Aneu Nursifah : Dari Jawa Barat untuk Demokrasi Indonesia

Sekretaris Jenderal PB PII, aktivis pelajar dan pengusaha. Memiliki perhatian pada pendidikan, kepemudaan, demokrasi, ekonomi, kewirausahaan, dan kebijakan publik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Atqiya Fadhil Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, Pengalaman penyelenggaraan pemilu di tingkat daerah menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi Indonesia yang semakin matang. Dari Jawa Barat, Aneu Nursifah menjadi salah satu figur perempuan yang aktif mengambil peran dalam penyelenggaraan pemilu, khususnya pada bidang hukum dan pengawasan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Presidium Pelajar Nasional (PPN) dalam Diskusi Nasional bertajuk “Mengawal RUU Pemilu, Memperkuat Partisipasi Generasi Muda, dan Menatap Demokrasi 2029” yang digelar di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Aneu Nursifah merupakan Anggota KPU Provinsi Jawa Barat periode 2024–2028 dan dipercaya sebagai Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan. Dalam kapasitas tersebut, Aneu terlibat dalam berbagai agenda penguatan hukum kepemiluan, pengawasan, tata kelola kelembagaan, serta evaluasi penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada.
Bagi PPN, pengalaman di tingkat provinsi memiliki arti penting dalam melihat bagaimana demokrasi bekerja secara konkret. Penyelenggaraan pemilu bukan hanya berbicara mengenai tahapan dan pemungutan suara, tetapi juga menyangkut hukum, pengawasan, kelembagaan, integritas, serta kemampuan penyelenggara dalam menghadapi berbagai dinamika di lapangan.
Sekretaris Jenderal PB PII, Atqiya Fadhil Rahman, mengatakan pengalaman Aneu di Jawa Barat memberikan perspektif yang menarik bagi generasi muda untuk memahami kerja-kerja kepemiluan secara lebih dekat.
“Teh Aneu menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya dibicarakan dari ruang-ruang akademik atau politik, tetapi juga dijalankan melalui kerja kelembagaan yang membutuhkan ketelitian, integritas dan tanggung jawab. Pengalaman beliau di Jawa Barat menjadi pengalaman berharga yang relevan untuk dibaca dalam konteks demokrasi Indonesia,” ujar Atqiya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PB SEPMI, Reza Firdaus. Menurutnya, generasi muda perlu mengenal lebih banyak figur yang memiliki pengalaman langsung dalam penyelenggaraan demokrasi.
“Bagi pelajar, penting untuk melihat bahwa demokrasi memiliki banyak ruang pengabdian. Salah satunya melalui penyelenggaraan pemilu. Pengalaman Teh Aneu di Jawa Barat memberikan gambaran kepada generasi muda bahwa kerja demokrasi membutuhkan kapasitas, ketekunan dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab,” ujar Reza.
Dalam sejumlah agenda KPU Jawa Barat, Aneu juga tercatat aktif mendorong penguatan tata kelola kelembagaan, optimalisasi JDIH, pengawasan internal, pembangunan zona integritas, serta evaluasi terhadap pengalaman penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada.
Pengalaman tersebut menjadi modal pengetahuan yang dibawa dari Jawa Barat dalam percakapan yang lebih luas mengenai masa depan demokrasi Indonesia.
Bagi Presidium Pelajar Nasional, ruang dialog seperti ini penting untuk mempertemukan pengalaman penyelenggara pemilu dengan perspektif generasi muda. Dengan demikian, pelajar tidak hanya memahami pemilu sebagai momentum lima tahunan, tetapi juga memahami bagaimana demokrasi dibangun, dijaga, dan dikembangkan melalui kerja-kerja kelembagaan.
“Jawa Barat punya banyak pengalaman dalam penyelenggaraan pemilu. Pengalaman itu tentu menjadi bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia. Dan kami melihat Teh Aneu sebagai salah satu figur yang membawa pengalaman tersebut ke ruang dialog bersama generasi muda,” tutup Reza.
