Konten dari Pengguna

Ketika Ejekan Dianggap Biasa, Perundungan Pun Memakan Korban Jiwa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Atqa Ibnu Sina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perundungan (ilustrasi gambar ini menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perundungan (ilustrasi gambar ini menggunakan AI)

Pernah nggak kamu denger kalimat, "alah cuma bercanda, jangan baper"?

Aku yakin pernah. Entah kamu yang ngomong, yang dengerin, atau malah yang jadi korbannya. Kalimat sepele itu sering banget jadi tameng buat hal yang sebenarnya nyakitin, yaitu perundungan.

Dan akhir-akhir ini, ceritanya makin bikin nyesek.

Di akhir September 2026, ada anak SD di Pemalang, Jawa Tengah, meninggal. Namanya Muhamad Hasbi Al-Aqib, masih kelas 2 SD, umurnya baru 7 tahun. Dia meninggal tanggal 30 September 2026. Keluarganya menduga dia jadi korban kekerasan sama kakak kelasnya sendiri. Sekarang polisinya udah periksa anak-anak yang diduga terlibat. KPAI sama Kemendikdasmen juga udah nemuin keluarganya, dan tanggal 13 Oktober kemarin KPAI minta polisi ngembangin kasusnya. Jadi kasusnya masih jalan, semua yang disebut masih status terduga ya.

Yang bikin miris, ini bukan cuma di Pemalang. Setahun terakhir aja ada banyak banget. Ada anak SMP di Lumajang yang meninggal, ada siswa Sekolah Rakyat di Empat Lawang yang tangannya patah, ada anak MTs di Pati yang kehilangan dua ruas jarinya. Semua diduga karena dibully.

Kalau kamu kira ini kasus langka, angkanya ngomong lain. KPAI nyatet lebih dari 464 kasus kekerasan di sekolah yang belum selesai sepanjang 2025, ditambah 254 kasus baru sampai September 2026. Yang paling rentan itu anak SD dan SMP. Dari Januari sampai April 2026 aja, KPAI terima 426 pengaduan anak, dan yang paling banyak itu perundungan di sekolah. Itu baru yang berani lapor lho, aku yakin masih banyak yang diem aja.

Terus kenapa bisa kejadian? Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, bilang kasus di Pemalang ini nunjukin sekolah lalai. Fasilitasnya kurang, pengawasan guru belum ada prosedurnya. Bahkan masih ada guru yang nganggep ejekan itu cuma candaan. Dari pemerintah, Mendikdasmen Abdul Mu'ti juga bilang prihatin, dan pencegahan itu butuh peran semua, guru, keluarga, masyarakat, media.

Padahal aturannya udah ada.

Di UU Perlindungan Anak, UU Nomor 35 Tahun 2014, jelas di Pasal 54 anak di sekolah wajib dilindungi dari kekerasan, termasuk dari temannya sendiri. Pasal 76C juga ngelarang kekerasan ke anak, dan di Pasal 80 hukumannya makin berat kalau korban luka berat atau meninggal. Kalau pelakunya juga masih anak, ada UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, jadi pakai pendekatan khusus, ada diversi. Anak di bawah 12 tahun nggak dipidana, tapi dibalikin ke orang tua atau dibina. Terus pemerintah juga nguatin lewat Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Sekolah Aman dan Nyaman.

Kalau dikaitin sama Pancasila, jelas ini ngelukain Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Masa nyakitin dan ngerendahin orang dibilang beradab? Terus juga ngerusak Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, karena sekolah yang isinya rasa takut nggak mungkin bisa nyatuin. Dan Sila Kelima, Keadilan Sosial, karena setiap anak berhak belajar dengan tenang dan aman.

Jujur ya, yang bikin aku gelisah itu bukan cuma kasusnya, tapi betapa gampangnya kita nganggep ini biasa. Kamu pasti pernah lihat kan, ada temen dipanggil dengan julukan buruk. Semua ketawa, si korban ikut senyum, padahal matanya nggak. Kita bilangnya bercanda. Tapi kalau tiap hari, itu bukan bercanda lagi. Itu tekanan yang numpuk pelan-pelan.

Aku juga nggak setuju kalau salahnya ditimpain semua ke anak pelakunya. Mereka masih belajar jadi manusia, seringnya niru apa yang mereka liat di rumah, di HP, di sekitar. Mereka tetap harus dibina dan tanggung jawab, tapi orang dewasa di sekelilingnya juga harus ngaca. Soal pengawasan, aku sepakat sama KPAI, sekolah nggak boleh lepas tangan.

Dan buat kita yang udah dewasa, termasuk mahasiswa, coba deh direnungin. Diam pas liat perundungan itu sama aja ngasih ruang buat perundungannya jalan terus. Sila kedua itu bukan cuma hafalan buat mata kuliah Pendidikan Pancasila. Ukurannya simpel, pas ada orang diperlakukan nggak manusiawi di depan mata kita, berani nggak kita bela?

Jadi, perundungan itu bukan kenakalan biasa. Ini pelanggaran hak anak, dan jadi cermin kalau nilai kemanusiaan kita masih lemah.

Aturannya udah ada, tinggal dijalankan.

Yang bisa kita lakuin: pertama, sekolah harus punya prosedur pengawasan yang jelas, latih guru buat ngenalin bully lisan atau fisik, dan langsung tindak lanjuti laporan. Kedua, orang tua harus rajin ngobrol sama anak dan peka kalau perilakunya berubah. Ketiga, kita dan media jangan nyebarin identitas anak atau video kekerasannya. Keempat, kita semua harus berani negur, lapor, dan dampingin korban, bukan malah ikut ketawain.

Sekolah itu harusnya jadi tempat anak tumbuh, bukan tempat anak ketakutan. Dan itu tugas kita bareng-bareng.