Bukan Cuma Negara, Yayasan Juga Bisa Jadi Aktor Diplomasi!

Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Udayana
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Putu Atira Maya Ramindra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gastrodiplomasi Indonesia melalui Ubud Food Festival yang Diselenggarakan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati
Ketika mendengar istilah aktor diplomasi, apakah yang langsung terlintas di benak Anda adalah negara dan diplomat? Jika iya, Anda harus membaca artikel ini.
Bayangkan jika aktor-aktor diplomasi bukan hanya terbatas pada negara, tetapi juga mencakup yayasan-yayasan yang ada di sekitar kita. Dalam dunia yang semakin terhubung, batas-batas tradisional diplomasi mulai memudar, dan aktor baru pun muncul, termasuk organisasi non-pemerintah. Salah satu contohnya adalah Yayasan Mudra Swari Saraswati yang menjadi penyelenggara Ubud Food Festival. Melalui perhelatan tersebut, yayasan ini membuktikan bahwa diplomasi kuliner (gastrodiplomasi) tidak hanya dimainkan oleh negara. Mari kita jelajahi tulisan ini untuk memahami peran penting yang dimainkan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati dalam gastrodiplomasi Indonesia!
Gastrodiplomasi sebagai Diplomasi Modern Indonesia
Diplomasi tradisional sering kali dianggap sebagai kegiatan yang tertutup, rahasia, kaku, dan formal, dengan negara sebagai pusat kegiatan utama (Subagyo, 2019). Namun, seiring berkembangnya zaman, entitas lain selain negara mulai muncul dan turut berperan dalam praktik diplomasi yang kemudian dikenal sebagai diplomasi modern.
Dalam diplomasi modern, aktor-aktor non-negara sering menjadi protagonis, terutama dalam konteks low issues, seperti HAM, ekonomi, lingkungan, dan budaya. Salah satu bentuk diplomasi modern yang semakin menonjol adalah gastrodiplomasi. Gastrodiplomasi sendiri didefinisikan sebagai bentuk diplomasi budaya yang menggunakan kekayaan kuliner untuk kepentingan nasional dalam praktik diplomasi publik (Ghafiqi, 2023). Signifikansinya sangat besar karena makanan memiliki daya tarik yang universal dan dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat di berbagai negara (Dewi dan Priadarsini, 2018).
Sebagai pemilik kekayaan kuliner yang melimpah dan beragam, gastrodiplomasi menjadi sangat penting bagi Indonesia. Dengan mempromosikan makanan tradisional dan menggelar festival kuliner, Indonesia dapat memperkenalkan keunikan dan keberagaman kuliner, serta budayanya kepada dunia. Selain itu, hal ini juga memperkuat citra positif Indonesia di tingkat global dan memperluas jaringan kerja sama internasional di sektor kuliner dan pariwisata. Oleh karena itu, penyelenggaraan Ubud Food Festival oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati merupakan implementasi dari konsep tersebut.
Ubud Food Festival: Panggung Gastrodiplomasi Indonesia
Sejak 2015, Ubud Food Festival (UFF) secara konsisten menjadi panggung tahunan bagi gastrodiplomasi Indonesia. Acara yang diadakan di Ubud, Bali ini memiliki serangkaian kegiatan, mulai dari pameran makanan (food stalls), demo masak (cooking demos) hingga diskusi panel (food talks) guna memperkenalkan pengunjung pada ragam cita rasa Indonesia yang autentik dan beragam. Para peserta dan pengunjung dari berbagai belahan dunia yang hadir juga dapat mengeksplorasi keanekaragaman kuliner Indonesia dan berinteraksi dengan para chef, produsen makanan, dan ahli kuliner. Melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan, Ubud Food Festival menciptakan kesempatan untuk memperluas jaringan kerja sama internasional di bidang kuliner dan pariwisata.
Dengan tema "Take it to the Street", Ubud Food Festival kembali hadir tahun ini untuk ketujuh kalinya. Dwi Ermayanthi, selaku festival manager UFF, mengatakan bahwa salah satu tujuan utama acara ini adalah untuk memfasilitasi pertukaran pengalaman dan pengetahuan antara ahli kuliner internasional dan Indonesia. Interaksi ini diharapkan menjadi bentuk soft diplomacy yang dapat memengaruhi persepsi dan hubungan antara negara-negara yang terlibat. Secara keseluruhan, UFF bukan hanya menjadi acara kuliner biasa, tetapi juga merupakan panggung penting untuk mempromosikan kekayaan budaya dan kuliner Indonesia kepada dunia, serta memperkuat hubungan antarnegara, melalui gastronomi sebagai alat diplomasi.
Peran Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai Aktor Gastrodiplomasi Indonesia
Sebagai pencetus dan penyelenggara Ubud Food Festival, tentu Yayasan Mudra Swari Saraswati memainkan peran penting sebagai aktor gastrodiplomasi di Indonesia. Didirikan pada tahun 2004 oleh Janet DeNeefe dan Ketut Suardana, yayasan ini bertujuan untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Yayasan Mudra Swari Saraswati dibentuk sebagai upaya pemulihan setelah tragedi bom Bali, dengan fokus pada memperkuat dan memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. Melalui program yang dijalankan, organisasi non-pemerintah ini telah mengambil peran sebagai aktor non-negara dalam praktik second track diplomacy, yaitu terlibat dalam upaya-upaya diplomasi yang dilakukan oleh elemen-elemen non-pemerintah secara tidak resmi (Diamond dan McDonald dalam Dewi dan Priadarsini, 2018).
Yayasan Mudra Swari Saraswati menjalankan inisiatif gastrodiplomasi yang tidak hanya memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia, tetapi juga mendukung komunitas lokal dan memperkuat citra positif Indonesia di mata dunia. Dengan demikian, yayasan ini menunjukan bahwa bukan hanya negara yang bisa menjadi aktor diplomasi. Yayasan Mudra Swari Saraswati memainkan peran kunci dalam upaya diplomasi budaya dan membantu memperluas jaringan kerja sama internasional di bidang kuliner dan pariwisata. Melalui Ubud Food Festival, yayasan yang ada di Ubud ini membuktikan bahwa organisasi nirlaba non-pemerintah juga dapat menjadi pemain penting dalam diplomasi modern, dengan memanfaatkan soft diplomacy dan kuliner untuk membangun citra positif, serta memperkuat hubungan antarbangsa.
