Food & Travel
·
13 September 2021 19:26

Merayakan Perkawanan Bukan Perkawinan

Konten ini diproduksi oleh Ato Kau
Merayakan Perkawanan Bukan Perkawinan (98373)
searchPerbesar
Kota Luwuk. Foto: Ato Kau
Sore di pelabuhan Kota Gorontalo.
Hari ini tanggal 8 November 2019. Aku dan ketiga temanku: Irvan, Gusti, dan Ayu akan berlayar menuju Kota Luwuk, menikmati liburan di penghujung tahun. Awalnya, aku punya rencana berlibur ke Banda Neira, tapi ada sesuatu yang mengubah semuanya.
ADVERTISEMENT
Aku melirik jam di tangan, perasaanku kesal karena hampir dua jam berlalu, Irvan dan Ayu tak kunjung datang. Gusti tampak santai saja menikmati kertas gulung berisi tembakau, yang tercantol di mulutnya.
Setelah azan Isya berkumandang dari musala pelabuhan, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seberes mengatur barang, kami duduk di bangku besi berongga saling berhadapan, menunggu klakson kapal memantul di lautan pertanda mau berangkat.
Di Kota Luwuk, aku punya teman, namanya Nia. Kami berteman cukup lama. Perkenalan kami berawal dari sebuah komunitas pariwisata. Waktu itu, Nia masih kuliah di Gorontalo. Kami seumuran, seangkatan pula, hanya beda kampus. Nia kuliah di universitas negeri, aku di universitas swasta.
Letak kampus kami berjauhan, seperti pertemanan kami di awal; terasa jauh, tidak akrab, dan kaku. Namun, diam-diam aku suka memerhatikannya di Facebook. Setiap postingannya pasti aku komentari, kadang sebaliknya. Ternyata, Nia asyik diajak bercanda.
ADVERTISEMENT
Suatu hari, dia memampang nomor teleponnya di beranda Facebook. Dituliskan sebuah kalimat, “Mari berteman”. Aku langsung mengiriminya pesan.
“Ada sambal Roa?”
“Oh, ini pasti si tukang komen status saya. Iya, kan?” jawab Nia. “Ke Luwuk kalau mau!”
“Spesial buat saya, e?” jawabku.
Sejak itu, kami lebih leluasa bertukar cerita tanpa bayang-bayang netizen. Lebih dalam lagi mengenal satu sama lain. Nia suka bercerita tentang hari-harinya menjadi seorang guru. Mengajar puluhan siswa kelas satu sampai kelas tiga, yang bandelnya minta ampun. Mau marah tidak bisa, mau keluar sudah tanggung jawab.
Kami juga pernah membahas soal perempuan. Aku bilang ke dia, kalau perempuan itu makhluk paling irit mengungkapkan, tapi paling boros menggambarkan. Atau dengan kata lain, perempuan itu paling suka main kode.
ADVERTISEMENT
"Saya juga begitu," kata Nia, sepakat.
"Kalau begitu, kirimkan saya satu kode."
"Kode apa?" tanya dia.
"Kode kalau aku dan kamu bisa menjelma jadi kita."
"Kenapa harus pakai kode segala kalau sudah tau jawabannya?"
Tanpa disadari, perbincangan hangat seputar hal-hal ringan sampai perihal pernikahan, memunculkan perasaan tidak biasa.
Satu waktu, Nia pernah memosting foto pernikahan temannya. Seperti biasa, jariku dengan cepat menulis komentar.
“Kapan kita menyusul?”
“Mestinya perempuan yang tanya begitu ke laki-laki!” jawab Nia.
“Saya serius!”
Topik seperti ini sudah biasa kami bahas. Semula Nia selalu menanggapinya bercanda. Namun, kali ini dia juga serius.
“Waktu saya di Gorontalo, kita jarang sekali ketemu. Bicara apalagi? Kenapa sekarang bahasnya yang begini?”
ADVERTISEMENT
“Entah?” jawabku singkat.
“Dari dulu saya pikir kamu hanya main-main. Karena saya tahu, kamu itu orangnya humoris.”
“Orang humoris juga punya hak memilih siapa perempuan yang dicintai,” kataku.
“… kalau begitu, langsung ketemu ibu saja!”
“Kalau anaknya menolak, bagaimana?” Aku sedikit mengulur cerita yang semestinya sudah aku setujui.
“Tenang! Kalau orang tuanya oke, pasti anaknya juga!”
Kapal semakin jauh meninggalkan dermaga. Aku menepi ke sisi kiri kapal. Cahaya bulan mengawasiku dari atas. Di samping, ada seorang perempuan sibuk mengatur tempat duduk. Dia melempar senyum ramah kepadaku dan bertanya, "Ke Luwuk juga?"
"Iya!" jawabku, pelan.
"Luwuk memang pantas jadi tujuan jalan-jalan. Apalagi kalau sama pasangan!" kata dia.
Aku mengangkat bahu, lalu menjawab, "Ya, kalau ada pasangan!”
ADVERTISEMENT
"Pasangan? Kayaknya masih di angan-angan!” kata dia sambil membalik arah tubuhnya kepadaku. Kami terbahak-bahak menepis keheningan di tengah lautan.
Perkara "pasangan" membawa obrolan berlanjut ke sesi curhat. Perempuan itu bercerita kalau dia baru saja putus cinta. Dia ditinggal kekasihnya setelah bertahun-tahun pacaran. Padahal, mereka sudah punya rencana ke pelaminan. Tapi, entah apa alasannya, si laki-laki tiba-tiba menghilang, lalu muncul lagi dengan sepucuk undangan pernikahan.
Kabar itu bagaikan palu godam menghantam keras kepalanya. Merontokkan semua ingatan, kenangan, dan impian yang sudah lama dia rawat.
“Kecewa selalu saja menang atas usaha untuk tampil seceria mungkin. Aku baru tau, jika kalimat ‘jatuh cinta’ itu, terbagi dua kata: jatuh dan cinta. Apa harus jatuh dulu baru bisa mendapatkan sebenar-benarnya cinta?”
ADVERTISEMENT
“Terus, tujuan kamu ke Luwuk apa? Mencari jati diri atau melarikan diri?”
“Mungkin jalan-jalan adalah cara menemukan lagi bahagia.”
"Lucu juga, ya? Patah hati bisa membawa perempuan berjalan sejauh ini, sendirian lagi!" kataku, menatap ke langit.
"Daripada depresi?" Sekali lagi kami tertawa seperti orang sudah akrab sebelumnya. "Aku istirahat dulu. Sampai ketemu di Luwuk, ya? Aku Dila!" Disodorkannya secarik kertas bertuliskan nomor telepon.
Kapal akhirnya bersandar di dermaga Pelabuhan Pagimana. Buru-buru kuambil ponsel dari dalam ransel. Sejenak, mataku terpaku pada penggalan pesan yang membawaku ke Kota Luwuk. Kugenggam relling kapal kuat-kuat sambil menghirup udara pagi dalam-dalam, dan berujar pada langit: “Tenang, ada bahagia untukmu kali ini.”
Dari Pagimana ke Kota Luwuk membutuhkan waktu sekitar dua jam. Kami menempuhnya pakai motor. Untuk urusan menginap nanti, kami rencana mau menumpang di rumahnya Lutfi, kawan Irvan yang dulu pernah kuliah di Gorontalo.
ADVERTISEMENT
Kami tiba di rumahnya Lutfi bersamaan dengan hujan yang mengguyur deras. Sementara Lutfi sudah menunggu di teras. Dia kemudian membawa kami ke kamar depan tempat kami beristirahat untuk beberapa hari ke depan. Di kamar itu terdapat satu ranjang berukuran agak besar. Tapi mana mungkin kami berempat tidur disitu.
“Pokoknya, Ayu sendiri di atas, titik!” kata Ayu.
Beres mengatur barang di kamar, kami duduk di beranda belakang rumahnya yang langsung mengarah ke laut. Lutfi memberitahu bahwa tidak jauh dari rumahnya, ada dua air terjun yaitu Air Terjun Laumarang dan Air terjun Piala. Kami pun sepakat akan mengunjunginya besok hari.
“Malam ini istirahat dulu. Besok jalan-jalannya kita mulai dari Laumarang dan Piala,” kata Lutfi.
ADVERTISEMENT
Beberapa saat kemudian, aku melihat pesan Nia terpampang di layar ponsel. Dia mengajak kami makan malam di rumahnya.
Hujan tiba pada ujungnya ketika malam datang. Lutfi menuntun kami berkendara menuju lokasi makan malam. Nia menyambut kami di pintu rumah. Dia mengenakan setelan gamis dan jilbab panjang berwarna gelap, sangat kontras dengan senyumnya yang terpancancar utuh dari wajahnya.
Pertemuan ini semacam reuni kecil anggota komunitas pariwisata. Terkhusus untuk aku dan Nia. Aku menatapnya baik-baik. Ternyata, orangku yang humoris, seperti kata Nia, hanya berlaku di dunia maya saja. Di hadapannya, aku tak ubahnya boneka yang disiram air; diam tanpa kata dilanda rasa gugup.
Aku mengajak Nia melanjutkan reuni kecil ini di bukit Kasih Sayang. Kebetulan, lokasi bukit Kasih Sayang tidak jauh di belakang rumahnya. Namun dia menolak.
ADVERTISEMENT
“Atau kamu disini dulu dengan Nia,” kata Irvan.
Nia tertawa keras dan menjawab, “Ada kalian saja dia keringetan begini, apalagi ditinggal berdua?”
Ada dilema antara ingin tinggal untuk sebuah jawaban, atau pergi tanpa penyelesaian. Ke bukit Kasih Sayang! Itu pilihan yang kurasa tepat.
“Benar tidak mau ikut?” tanyaku pada Nia.
“Saya di rumah saja.”
“Terus rencana kita bagaimana?” tanyaku, lagi.
“Besok masih ada waktu!”
Di bukit Kasih Sayang, kelap kelip lampu kota berkolaborasi dengan cahaya lampu di panggung berbentuk cinta. Tanda tanya besar hadir di atas kepala terbawa udara dingin sehabis hujan: apa benar Nia alamat terakhir yang dituju? Dan apakah Luwuk menjadi tempat merayakan cinta?
Merayakan Perkawanan Bukan Perkawinan (98374)
searchPerbesar
Bukit Kasih Sayang. Foto: Ato Kau
***
Sebuah perbincangan terjadi di meja makan sebelum kami berangkat menyibak keindahan Air terjun Laumaran dan Air Terjun Piala. Ibunya Lutfi mengingatkan agar kami berhati-hati di sana. Kata ibunya, Air Terjun Piala bukan cuma indah, tapi sudah memakan korban.
ADVERTISEMENT
“Ingat! jangan loncat dari atas! Kemarin ada yang loncat, tapi tidak balik lagi!”
“Meninggal?” tanya Gusti penasaran.
“Iya. Tiga hari baru ditemukan!Pokoknya kalau mau mandi, mandi saja. Tidak ada acara loncat-loncat kayak di televisi!”
Kami mengangguk. “Siap, Bu. Laksanakan!”
Merayakan Perkawanan Bukan Perkawinan (98375)
searchPerbesar
Air Terjun Piala. Foto: Ato Kau
Air Terjun Laumarang dan Air Terjun Piala bisa dibilang keping surga Firdaus yang jatuh ke bumi. Masing-masing punya daya pikat tersendiri. Aku menyebut Laumarang si kembar yang menguras kekuatan kaki dan menguji kesabaran hati. Sedangkan Air Terjun Piala, aku menyebutnya mata air yang menghidupi ribuan pasang mata di kota.
Merayakan Perkawanan Bukan Perkawinan (98376)
searchPerbesar
Air Terjun Laumarang. Foto: Ato Kau
Puas menikmati keindahan kedua air terjun tersebut, kami lanjut menyibak keindahan alam di sudut-suduk Kota Luwuk lainnya. Kami ke air terjun Uwe Malino, Bukit Teletubies, Pantai Kilo Lima, ditutup dengan sayup-sayup lampu taman kota di RTH Teluk Lalong.
ADVERTISEMENT
Ada sih keinginan, Nia ikut seru-seruan dan bilang, “Menetaplah di Luwuk, masih banyak keindahan semesta yang ingin aku perkenalkan.”
Merayakan Perkawanan Bukan Perkawinan (98377)
searchPerbesar
Uwe Malino. Foto: Ato Kau
Dua hari dua malam kami habiskan di Kota Luwuk. Lutfi meminta agar kami bertahan beberapa hari lagi. Namun, begitulah, arah langkah tak mampu melewati batas waktu dan arah mata sudah waktunya menuju jalan pulang.
Ya, meskipun singkat, bagiku, Kota Luwuk adalah rumah yang ramah bagi pengunjung. Di kota ini, segala doa telah kupanjatkan ke pangkuan semesta, bahkan mengamininya kuat-kuat.
Sebelum ke Pelabuhan, Aku menulis pesan ke Nia berisi rencana yang belum tersampaikan. “Langsung ketemu ibu saja! Bagaimana dengan ini?”
Harus kuakui, Nia adalah satu dari sekian banyak sisi terindah Kota Luwuk. Keindahan yang tidak terbatas kata atau sebatas raga. Ada keberanian untukku menatap langit jernih sehabis awan gelap dan hujan lebat. Mungkin aku saja yang terlalu ingin, atau terlalu banyak angan. Tapi, bukankah mencintai itu keputusan?
ADVERTISEMENT
Setengah jam kemudian, Nia baru membalasnya. “Jujur, sudah ada laki-laki yang datang melamar ke rumah. Mau saya tolak, tapi ibu bilang jangan. Yang datang duluan, itu yang diterima. Maaf, ya?”
“Santai saja, ini bukan tentang siapa yang lebih dulu meminta. Atau siapa yang datang duluan menggenggam. Salam ya, sama ibu,” jawabku.
Jatuh cinta memang aneh. Daya magisnya mengubah si pemalu jadi tidak pemalu, atau sebaliknya. Mengubah si penakut jadi pemberani, juga sebaliknya. Yang bersahabat bisa sedekat urat nadi. Sudah sedekat urat nadi, tersekat, lalu saling pergi.
Setelah ini, mungkin aku bisa mengikuti jejak Dila. Ah, semoga dia baik-baik saja, dan semoga dia bisa hadir lagi di samping. Aku ingin balik bercerita tentang keindahan di sudut-sudut Kota Luwuk; kota yang memberiku pesan tidak mengenakkan, tapi melenakan. Kota yang memberiku kesan sulit dielakkan, tapi harus direlakan.
ADVERTISEMENT
Apapun itu, yang pasti, di kota ini aku datang merayakan perkawanan, bukan perkawinan.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white