya isu penistaan dan provokasi. Insiden ini menimbulkan kerusakan parah dan rasa trauma bagi umat Buddha.
Dampak intoleransi terhadap persatuan tentu sangat merugikan. Perpecahan dapat mengikis rasa kebangsaan dan menghambat kemajuan. Energi akan terbuang sia-sia untuk mengatasi konflik alih-alih digunakan untuk membangun negeri.
Lebih dari itu, sikap intoleran juga berpotensi merusak citra Indonesia di mata dunia. Negara dengan tingkat toleransi rendah dapat dianggap kurang aman dan kurang bersahabat bagi pihak luar, baik untuk investasi ekonomi maupun kunjungan wisatawan.
Di tengah gemerlap keragaman budaya, suku, bahasa, dan agama yang dimiliki bangsa Indonesia, terdapat satu kunci utama untuk mencapai kemajuan dan persatuan, yaitu sikap terbuka, saling menghargai, dan menerima perbedaan. Dengan saling memahami satu sama lain, kita dapat memperkaya diri dan menumbuhkan rasa persaudaraan yang sejati.
Dalam hal ini, pendidikan multikultural menjadi penting untuk diterapkan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan memahami berbagai budaya sejak dini melalui pendidikan formal dan informal. Selain itu, dialog antar kelompok juga penting untuk meningkatkan komunikasi antarumat beragama, suku, dan budaya untuk membangun rasa saling pengertian dan menjembatani perbedaan.
Sudah saatnya kita merangkul perbedaan dengan lapang dada. Bukan hanya menerima keragaman di permukaan, tetapi benar-benar menghargai dan menghormati setiap budaya, suku, bahkan keyakinan yang berbeda dari kita. Inilah jalan untuk memperkuat persatuan Indonesia yang kita cintai.
Indonesia harus menjadi teladan bagi dunia bahwa kemajemukan bukan penghalang, melainkan menjadi sumber kekuatan bagi sebuah bangsa untuk berjaya. Dengan menjunjung tinggi semangat keberagaman, masa depan Indonesia akan semakin cerah gemilang.
